Bibit Weekly – Inflasi Indonesia Kembali di Atas 3%

Market Summary

  • Harga Minyak Kembali Dekati US$100/Barrel: Naik sekitar +0,8% ke level US$97/barrel pada Senin (7/9) setelah AS menyerang 3 kapal tanker minyak Iran. → Menjaga tekanan inflasi global tetap tinggi dan menjadi risiko bagi outlook suku bunga.

  • Inflasi Indonesia Kembali di Atas 3%: Naik ke 3,19% YoY pada Agustus 2026, lampaui ekspektasi konsensus di level 3,12% YoY. → Konsensus Bloomberg memperkirakan kenaikan BI Rate +25 bps ke 6% hingga akhir 2026.

  • NFP AS Agustus Jauh di Atas Ekspektasi: NFP naik +162 ribu (vs. konsensus: +56 ribu). Tingkat pengangguran tetap di 4,1%. → Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed di September 2026 kembali menguat ke level ~60%.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent naik sekitar +0,8% ke level US$97/barrel pada Senin (7/9), didorong oleh pengumuman Komando Pusat AS pada Sabtu (5/9) bahwa militer AS telah menyerang 3 kapal tanker minyak Iran pada akhir pekan.

  • Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat non–farm payroll (NFP) AS naik +162 ribu pada Agustus 2026 (vs Juli 2026: +21 ribu), jauh di atas ekspektasi konsensus (+56 ribu) sekaligus menandai kenaikan tertinggi sejak April 2026. Tingkat pengangguran AS tetap di level 4,1% pada Agustus 2026 (vs Juli 2026: 4,1%).

  • Reuters melaporkan bahwa Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda menegaskan komitmen untuk melanjutkan kenaikan suku bunga guna menyesuaikan kondisi keuangan yang masih dinilai akomodatif, sekaligus membuka peluang kenaikan suku bunga pada September 2026.

    • Konsensus kini memperkirakan BoJ akan menaikkan suku bunga +25 bps ke 1,25% dalam rapat kebijakan moneter pada 18 September 2026.

    • Sebelumnya, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencapai level 3% pada Selasa (1/9), menandai level tertinggi sejak 1996, setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberi sinyal bahwa pemerintah AS ingin bank sentral Jepang menaikkan suku bunga lebih agresif.

  • IHSG menguat +1,8% WoW ke level 6.636,5 pada Jumat (4/9), seiring foreign inflow sebesar +Rp2,94 triliun ke pasar saham sepanjang pekan. Pasar obligasi juga mencatat foreign inflow +Rp10,16 triliun, meski yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik +11 bps WoW. Nilai tukar rupiah turut menguat +0,31% WoW ke Rp17.637/US$, sementara indeks dolar AS (DXY) melemah -0,5% WoW ke 99,2. 

  • BPS mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Agustus 2026 naik signifikan ke level 3,19% YoY (vs Juli 2026: inflasi 2,88% YoY), melampaui ekspektasi konsensus (3,12% YoY), meski sejalan dengan target inflasi Bank Indonesia (2,5±1%).

    • Secara bulanan, inflasi IHK 0,21% MoM pada Agustus 2026 (vs Juli 2026: deflasi 0,14% MoM), melampaui ekspektasi konsensus (inflasi 0,2% MoM), didorong kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, ikan, dan beras.

    • BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus US$120 juta pada Juli 2026 (vs Juni 2026: defisit US$450 juta), lebih baik dibandingkan ekspektasi konsensus yang memperkirakan impas, sekaligus mengakhiri tren defisit neraca perdagangan beruntun dalam 2 bulan sebelumnya.

    • S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,8 pada Agustus 2026 (vs. Juli 2026: 50,2), ditekan oleh kembali menurunnya produksi dan ketenagakerjaan, meski hanya moderat.

  • Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pada Selasa (1/9) bahwa pihaknya menargetkan penghapusan batas harga minimum saham Rp50/saham dapat berlaku mulai pekan ke–3 atau ke–4 bulan September 2026, dari target sebelumnya pada 7 September 2026.

What’s the Impact?

Secara Global: 

Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari ekspektasi kembali mendorong pasar lebih condong terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September. CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga meningkat ke ~60% per Senin (7/9), sehingga fokus pasar selanjutnya beralih ke data inflasi Agustus yang akan dirilis pada 11 September. Harga minyak yang masih tinggi juga menjadi risiko terhadap inflasi.

Sementara itu, pernyataan Gubernur The Fed, Christopher Waller, pada Kamis (3/9) menunjukkan keputusan The Fed masih akan bergantung pada arah inflasi. Waller bersedia mendukung The Fed menahan suku bunga jika inflasi bergerak menuju target 2%, namun tetap mempertimbangkan kenaikan jika inflasi datang lebih tinggi dari perkiraan. Ia juga menilai kenaikan harga energi sejauh ini belum menyebar luas ke harga barang dan jasa lainnya, sehingga data inflasi Agustus menjadi penentu penting bagi keputusan The Fed pada September. 

Untuk Indonesia:

Kondisi eksternal minggu ini memberikan sinyal yang berlawanan bagi pasar keuangan Indonesia. Secara mingguan, indeks dolar AS (DXY) melemah sekitar -0,5% WoW ke 99,2 dan membantu mengurangi tekanan terhadap rupiah. Namun, setelah data tenaga kerja AS yang kuat pada Jumat (4/9), DXY kembali menguat +0,27% secara harian seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. 

Di sisi lain, kenaikan yield obligasi global turut menekan pasar obligasi domestik, dengan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik +11 bps WoW per Jumat (4/9). Gubernur BI Destry Damayanti juga menyebut kenaikan yield global sebagai salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebijakan moneter. Kondisi ini memperkuat alasan bagi BI untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini dalam waktu dekat, meski konsensus memperkirakan kenaikan +25 bps ke 6% hingga akhir 2026.

Dari dalam negeri, indikator ekonomi menunjukkan sinyal yang beragam. Inflasi Agustus naik ke 3,19% YoY dan melampaui ekspektasi, meski masih berada dalam target BI, sementara PMI manufaktur kembali turun ke area kontraksi. Di sisi lain, neraca perdagangan yang kembali mencatat surplus menjadi faktor penyangga bagi stabilitas rupiah di tengah tekanan dari yield global yang lebih tinggi.

Why Should I Care?

Arah suku bunga global masih menjadi sumber utama volatilitas bagi pasar obligasi domestik. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September kembali meningkat setelah data tenaga kerja AS yang kuat, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ turut menjaga tekanan pada yield obligasi global. Kondisi ini dapat membuat yield obligasi pemerintah Indonesia tetap berada di level tinggi, setelah naik +11 bps WoW ke 7,11%. Di sisi lain, rupiah masih menguat +0,31% WoW, didukung foreign inflow ke pasar saham sebesar ~Rp2,9 T dan pasar obligasi sebesar ~Rp10,2 T sepanjang pekan. 

Bagi investor obligasi, kenaikan yield dapat menekan harga obligasi dalam jangka pendek, tetapi sekaligus menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik bagi investor baru.  Investor perlu mencermati data inflasi AS pada 11 September serta keputusan The Fed dan BoJ pada pertengahan September, yang dapat menentukan arah yield global selanjutnya.

Dengan arah suku bunga global yang masih belum pasti, investor perlu menyesuaikan alokasi aset dengan profil risiko dan jangka waktu investasi. SBN seperti SR025 dapat dipertimbangkan untuk mengunci imbal hasil di tengah suku bunga yang masih tinggi, sementara Reksa Dana Pasar Uang tetap menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat dipertimbangkan untuk mendiversifikasi eksposur terhadap rupiah. 

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest Money Market USD

Return
+11,13%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,46%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+10,81%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,17%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 4 September 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,77%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,50%
Return reksa dana per 4 September 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

SBN SR025: Kepastian Return hingga 6,90% per Tahun

Kuota terus menipis. Per 8 September 2026 pukul 11.00 WIB, kuota SR025-T3 tersisa 39,3% dan kuota SR025-T5 tersisa 58%. Segera amankan kepastian return, masa penawaran berakhir pada 16 September 2026 pukul 12.00 WIB. 

Simulasi Passive Income Bulanan dari SBN SR025

Modal

Tenor 3 Tahun
Return 6,80% p.a.

Tenor 5 Tahun
Return 6,90% p.a.

Rp10 Juta

Rp51.003

Rp51.750

Rp50 Juta

Rp255.015

Rp258.750

Rp100 Juta

Rp510.030

Rp517.500

Rp500 Juta

Rp2.550.150

Rp2.587.500

Rp1 Miliar

Rp5.100.300

Rp5.175.000

Rp5 Miliar

Rp25.501.500

Rp25.875.000

Simulasikan modal kamu →

* Minimum pembelian Rp1.000.000. Kupon dibayar setiap bulan, sudah net setelah dipotong pajak (10%).

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research. 


In Case You Missed It

🏆 SR025 Jadi SBN Sukuk Ritel dengan Imbal Hasil Tertinggi Sejak 2020 – Ini jadi momentum untuk mendapatkan kepastian imbal hasil yang lebih tinggi tinggi tanpa perlu khawatir kondisi market yang tak pasti. SBN SR025 memiliki imbal hasil tetap (fixed rate) yang dikirim setiap bulan, bisa menjadi sumber passive income yang pasti.

🔍 Bibit Insights – What If: Tabunganmu Jadi Passive Income Bulanan – Uang tabungan yang disimpan di rekening bank hanya mendapat bunga rata-rata sekitar 1% p.a. Sedangkan bunga deposito bank umum yang dijamin LPS adalah 3,75% p.a. Padahal tabungan kamu bisa dioptimalkan dengan net return 2x lipat lebih tinggi dari deposito dan menghasilkan passive income. 

Other Articles 

🍿 CNMA: Sustainable 9% Dividend Play with Limited Downside – CNMA menawarkan potensi dividen dengan yield ~9% dan prospek pertumbuhan laba +8%/tahun. Valuasi sudah turun ke level yang relatif murah (~11x P/E pada 2026F), membatasi risiko penurunan lanjutan.

📈 CPO & Batu Bara Naik ke Level Kunci seiring Kekhawatiran Suplai dari El Nino – Harga minyak sawit sempat menguat +1,3% ke MYR5.022/ton pada intraday Kamis (3/9), sementara harga batu bara Newcastle ditutup menguat sekitar +0,5% ke US$151/ton.

💸 Inflasi Indonesia Kembali di Atas 3% – Pada Senin (1/9), BPS dan S&P Global mengumumkan sejumlah data makroekonomi Indonesia, di mana inflasi pada Agustus 2026 kembali meningkat lebih dari 3% YoY, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada Agustus 2026 terkontraksi.