Timeline Pergerakan IHSG
IHSG telah turun -23,1% dari level all–time high di ~9.135 pada 20 Januari 2026 ke level ~7.022 pada hari terakhir perdagangan bursa sebelum periode libur Lebaran (16 Maret 2026).
Penurunan ini didorong oleh 3 hal dalam waktu kurang dari 3 bulan, yakni:
Pembekuan sementara oleh MSCI untuk indeks Indonesia.
Perang AS–Iran yang mengerek harga minyak naik lebih dari +40% akibat penutupan Selat Hormuz.
Meningkatnya risiko fiskal Indonesia seiring asumsi APBN terkait harga minyak dan kurs yang terlampaui.
Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, penting untuk melihat data historis sebagai perspektif.
Apakah IHSG Bisa Turun Lebih Dalam?
Per 31 Maret 2026, IHSG diperdagangkan pada valuasi 10,9x 1–Year Forward P/E, sekitar -2 Standard Deviation di bawah rata–rata historis 15 tahun. Level ini merupakan yang terendah sejak ‘pandemi Covid-19 2020’ dan ‘selloff Liberation Day 2025.’
Berdasarkan data Bloomberg sejak 2000, penurunan dari peak ke bottom (drawdown) sebesar -23% pada kali ini berada di kisaran yang sama dengan saat ‘Taper Tantrum 2013’ (-24%), ‘China Scare 2015’ (-25%), dan ‘selloff Liberation Day 2025’ (-25%). Jika pola yang sama terjadi, hal ini mengindikasikan bahwa IHSG sudah berada/mendekati area bottom.
Secara historis, penurunan lanjutan yang signifikan lebih dari 24–25% hanya terjadi pada episode ‘Dot–com Bust awal 2000’ (-52%), ‘Global Financial Crisis 2008’ (-61%), dan ‘pandemi COVID-19 2020’ (-38%), di mana ketiganya merupakan krisis yang berskala jauh lebih besar.
Apa yang Perlu Dicermati ke Depan?
Durasi penutupan Selat Hormuz dan arah pergerakan harga minyak. Jika negosiasi AS–Iran tidak tercapai dan perang berlangsung secara berkepanjangan dan/atau memanas, risiko terhadap perekonomian baik global maupun domestik menjadi semakin besar.
Kemampuan/inisiatif pemerintah untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap PDB.
Deadline reformasi pasar modal Indonesia terkait MSCI pada Mei 2026.
Apa yang Bisa Dilakukan Investor?
Meski valuasi IHSG sudah murah secara historis, penting bagi investor yang sudah memiliki posisi untuk mengevaluasi saham yang dimiliki: apakah alasan membelinya masih valid dan apakah fundamentalnya berpotensi terdampak signifikan oleh kondisi saat ini, terutama dari sisi dampak kenaikan harga minyak terhadap laba bersih.
Sementara itu, bagi investor jangka panjang, koreksi pasar secara historis dapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan saham berkualitas pada harga yang lebih murah.
Dengan situasi geopolitik dan sentimen pasar yang dapat berubah dengan cepat, instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang dan SBN Retail dapat menjadi salah satu cara untuk membantu meningkatkan stabilitas portofolio.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
*Return reksa dana per 31 Maret 2026. Reksa dana bertanda petir bisa dicairkan instan. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
SBN SR024: Return Stabil Anti Turun, Passive Income Bulanan
Kamu bisa beli SBN SR024 di Bibit hingga 15 April 2026 pukul 12.00 WIB. SR024 memberikan fixed rate return yang anti turun hingga jatuh tempo. Tersedia dalam 2 pilihan tenor sebagai berikut:
SR024-T3: tenor 3 tahun dengan fixed rate return 5,55% per tahun
SR024-T5: tenor 5 tahun dengan fixed rate return 5,90% per tahun
Return SR024 dikirim setiap bulan ke rekening kamu, bisa jadi sumber passive income rutin bulannan. Berikut simulasinya.
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
