Bibit Weekly – IHSG Trading Halt Dua Kali

Market Summary

  • MSCI Bekukan Sejumlah Perubahan Terkait Indeks Review: IHSG sempat anjlok dan mengalami trading halt pada perdagangan intraday Rabu (28/1) dan Kamis (29/1). → potensi reklasifikasi Indonesia ke Frontier Market menyebabkan kekhawatiran foreign outflow dari pasar saham Indonesia.

  • Trump Umumkan Calon Ketua The Fed Pilihannya: Trump umumkan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai calon ketua The Fed. → USD menguat dan emas melemah, dipicu ekspektasi The Fed lebih hawkish di bawah kepemimpinan Warsh.

  • The Fed Pertahankan Suku Bunga: The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga AS di kisaran 3,5–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus. → ruang pemangkasan BI rate berpotensi masih terbatas.

MARKET UPDATE
Foreign Outflow Saham Mingguan Capai Rp13,9 Triliun
Latest Update (30/01/2026)
Latest Week on Week (WoW) Year to Date (YtD)
IHSG 8.329,6 ▼ -6,37% ▼ -3,67%
IDR 10Y Govt Bond Yield 6,33% ▼ -6 bps ▲ +26 bps
Rata-rata bunga deposito 12 bulan 3,65% ▼ -6 bps ▼ -5 bps
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
Foreign Flow 1W Foreign Flow 1M Foreign Flow YtD
Obligasi -2,01 +2,47 +2,47
Saham -13,94 -9,87 -9,87
Sumber: Bloomberg per 30 Januari 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 29 Januari 2026.

What Happened in the Market

  • IHSG sempat anjlok -10,1% dan kembali memicu trading halt pada perdagangan intraday hari Kamis (29/1), sebelum ditutup di level 8.232,2 (-1,1%).

    • Rebound tersebut didorong oleh pengumuman dari self–regulatory organization (SRO) mengenai sejumlah langkah yang akan diambil untuk merespons MSCI terkait kekhawatiran investability di pasar Indonesia, mencakup komitmen transparansi data kepemilikan emiten, rencana menemui MSCI secara langsung, dan menaikan aturan free float dari 7,5% ke 15%.

    • Sehari sebelumnya, IHSG juga anjlok -8,8% dan memicu trading halt pada perdagangan intraday hari Rabu (28/1), sebelum ditutup di level 8.320,6 (-7,3%).

    • Penurunan selama dua hari ini ditekan oleh pengumuman kebijakan sementara MSCI terkait perlakuan untuk pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan terkait review indeks (termasuk review indeks Februari 2026).

    • Jika peningkatan transparansi tidak tercapai hingga Mei 2026, MSCI akan menilai ulang status aksesibilitas pasar Indonesia, yang berpotensi menurunkan bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes dan potensi reklasifikasi dari status Emerging Market menjadi Frontier Market.

  • Sejumlah pejabat OJK dan BEI mengundurkan diri di tengah isu MSCI tersebut.

    • OJK mengumumkan penunjukkan Friderica Widyasari Dewi dan Hasan Fawzi sebagai pejabat pengganti anggota dewan komisioner (ADK) usai Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi mengundurkan diri.

    • BEI akan mengumumkan pejabat sementara (Pjs) direktur utama segera usai pengunduran diri Iman Rachman.

Baca lebih lanjut terkait  perkembangan MSCI dan respons regulator Indonesia di sini:

Bank Sentral AS, The Fed, pada Rabu (10/12) waktu setempat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus.

  • Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai calon ketua The Fed berikutnya yang akan menggantikan ketua saat ini, Jerome Powell, setelah masa jabatannya berakhir pada Mei 2026.

    • Menyusul pengumuman tersebut, pasar berekspektasi arah kebijakan moneter The Fed akan lebih hawkish, sehingga menekan daya tarik aset safe haven seperti emas.

    • Harga emas di pasar spot turun sekitar -15% dalam 2 hari perdagangan terakhir dari level US$5.375/oz pada pembukaan Jumat (30/1) ke US$4.586/oz pada Senin (2/2) pagi, sebelum bergerak di kisaran US$4.600–4.700/oz.

    • Indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 96,3 per Jumat (30/1) setelah sempat turun ke level terendah sejak Februari 2022 di 95,6 pada Selasa (27/1). 

What’s the Impact?

Secara Global: Dipertahankannya suku bunga The Fed sejalan dengan ekspektasi pasar. Hal ini melanjutkan sikap wait-and-see The Fed di tengah kondisi ekonomi AS masih solid dengan risiko terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja yang menurun, mengindikasikan belum adanya urgensi untuk menurunkan suku bunga dalam jangka waktu dekat. 

