Bibit Weekly – BI Naikkan Suku Bunga +50 bps ke 5,25%

Market Summary

  • BI Rate Naik +50 bps ke 5,25%: Kenaikan jauh lebih agresif dari ekspektasi konsensus (+25 bps). → BI memprioritaskan stabilitas nilai tukar di atas pelonggaran kebijakan.

  • IHSG Turun -8,35% WoW ke Level 6.162: Pelemahan didorong oleh tekanan rupiah dan ketidakpastian kebijakan ekspor komoditas. → volatilitas jangka pendek berpotensi berlanjut, terutama di sektor komoditas.

  • Harga Minyak Turun -5,6% ke ~US$97,7/Barrel: Negosiasi AS-Iran mendorong harapan resolusi yang membuka Selat Hormuz secara bertahap. → tekanan inflasi global sedikit mereda, namun resolusi belum bersifat final.

What Happened in the Market

  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI Rate sebesar +50 bps ke level 5,25% untuk memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah, di luar ekspektasi konsensus yang hanya memperkirakan kenaikan +25 bps. 

    • BI mempertahankan outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran +4,9–5,7% YoY (vs realisasi 2025: +5,11%) pada tahun ini, di mana pertumbuhan diperkirakan akan tetap kuat seiring dukungan belanja pemerintah.

  • IHSG ditutup menguat +1,1% ke level 6.162 pada Jumat (22/5), meski masih mencatat penurunan -8,35% WoW dan -32,4% dari puncaknya di level 9.120,2 pada penutupan bursa 20 Januari 2026.

    • IHSG melemah di tengah tekanan rupiah yang telah melemah 1,4% WoW ke level 17.709 per Jumat (22/5), sentimen rebalancing indeks global, dan ketidakpastian seputar rencana tata kelola ekspor komoditas SDA strategis.

  • Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (20/5) mengumumkan peraturan baru terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis, yang akan mewajibkan ekspor komoditas melalui BUMN bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia.

    • S&P dan Moody's memberikan peringatan terhadap rencana pengendalian ekspor komoditas secara terpusat. S&P menyebut kebijakan ini berpotensi menciptakan ketidakpastian downside yang lebih besar terhadap rating Indonesia, sementara Moody's menilai kebijakan ini negatif bagi sektor pertambangan dan dapat membebani sentimen investor terhadap lingkungan kebijakan yang lebih luas.

Baca lebih lanjut terkait rencana tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis:

- Presiden Umumkan Aturan Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA

Ambiguitas Pemberitaan Aturan Sentralisasi Ekspor Picu Volatilitas Market

  • Kementerian Keuangan pada Selasa (19/5) mengumumkan defisit APBN 2026 per April 2026 mencapai Rp164,4 triliun (0,64% terhadap PDB). Defisit tersebut melebar dibandingkan realisasi APBN 2025 per April 2025 (surplus 0,02% terhadap PDB), meski membaik dibandingkan realisasi APBN 2026 per Maret 2026 (defisit 0,93% terhadap PDB).

    • Menkeu Purbaya mengatakan bahwa pemerintah telah memangkas pagu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada APBN 2026 dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun.

    • Menkeu Purbaya pada Selasa (19/5) juga mengatakan telah memerintahkan kementeriannya untuk menghabiskan Rp2 triliun per hari guna melakukan intervensi di pasar obligasi mulai pekan ini dalam upaya menstabilkan harga.

  • Harga minyak Brent turun sekitar -5,6% ke level sekitar ~US$97,7/barrel pada Senin (25/5) pagi, didorong oleh harapan kesepakatan AS–Iran untuk mengakhiri perang dan membuka Selat Hormuz secara bertahap:

    • Trump menyebut dirinya tidak akan terburu-buru mencapai kesepakatan yang belum sepenuhnya dinegosiasikan, sementara AS disebut masih akan menerapkan blokade di Selat Hormuz.

    • Sejumlah isu krusial belum terselesaikan, termasuk persediaan enriched uranium Iran dan pencairan dana yang dibekukan sanksi AS, mengindikasikan negosiasi masih dalam tahap awal.

What’s the Impact?

Secara Global: Perkembangan negosiasi AS–Iran yang belum mencapai kesepakatan final menciptakan dinamika wait-and-see di pasar komoditas energi global. Meski pernyataan Presiden Trump mendorong ekspektasi resolusi cepat dan menekan harga minyak, hambatan substansial — termasuk isu stok uranium dan kontrol Selat Hormuz — mengindikasikan bahwa volatilitas harga energi berpotensi bertahan. 

Pasar cenderung bereaksi cepat terhadap setiap pernyataan dari kedua pihak, sehingga pergerakan harga minyak dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi berikutnya.

Untuk Indonesia: Kenaikan BI rate sebesar +50 bps menandakan pergeseran stance BI dari pro growth menjadi stability, meski BI menegaskan pertumbuhan ekonomi 2026 tetap diproyeksikan berada dalam sasaran. Langkah ini ditambah intervensi Kemenkeu untuk menstabilkan pasar obligasi yang berpotensi menopang rupiah dalam jangka pendek.

