Mini Unboxing BBCA: Fundamental Tangguh dengan Dividen ~5% per Tahun

BBCA: Bank Swasta Terbesar Berdasarkan Total Aset di Indonesia

Bank BCA (BBCA) merupakan bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan total aset, dengan fokus pada segmen corporate dan consumer. 

  • Per Desember 2025, total kredit BBCA mencapai Rp993 triliun, merepresentasikan ~11,8% dari total kredit domestik.

  • BBCA memiliki keunggulan basis pendanaan yang murah (low-cost funding) berkat franchise transaction banking yang kuat. Hal ini terefleksi dari rasio Cost of Fund sebesar 1,1% per Desember 2025, terendah di antara Big-4 Banks di Indonesia.

Loan Breakdown • Dec 2025

Loan Breakdown Chart
BBCA menghasilkan keuntungan dari:
%
Selisih Bunga (Net Interest Income)
Menerima deposit nasabah & menyalurkan kredit dengan bunga lebih tinggi. Pada 2025, Net Interest Income menyumbang ~77% pendapatan operasional.
$
Pendapatan Berbasis Biaya (Fee-based)
Biaya layanan administrasi & transaksi. Pada 2025, Fee-based Income ~19% pendapatan operasional.

Prospek Kinerja BBCA hingga Risiko

BBCA mencatatkan laba bersih +5% YoY pada 2025 di saat ketiga Big-4 Banks lain mencatatkan pertumbuhan laba negatif/flat sehingga kembali menjadi tahun pembuktian bagi ketangguhan fundamental BBCA.

  • Laba bersih diproyeksikan tumbuh +7% YoY pada 2026, berdasarkan estimasi konsensus. Ekspektasi kinerja ini akan didorong utamanya oleh pertumbuhan kredit yang ditargetkan sebesar +8–10% YoY (vs. 2025: +8% YoY).

  • Manajemen optimis bahwa volume pertumbuhan kredit yang kuat dapat mengkompensasi Net Interest Margin yang lebih rendah di level 5,4–5,6% (vs. 2025: 5,7%) seiring dengan berlanjutnya efek penurunan suku bunga BI, terutama pada suku bunga kredit.Untuk beban pencadangan, manajemen menargetkan Cost of Credit (Coc) relatif stabil pada 2026 di level 0,4-0,6% (vs. 2025: 0,5%).

Risiko Utama:

Perlambatan ekonomi dapat menekan pertumbuhan kredit dan berpotensi meningkatkan kredit bermasalah. 

Bagaimana dengan Valuasi BBCA Saat ini?

Saham perbankan umumnya dinilai menggunakan Price-to-Book Value (PBV). Per 20 Februari 2026, BBCA diperdagangkan pada valuasi ~2,9x 1-Year Forward PBV, di bawah rata-rata (mean) historisnya selama 10 tahun, yakni ~3,8x PBV. Kami menilai saat ini merupakan momentum yang tepat untuk akumulasi.

  • Secara historis, BBCA konsisten membagikan dividen selama 17 tahun berturut-turut (tahun buku 2009-2024). Berdasarkan estimasi konsensus, BBCA diproyeksikan menghasilkan laba per saham sebesar Rp501 dari tahun buku 2026. Dengan asumsi rasio pembagian dividen sebesar 70% (rata-rata 3 tahun terakhir: 66%), potensi dividen tahun buku 2026 adalah Rp350 per saham. Pada harga Rp7.225 per 20 Februari 2026, potensi dividend yield mencapai ~4,9% per tahun.

  • Meski tidak setinggi dividend yield yang ditawarkan oleh bank BUMN besar seperti BMRI, BBRI dan BBNI, kami menilai ketangguhan fundamental BBCA memberikan faktor kepastian yang lebih tinggi atas kestabilan prospek dividen yang dihasilkan.

  • Meskipun rasio pembagian dividen BBCA tidak pernah lebih rendah dari 60% dalam 3 tahun terakhir (tahun buku 2022-2024), rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) BBCA stabil di level yang sangat tinggi, yakni hampir 30%. Hal ini menunjukkan kapasitas BBCA untuk tetap membagikan dividen minimal 60% tanpa mengganggu permodalan untuk bertumbuh.

Potensi Capital Gain BBCA

Dengan asumsi BBCA dapat kembali diperdagangkan pada valuasi mean (PBV 3,8x), terdapat potensi capital gain sekitar +31%.

Dalam 3 tahun ke depan (2025-2028), laba bersih BBCA diproyeksikan tumbuh dengan CAGR +8,2%, berdasarkan estimasi konsensus, yang mana merupakan potensi upside lain di luar upside valuasi.

Saham Ini Cocok untuk Siapa?

BBCA bisa menjadi pertimbangan bagi investor yang:

Mencari alternatif passive income dari dividen, dengan potensi yield lebih tinggi dari bunga deposito yang dijamin LPS (3,5% p.a.).

Tetap ingin potensi capital gain dari prospek pertumbuhan bisnis yang moderat (5-15% per tahun).

Writer: Bibit Investment Research Team

Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Bibit, melainkan menjadi tanggung jawab masing–masing nasabah. Always do your own research.