Namun, perhatian utama kini beralih pada Kevin Warsh yang merupakan calon pilihan Presiden AS Trump untuk menggantikan Powell sebagai kepala The Fed. Warsh sendiri memiliki jejak sebagai figur yang fokus pada pengendalian inflasi dan cenderung berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter (hawkish).

Untuk Indonesia: IHSG mengalami dua kali trading halt akibat pengumuman MSCI terkait  kebijakan sementara untuk pasar Indonesia. Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar lebih dari ~Rp218 triliun jika status pasar Indonesia diturunkan dari emerging market menjadi frontier market. Seiring pengumuman tersebut, pasar saham Indonesia mengalami foreign outflow sebesar Rp10,6 triliun pada Rabu (28/1) hingga Kamis (29/1). Meski demikian, pengumuman OJK–BEI mengenai sejumlah langkah yang akan diambil untuk merespons MSCI membantu mendorong IHSG kembali rebound. 

Why Should I Care?

Secara global, sebelumnya harga emas menguat dan indeks dolar AS melemah ditekan oleh berbagai isu, mulai dari arah suku bunga The Fed, isu independensi The Fed, hingga peningkatan defisit fiskal AS. Namun, sentimen tersebut mulai berbalik karena pasar menilai calon ketua The Fed yang baru akan cenderung lebih ketat. Berdasarkan data CME Fedwatch Tool, terdapat probabilitas 33,3% terjadinya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed hingga akhir tahun.

Untuk Indonesia, market merespons positif penjabaran langkah–langkah dari OJK dan BEI untuk menanggapi concern MSCI, yang menunjukkan urgensi untuk menyelesaikan persoalan ini. Namun, investor tetap perlu memantau perkembangan selanjutnya dengan ketat, di mana OJK dan BEI sendiri menargetkan penyelesaian pada Maret 2026.

Kami menilai bahwa investor — setidaknya dalam waktu dekat — dapat berfokus pada saham–saham dengan fundamental solid, terutama yang tidak termasuk dalam indeks MSCI Indonesia sehingga memiliki risiko yang lebih terbatas. Dalam waktu dekat, kita juga akan memasuki musim pembagian dividen (mulai April 2026), sehingga koreksi harga saham bisa dijadikan peluang dividend play oleh investor.

Investor dapat mempertimbangkan berinvestasi di Big 4 Banks, di mana Himbara menawarkan dividend yield hingga ~8% dan BBCA sebesar ~4% untuk tahun buku 2026F. Untuk tahun buku 2025, beberapa bank sudah membayar dividen interim, dengan estimasi dividend yield final masing-masing bank per 29 Januari 2026 sebagai berikut: 

*Sumber: Stockbit Analyst Team, Bloomberg, per 30 Januari 2026

Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit 

Return Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit per 30 Januari 2026

*Return reksa dana per 30 Januari 2026. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. 

Top Reksa Dana Obligasi di Bibit

Return Top Reksa Dana Obligasi di Bibit per 30 Januari 2026

*Return reksa dana per 30 Januari 2026. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. 

Kinerja Saham Perbankan dalam 5 Tahun Terakhir

Kinerja Saham BMRI, BBCA per 30 Januari 2026 dalam 5 Tahun Terakhir

Data saham per 30 Januari 2026, memperhitungkan price return dan dividend.

Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. 

Investasi di Bibit

SBN ORI029: Fixed Return hingga 5,80% p.a. dan Cair Tiap Bulan 

Beli ORI029 di Bibit

Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research. 

In Case You Missed It

📊Market Volatil: Terapkan Strategi All Weather Portofolio – Strategi ini bertujuan agar portofolio investasi  tetap bisa bertahan di berbagai kondisi market. Dalam strategi ini, Ray Dalio mendiversifikasikan aset dalam 4 kategori utama: inflation linked securities, saham, obligasi, dan komoditas.

📦Unboxing Reksa Dana Obligasi Return Historis Tertinggi 5 Tahun Terakhir di Bibit – Reksa Dana ini berisi obligasi syariah dengan komposisi 93,71% Efek Syariah Berpendapatan Tetap. Kinerja historis cenderung uptrend secara stabil dalam jangka pendek maupun panjang dengan drawdown yang moderat

Other Articles 

🏦 Indo Banks: Capturing Momentum Reversal with ~8% Dividend Cushion – Titik terendah kinerja Big 4 Banks telah terlewati dan momentum mulai berbalik positif, membuka peluang pemulihan level valuasi di tengah potensi dividend yield hingga ~8%. Top picks: BBCA dan BMRI.

🤑 BBCA 2025: Laba Bersih +5% YoY, Sesuai Ekspektasi BBCA mencatat laba bersih Rp14,1 T pada 4Q25 (-2% QoQ, +3% YoY). Hasil ini membuat realisasi laba bersih selama 2025 mencapai Rp57,5 T (+5% YoY), sejalan dengan ekspektasi karena setara ~100% estimasi 2025F konsensus.