Namun, kebijakan ekspor komoditas terpusat melalui Danantara menambah ketidakpastian. S&P dan Moody's memperingatkan dampak negatifnya terhadap rating Indonesia dan sentimen investor, berpotensi memperpanjang tekanan pada pasar modal dalam waktu dekat.

Why Should I Care?

Minggu ini mungkin terasa berat bagi investor di Indonesia. IHSG mengalami penurunan -8,35% WoW, kinerja obligasi (INDOBeX) turun -0,32% WoW, di tengah pelemahan rupiah ke level 17.709 per dolar AS. BI akhirnya mengambil langkah menaikkan suku bunga yang lebih agresif dari ekspektasi pasar.

Sementara itu, kebijakan baru terkait tata kelola ekspor komoditas menambah lapisan ketidakpastian. Wajar jika kondisi ini terasa membingungkan.

Kenaikan BI Rate sebesar +50 bps ke level 5,25% mencerminkan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah laju pelemahan kurs yang terjadi belakangan, baik karena faktor domestik maupun ketidakpastian geopolitik. BI menegaskan langkah ini tidak akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi; likuiditas tetap dijaga memadai dan perbankan diminta tidak menaikkan suku bunga kredit.

Yang perlu dicermati: perkembangan negosiasi AS-Iran yang akan menentukan arah harga energi global, serta detail implementasi kebijakan ekspor komoditas di bawah Danantara yang telah mendapat perhatian dari lembaga rating global dan berpotensi mempengaruhi sentimen investor terhadap pasar saham.

Di tengah kondisi seperti ini, memastikan alokasi aset portofolio sudah sesuai profil risiko dan tujuan investasi dapat membantu investor tidur tenang meski pasar bergerak cepat. Dua instrumen yang dapat digunakan untuk diversifikasi:

  • Reksa Dana Pasar Uang USD — opsi defensif untuk diversifikasi dari pelemahan rupiah.

  • SBN Retail ST016 — imbal hasil floating with floor, berarti ikut naik jika BI Rate naik, tapi anti turun dari imbal hasil minimumnya. Imbal hasil cair tiap bulan hingga jatuh tempo.

Product Highlights

Bibit New Product - Weekly Uplift

Top Reksa Dana Pasar Uang

*Return reksa dana per 22 Mei 2026. 

Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Kuota SBN ST016 Tersisa <20%, Imbal Hasil Berpotensi Naik

Suku bunga BI naik ke level 5,25% per Mei 2026. Dengan skema imbal hasil floating with floor, maka imbal hasil ST016 akan naik jika suku bunga BI naik. Jika suku bunga BI ditahan pada level 5,25% hingga Agustus 2026, maka imbal hasil ST016 akan naik per September 2026. 

  • Tenor 2 tahun: imbal hasil minimum 6,05% p.a. → jadi 6,55% p.a.

  • Tenor 4 tahun: imbal hasil minimum 6,25% p.a.  → jadi  6,75% p.a. 

ST016 hanya bisa dibeli pada masa penawaran hingga 3 Juni 2026 pukul 12.00 WIB. 

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.


In Case You Missed It

🤔Bibit Insights – Apa Aset yang Paling Konsisten dalam 5 Tahun Terakhir? – Market sangat sulit untuk ditebak. Dalam 5 tahun terakhir, kelas aset dengan kinerja terbaik cenderung berubah setiap tahunnya. Tidak ada satu kelas aset yang konsisten berada di posisi teratas.

📊60/40 Portfolio: 2x More Resilient than IHSG –  Dengan kondisi market saat ini yang fluktuatif, melakukan diversifikasi investasi dapat membantu mengurangi volatilitas keseluruhan portofolio. Strategi 60/40 (60% obligasi dan 40% saham) dapat menyeimbangkan risiko dan imbal hasil. 

Other Articles 

🏦 Integrasi BDMN–MUFG: Asymmetric Risk–Reward dari Skenario Buyback POJK 41/2019 – Integrasi BDMN–MUFG menawarkan asymmetric risk–reward via buyback tanpa perlu menunggu [delisting, dengan potensi upside +29–93% jika di–pricing 1–1,5x BV. Integrasi dapat hasilkan bank swasta terbesar ke–2 setelah BBCA.

🥀 IHSG Catat Penurunan 8 Hari Perdagangan Beruntun IHSG kembali ditutup melemah -3,54% ke level 6.094,9 pada hari ini, Kamis (21/5), sehingga membuat IHSG telah turun -15,05% selama 8 hari perdagangan beruntun (8 Mei 2026 hingga 21 Mei 2026).

📢 Presiden Umumkan Aturan Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA; BI Naikkan Suku Bunga 50 Bps Presiden Prabowo Subianto mengumumkan peraturan baru terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis, yang akan mewajibkan ekspor komoditas melalui BUMN bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia.