Bibit Weekly – BI Rate Ditahan, Yield Obligasi Pemerintah 10Y Turun ke Bawah 7%

Market Summary

  • Harga Minyak Brent Naik +6,6% WoW ke US$94,4/Barrel: Presiden Donald Trump mengancam sanksi ekonomi yang lebih keras terhadap Iran dan mitra bisnisnya. → Harga energi yang tinggi menjaga tekanan pada inflasi global dan biaya impor Indonesia.

  • BI Rate Ditahan di 5,75%: Sesuai ekspektasi konsensus, di tengah penguatan rupiah ke level Rp17.693 pada Jumat (21/8). → BI tetap mewaspadai risiko inflasi 2026 sedikit di atas 3% dan kenaikan suku bunga AS.

  • Yield Obligasi Pemerintah 10Y Turun ke Bawah 7%, Pertama Sejak Juni 2026: Didukung foreign inflow ke pasar obligasi sebesar Rp13,8 triliun dalam sepekan terakhir. → Menunjukkan membaiknya minat investor terhadap aset domestik dan turut mendukung stabilitas rupiah.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent naik 6,6% WoW ke level US$94,4/barrel pada Jumat (21/8), didorong pernyataan Presiden Donald Trump yang mengancam akan menerapkan sanksi ekonomi yang lebih keras terhadap Iran serta sekutu maupun mitra bisnisnya.

  • Harga CPO berjangka Malaysia untuk kontrak November 2026 naik sekitar +4,4% WoW per Jumat di atas MYR5.000/ton pada Jumat (21/8). Bloomberg melaporkan bahwa kenaikan harga CPO didorong oleh kekhawatiran pengetatan pasokan seiring ancaman El Nino yang dapat membatasi produksi di negara produsen utama, Indonesia dan Malaysia.

  • Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Rabu (19/8) mengumumkan akan meningkatkan nominal buyback obligasi pemerintah AS tenor panjang (10–30 tahun) dari maksimum US$2 miliar per operasi menjadi minimum US$4 miliar per operasi, efektif 9 September–4 November 2026.

    • Pengumuman ini muncul sehari setelah yield obligasi AS tenor 30 tahun menyentuh 5,34% pada Selasa (18/8), level tertinggi sejak 2007, di tengah kekhawatiran fiskal AS dan eskalasi konflik dengan Iran.

    • Harga emas naik ~5,2% WoW seiring penurunan DXY ke level 98,8 (-0,9% WoW).

  • Bank Indonesia mempertahankan suku bunga BI Rate di level 5,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus. Pertumbuhan kredit perbankan mencapai +13,58% YoY per Juli 2026 (Juni 2026: +12,67%; Juli 2025: +7,03%), di atas target BI sebesar +8–12% untuk 2026.

    • BI memperluas sejumlah insentif untuk meningkatkan likuiditas, mendorong pendalaman pasar uang, dan memperkuat penggunaan mata uang lokal. 

    • Dalam rilis terpisah, Bank Indonesia mencatat bahwa defisit transaksi berjalan (current account) Indonesia melebar ke US$12,5 miliar pada 2Q26 (vs 1Q26: defisit US$3,6 miliar, konsensus: defisit ~US$11,7 miliar), seiring kenaikan impor minyak akibat tingginya harga minyak global.

  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,7% WoW ke level 17.693 pada Jumat (21/8), atau menguat ~2,7% dari level terendahnya di 18.178 pada 6 Agustus 2026. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga turun -23 bps WoW ke level 6,95%, kembali dibawah 7% untuk pertama kalinya sejak Juni 2026.

  • FTSE Russell mengumumkan bahwa sejumlah perlakuan indeks untuk saham–saham Indonesia kembali ditunda setidaknya hingga review Desember 2026, mencakup perubahan segmen ukuran, peningkatan free float, update weight adjustment factor dari nol menjadi positif, serta penambahan saham baru termasuk IPO.

  • BEI berencana menurunkan batas harga minimum saham di pasar reguler dan tunai dari Rp50 menjadi Rp1/saham. Uji coba bersama anggota bursa dijadwalkan pada 22 dan 29 Agustus 2026, dengan target implementasi 7 September 2026.

Secara Global: 

Harga minyak yang kembali naik menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih berpengaruh bagi harga energi global. Setelah beberapa pekan konflik berlangsung, fokus investor mulai bergeser dari dampak awal terhadap pasokan menuju seberapa lama tekanan harga energi dapat bertahan. Jika berlanjut, kondisi ini berpotensi menahan normalisasi inflasi global dan membatasi ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Di saat yang sama, kenaikan yield obligasi AS tenor panjang menunjukkan tekanan yang tidak hanya berasal dari outlook suku bunga The Fed, tetapi juga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS. Peningkatan nominal buyback obligasi oleh pemerintah AS berpotensi membantu likuiditas pasar dalam jangka pendek, tetapi belum menghilangkan tekanan fundamental yang mendorong yield 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007. Jika yield AS bertahan tinggi, kondisi tersebut berpotensi menekan aset berisiko dan mata uang emerging markets. The Fed sendiri masih diekspektasikan menahan suku bunga pada pertemuan September 2026 dengan probabilitas ~61%, sebelum menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember 2026 dengan probabilitas ~71% per Senin (24/8), menurut CME FedWatch Tool

Untuk Indonesia:

Keputusan BI mempertahankan suku bunga di 5,75% menunjukkan kelanjutan kebijakan dari bulan sebelumnya yang relatif suportif terhadap pertumbuhan, tanpa mengurangi fokus terhadap stabilitas rupiah. Rupiah tercatat menguat 1,1% MoM dan 0,7% WoW ke level 17.693, yang turut didukung oleh penurunan indeks dolar AS (DXY), dan foreign inflow ke pasar obligasi sebesar Rp13,8 triliun dalam sepekan terakhir yang diikuti penurunan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun ke 6,95%.

Di sisi lain, defisit transaksi berjalan melebar ke rekor US$12,5 miliar atau 3,3% PDB pada 2Q26, lebih buruk dari ekspektasi, terutama akibat kenaikan biaya impor minyak dan seasonal outflow. Bloomberg memperkirakan tekanan tersebut dapat mereda pada 2H26 seiring normalisasi harga komoditas dan menurunnya biaya impor. Dampaknya terhadap rupiah sejauh ini juga masih relatif terbatas, didukung foreign inflow yang masih berlanjut. Namun, pelebaran defisit tersebut, bersama risiko inflasi yang berpotensi sedikit di atas 3% dari El Nino dan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada 4Q26, tetap membatasi ruang BI untuk melonggarkan kebijakan.

Why Should I Care?

Perbaikan kondisi pasar domestik dalam beberapa pekan terakhir menjadi sinyal positif bagi investor Indonesia. Penguatan rupiah, penurunan yield obligasi pemerintah ke bawah 7%, serta kembalinya foreign inflow menunjukkan bahwa sentimen terhadap Indonesia mulai membaik setelah tekanan yang cukup besar pada awal Agustus.

Namun, pemulihan ini masih sangat bergantung pada perkembangan eksternal. Beberapa faktor yang dapat kembali meningkatkan volatilitas dan mempengaruhi aliran dana asing dan perlu di monitor termasuk: trend kenaikan harga minyak, tingginya yield obligasi AS tenor panjang, serta kemungkinan perubahan ekspektasi suku bunga The Fed.  

Dalam waktu dekat, jika foreign inflow ke pasar obligasi Indonesia dapat berlanjut, rupiah dan obligasi pemerintah berpotensi melanjutkan penguatan, yang juga dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham domestik.

Perlu diingat bahwa pemulihan dan arus modal asing dapat berubah dengan cepat. Karena itu, hal yang paling bisa dikendalikan investor bukanlah menebak arah foreign flow, melainkan memastikan alokasi aset masih sesuai dengan profil risiko dan jangka waktu investasi masing-masing, agar pergerakan pasar dalam jangka pendek tidak perlu mengganggu rencana jangka panjang. Jika volatilitas global kembali meningkat, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio, sementara Reksa Dana Pasar Uang USD dapat dipertimbangkan untuk mendiversifikasi eksposur terhadap rupiah

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest Money Market USD

Return
+12,52%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,56%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+12,52%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,24%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 21 Agustus 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,77%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,49%
Return reksa dana per 21 Agustus 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

SBN SR025: Kepastian Imbal Hasil yang Cair Tiap Bulan

Masa penawaran: 21 Agustus-16 September 2026

Cek simulasi passive income dari imbal hasil SBN Syariah SR025 yang dikirim ke rekening tiap bulan pada tabel berikut.

Modal

Tenor 3 Tahun

Tenor 5 Tahun

Rp10 Juta

Rp51.003

Rp51.750

Rp50 Juta

Rp255.015

Rp258.750

Rp100 Juta

Rp510.030

Rp517.500

Rp500 Juta

Rp2.550.150

Rp2.587.500

Rp1 Miliar

Rp5.100.300

Rp5.175.000

Rp5 Miliar

Rp25.501.500

Rp25.875.000

Simulasikan modal kamu →

* Minimum pembelian Rp1.000.000. Kupon dibayar setiap bulan, sudah net setelah dipotong pajak (10%).

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research. 


In Case You Missed It

💭Bibit Insights – Apakah Dana Idle di Tabunganmu Sudah Memberikan Return Optimal? – Dana yang “tidur” di rekening bank belum memberikan return yang optimal. Bunga tabungan bank rata-rata hanya sekitar 1% p.a., sebelum pajak. Sebagai alternatif, dana dapat dialokasikan ke aset rendah risiko lainnya seperti Reksa Dana Pasar Uang dan Obligasi FR yang memiliki potensi return lebih tinggi.

Other Articles 

🍿 CNMA: Sustainable 9% Dividend Play with Limited Downside – CNMA menawarkan potensi dividen dengan yield ~9% dan prospek pertumbuhan laba +8%/tahun. Valuasi sudah turun ke level yang relatif murah (~11x P/E pada 2026F), membatasi risiko penurunan lanjutan.

💲 Pemerintah AS Tingkatkan Buyback Obligasi Tenor Panjang; DXY Turun & Harga Emas Melonjak – Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan akan meningkatkan nominal dukungan likuiditas untuk buyback obligasi pemerintah AS tenor 10–30 tahun.

🌷 BI Pertahankan Suku Bunga di 5,75%, Perluas Insentif Stabilisasi – Bank Indonesia pada Rabu (19/8) mempertahankan suku bunga BI Rate di level 5,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus, dengan lending facility dan deposit facility juga dipertahankan di 6,5% dan 4,75%.