Bibit Weekly – Defisit APBN Melebar ke 1,24% PDB

Market Summary

  • Serangan Houthi ke Arab Saudi Dorong Harga Minyak: Harga minyak naik +2,4% WoW pekan lalu dan berlanjut naik pada Senin (12/10). → Harga minyak yang masih tinggi membuat peluang The Fed naikkan suku bunga tahun ini masih terbuka.

  • Defisit APBN 9M26 Melebar ke 1,24% PDB: Defisit melebar seiring percepatan belanja, Menkeu Suahasil dikabarkan memerintahkan pemangkasan belanja non-esensial. → Disiplin fiskal menjadi penting bagi pasar obligasi di tengah ketidakpastian kondisi global.

  • Status FTSE Indonesia Tetap: Indonesia tetap berstatus secondary emerging market dan tidak masuk watchlist FTSE Russell. → Ketidakpastian sedikit mereda, meski arah foreign flow masih menunggu pengumuman MSCI pada November 2026.

Market Update
Yield Obligasi Pemerintah Tenor 10 Tahun Naik ke ~7,2% Meski Foreign Flow Obligasi Mingguan Positif
Latest Update (9/10/2026)
Indikator Nilai Perubahan
IHSG 6.093,8
WoW ▲ +0,94%
YtD ▼ -29,53%
IDR 10Y Govt Bond Yield 7,21%
WoW ▲ +4 bps
YtD ▲ +114 bps
Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln 4,22%
WoW ▲ +12 bps
YtD ▲ +51 bps
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
Aset 1W 1M YtD
Obligasi +4,13 -3,50 +33,54
Saham -2,46 -17,92 -87,54
Sumber: Bloomberg, data all market per 9 Oktober 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 8 Oktober 2026.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent naik lebih dari +6% dalam tiga sesi perdagangan hingga Senin (12/10), seiring meluasnya konflik di Timur Tengah, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang bandara utama Arab Saudi dan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz meningkat. 

    • Sepanjang pekan lalu, harga minyak Brent naik sekitar +2,4% WoW ke level US$104,7/barrel, seiring laporan bahwa AS menyiapkan opsi serangan terhadap Iran. Harga bertahan di level tinggi meski Presiden Trump menyatakan AS tidak akan menyerang Iran menjelang midterm election pada November 2026.

  • Rilis FOMC minutes pada Rabu (7/10) waktu setempat untuk pertemuan September 2026 menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed menilai kenaikan suku bunga lanjutan kemungkinan diperlukan hingga akhir 2026.

  • Kementerian Keuangan mencatat bahwa defisit APBN selama 9M26 mencapai Rp319 T atau setara 1,24% terhadap PDB (vs 8M26: defisit 0,93% terhadap PDB, 9M25: defisit 1,55% terhadap PDB), melebar seiring akselerasi belanja negara pada September 2026. Pemerintah mempertahankan outlook defisit 2026 di level 2,85% terhadap PDB.

    • Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, dikabarkan memerintahkan kementerian dan lembaga untuk memangkas sisa anggaran perjalanan dinas sebesar 30% dan membekukan belanja non-esensial hingga akhir 2026, guna menjaga defisit tetap di bawah batas 3% terhadap PDB.

  • Bank Indonesia merilis sejumlah data untuk periode September 2026:

    • Cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 turun ke level US$146,3 miliar (vs Agustus 2026: US$146,5 miliar), dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

    • Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun secara bulanan ke level 118,1 pada September 2026 (vs Agustus 2026: 118,5, September 2025: 115).

  • FTSE Russell menyatakan pada Selasa (6/10) bahwa status Indonesia sebagai secondary emerging market tidak berubah dan Indonesia tidak masuk dalam watchlist. FTSE Russell akan memberikan pembaruan menjelang index review pada Desember 2026.

    • Danantara menyatakan dapat masuk ke pasar saham domestik saat terjadi tekanan pasar, jika langkah tersebut masuk akal dari sisi investasi. Pernyataan ini disampaikan menjelang pengumuman klasifikasi pasar oleh MSCI pada November 2026.

What’s the Impact?

Secara Global: 

Kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, walau kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Selat Hormuz sempat mereda sebelumnya. Selama eskalasi konflik di kawasan tersebut masih berlanjut, harga minyak berpotensi tetap bertahan di level tinggi dalam waktu dekat.

Kondisi ini dapat membuat inflasi AS lebih sulit turun dan memperkuat alasan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, sesuai pandangan sebagian besar pejabatnya dalam FOMC minutes terbaru. Berdasarkan CME FedWatch per Senin (12/10), peluang kenaikan suku bunga pada FOMC Oktober berada di kisaran 18%, turun dari ~70% pasca keputusan FOMC September. Menurut Bloomberg, penurunan ini terjadi menyusul pernyataan sejumlah pejabat The Fed sebelum rilis FOMC minutes bahwa bank sentral masih punya waktu untuk menilai kondisi ekonomi. Dengan demikian, arah kebijakan The Fed ke depan akan lebih bergantung pada data ekonomi AS berikutnya.

Untuk Indonesia:

Bagi Indonesia, harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi menambah beban APBN, di tengah defisit yang mulai melebar seiring percepatan belanja negara. Instruksi Menteri Keuangan untuk memangkas belanja non-esensial menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menjaga defisit tetap di bawah batas maksimal. Disiplin fiskal ini penting bagi pasar obligasi, terutama karena yield obligasi pemerintah masih naik pekan lalu meski foreign flow masih tercatat positif.

Di pasar saham, kepastian status Indonesia di FTSE Russell mengurangi satu sumber ketidakpastian, meski investor asing masih mencatatkan foreign outflow sekitar -Rp2,5 T WoW. Pernyataan Danantara bahwa pihaknya dapat masuk saat pasar tertekan berpotensi menjadi penopang menjelang pengumuman klasifikasi pasar oleh MSCI.

Why Should I Care?

Bagi investor, pekan lalu IHSG sempat mencatatkan kenaikan mingguan pertama setelah turun empat minggu berturut-turut. Namun, IHSG kembali tertekan pada Senin (12/10), turun -2,59% menyusul rumor investigasi OJK terkait dugaan manipulasi harga saham. Sementara itu, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun kembali naik ke kisaran 7,2%, atau +114 bps sejak awal tahun, sehingga harga obligasi masih relatif tertekan.

Harga minyak yang bertahan tinggi membuat The Fed cenderung masih membuka ruang kenaikan suku bunga, sementara di dalam negeri pemerintah perlu menjaga defisit di tengah belanja APBN yang meningkat. Bagi pasar obligasi, kombinasi ini membuat yield sulit turun dalam waktu dekat. Investor asing memang kembali mencatatkan foreign inflow pekan lalu. Namun, selisih yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun dengan US Treasury tenor serupa yang menyempit ke kisaran 197 bps per Jumat (9/10) berpotensi mempengaruhi minat investor asing ke depan.

Bagi pasar saham, rumor investigasi OJK berpotensi menekan sentimen dalam jangka pendek hingga ada kejelasan lebih lanjut. Kesiapan Danantara untuk masuk saat pasar tertekan dapat meminimalisasi penurunan yang lebih dalam, tetapi pemulihan yang lebih berkelanjutan masih membutuhkan kembalinya foreign inflow.

Ke depan, investor perlu mencermati perkembangan konflik AS–Iran menjelang midterm election pada November 2026 serta keputusan FOMC Oktober. Selain itu, pengumuman klasifikasi pasar oleh MSCI pada November 2026 juga penting untuk dipantau, karena hasilnya berpotensi menentukan arah foreign flow di pasar saham dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.

Dengan yield obligasi pemerintah yang masih naik dan pasar saham yang masih mencatatkan foreign outflow, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat dipertimbangkan untuk mendiversifikasi eksposur terhadap rupiah.

Sementara itu, SBN Retail SBR015 dengan skema kupon floating with floor return (return akan naik jika BI Rate naik, namun tidak turun di bawah batas minimal) dapat membantu menjaga stabilitas nilai investasi sekaligus memberikan passive income rutin bulanan. 

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest Money Market USD

Return
+12,14%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,69%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+11,52%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,11%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 12 Oktober 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,84%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,55%
Return reksa dana per 12 Oktober 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

SBR015: Minimum Return 6,75% p.a., Passive Income Bulanan hingga Jatuh Tempo

Masa penawaran SBN SBR015 hingga 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB

Modal

Imbal hasil Bulanan
SBR015-T2
(Tenor 2 Tahun)

Imbal hasil Bulanan
SBR015-T4
(Tenor 4 Tahun)

Rp10 Juta

Rp50.625

Rp51.372

Rp50 Juta

Rp253.125

Rp256.860

Rp100 Juta

Rp506.250

Rp513.720

Rp500 Juta

Rp2.531.250

Rp2.568.600

Rp1 Miliar

Rp5.062.500

Rp5.137.200

Rp5 Miliar

Rp25.312.500

Rp25.686.000

* Imbal hasil bulanan berdasarkan imbal hasil minimum (floating with floor). Minimum pembelian Rp1.000.000. Kupon dibayar setiap bulan, sudah net setelah dipotong pajak (10%).

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.


In Case You Missed It 

⬆️ Return SBN SBR015 Ikut Naik Jika BI Rate Naik, Cek Simulasinya – SBN Savings Bond Ritel SBR015 menjadi investasi yang menarik di tengah ketidakpastian arah suku bunga, karena ada return (kupon) floating with floor: Jika BI Rate naik, maka return SBR015 otomatis akan ikut naik. Jika BI Rate turun, return tidak akan turun dari batas minimumnya.

💰 Bibit Insights: Mulai Lebih Awal, Investasi Bulanan Lebih Ringan – Dua faktor yang paling menentukan dalam mencapai goals investasi adalah waktu dan konsistensi. Semakin dini kamu mulai, semakin ringan modal bulanan yang dibutuhkan untuk mencapai target yang sama.

Other Articles 

🔧 ISSP: Double Profits in the Pipeline – Laba bersih berpotensi tumbuh +40% CAGR pada 2026-2028F didorong oleh kenaikan volume, margin serta operating leverage dari kehadiran pabrik baru. Potensi upside +44% dengan potensi dividend yield 10% mulai tahun buku 2027F.

💸 APBN Cetak Defisit 1,24% terhadap PDB per 9M26 – Kementerian Keuangan pada Jumat (9/10) mengumumkan bahwa defisit APBN selama 9M26 mencapai Rp319 T atau setara 1,24% terhadap PDB (vs. 8M26: defisit 0,93% terhadap PDB, 9M25: defisit 1,55% terhadap PDB).

🏭 Pemerintah Buka Peluang Pembatasan Produksi Smelter Nikel – Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa pihaknya membuka opsi pengetatan moratorium smelter nikel yang menghasilkan produk setengah jadi.