Bibit Weekly – Inflasi Indonesia Lampaui Ekspektasi

Market Summary

  • Update Konflik AS–Iran: Negosiasi gencatan senjata dilaporkan terhenti dan Iran mengancam menutup Selat Hormuz. → harga minyak global berpotensi tetap volatil mengikuti perkembangan negosiasi kedua negara.

  • GDP AS Direvisi Turun: Pertumbuhan ekonomi AS 1Q26 direvisi ke +1,6% annualized, di bawah estimasi awal (+2,0%). → tekanan 2Q26 diprediksi berlanjut akibat konflik AS–Iran.

  • Inflasi Indonesia Lampaui Ekspektasi: Inflasi IHK Mei 2026 sebesar 3,08% YoY, melampaui ekspektasi konsensus (2,98% YoY). → berpotensi meningkatkan ekspektasi BI untuk menaikkan suku bunga di tengah pelemahan rupiah.

Market Update
Rebalancing Indeks Global, Foreign Outflow
Mingguan Saham Capai Rp12,6 T
Latest Update (29/05/2026)
Market Snapshot
IHSG
6.127,4
WoW  ▼ -0,56%
YtD  ▼ -29,14%
IDR 10Y Govt Bond Yield
6,72%
WoW  ▼ -2 bps
YtD  ▲ +65 bps
Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln
3,77%
WoW  ▲ +4 bps
YtD  ▲ +3 bps
 
Foreign Flow
Dalam Triliun Rupiah
  1W 1M YtD
Obligasi -2,99 +5,22 -15,18
Saham -12,62 -6,62 -56,17
 
Sumber: Bloomberg, data all market per 29 Mei 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 26 Mei 2026.

What Happened in the Market

  • Agensi semi-official Iran, Tasnim, melaporkan Iran menghentikan negosiasi sebagai protes atas serangan Israel di Lebanon dan mengancam menutup Selat Hormuz, meski Trump menyatakan belum menerima informasi tersebut dan menegaskan hal ini tidak mengarah pada eskalasi militer, sementara AS tetap mempertahankan blokade.

    • Menyusul perkembangan ini, harga minyak Brent naik sekitar +3,1% ke level ~US$94,9/ barrel pada Senin (1/6).

    • Sebelumnya, AS dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz, yang sempat menurunkan harga minyak -1,8% ke level US$92,1/barrel pada Jumat (29/5).

  • Biro Analisis Ekonomi AS mencatat bahwa indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) inti di AS mengalami inflasi 0,2% MoM pada April 2026 (vs Maret 2026: 0,3% MoM), di bawah ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 0,3% MoM.

  • Ekonomi AS tumbuh +1,6% annualized pada 1Q26 (vs 4Q25: +0,5%), berdasarkan revisi kedua yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi AS, di bawah estimasi awal dan ekspektasi konsensus di level +2,0% annualized.

    • Revisi turun utamanya mencerminkan revisi ke bawah pada investasi dan pengeluaran konsumen

    • Ekonom himpunan Reuters memperkirakan pertumbuhan 2Q26 akan ditekan lebih lanjut oleh konflik AS–Iran.

  • BPS mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08% YoY (vs April 2026: inflasi 2,42% YoY), melampaui ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 2,98% YoY, meski sejalan dengan target inflasi Bank Indonesia (2,5±1%).

  • S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 50 pada Mei 2026 (vs April 2026: 49,1), menandakan aktivitas yang secara umum stabil.

  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat melemah ke level 17.894 pada intraday Selasa (2/6), menandai all–time low menurut data Bloomberg.

    • Kepala Departemen Komunikasi Bl Ramdan Denny Prakoso mengatakan bahwa tekanan rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik Timur Tengah serta tingginya permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen dan cicilan pinjaman ke luar negeri.

  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pada Selasa (26/5) bahwa pemerintah tengah menyiapkan insentif ekonomi tambahan senilai Rp7,8 T untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

What’s the Impact?

Secara Global: 

Meskipun konflik belum selesai, harga minyak telah turun ke kisaran ~US$92-96/barrel dibanding minggu sebelumnya di kisaran ~US$103-112/barrel. Adapun PCE inti yang dijadikan acuan The Fed tercatat lebih rendah dari ekspektasi bulanan. Menyusul perkembangan ini, CME FedWatch Tool per Senin (1/6) menunjukkan penurunan probabilitas kenaikan suku bunga hingga akhir 2026 turun ke ~52% (vs ~68% pada 22/5),  mengindikasikan bahwa skenario kenaikan suku bunga belum sepenuhnya mereda.

Untuk Indonesia: 

Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026 yang masih terbuka serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah terus menjadi sumber tekanan eksternal pada rupiah. Selain itu, BI mencatat bahwa tekanan saat ini juga diperberat oleh permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen kepada investor asing dan cicilan pinjaman luar negeri perusahaan domestik, faktor yang biasanya bersifat sementara.

Why Should I Care?

Ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan penyelesaian konflik AS-Iran berpotensi memicu pelemahan rupiah dan mendorong yield obligasi naik, yang umumnya menekan harga Reksa Dana Obligasi dan SBN. Di sisi domestik, inflasi akan terus menjadi pertimbangan kebijakan BI Rate ke depan, di mana IHK Mei 2026 tercatat melampaui ekspektasi konsensus. Mayoritas konsensus Bloomberg memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga +25 bps ke level 5,50% di Q4 2026.

Apabila harga minyak, inflasi global, dan suku bunga the Fed berpotensi naik kembali, ini dapat menekan kinerja obligasi dan menambah tekanan pada Rupiah, dan sebaliknya apabila negosiasi AS-Iran membaik. 

Di saat pasar penuh dengan ketidakpastian, hal sederhana yang dapat dilakukan investor adalah memastikan alokasi aset portofolio sudah sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat menjadi alternatif untuk investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.

Product Highlights

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)
 
Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko.
Sucorinvest
 
Sucorinvest Money Market USD
Return
+13,54%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
 
Return
+3,48%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Investasi Sekarang
 
BRI MI
 
BRI Seruni Likuid Dolar
Return
+13,57%
dalam Rupiah
Sejak Peluncuran
 
Return
+3,06%
dalam US Dollar
Sejak Peluncuran
Investasi Sekarang
Return reksa dana per 29 Mei 2026, kecuali BRI Seruni Likuid Dolar sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 29 Mei 2026. Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 29 Mei 2026. Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.

*Return reksa dana per 29 Mei 2026, kecuali BRI Seruni Likuid Dolar sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 29 Mei 2026.

Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 29 Mei 2026.

Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Top Reksa Dana Pasar Uang

*Return reksa dana per 29 Mei 2026. 

Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.


In Case You Missed It

💵 Reksa Dana Pasar Uang USD di Bibit – Cocok untuk diversifikasi mata uang dengan aset rendah risiko yang bisa dicairkan kapanpun. Tersedia di Bibit mulai dari USD 100. 3 dari 5 produk menggunakan Bank Penampung BCA.

🏦Suku Bunga BI Naik, Imbal Hasil ST016 Ikut Naik – Imbal hasil ST016-T2 berpotensi naik jadi 6,55% p.a. Dan ST016-T4 jadi 6,75% p.a.  per September 2026  jika BI tetap mempertahankan suku bunga acuan hingga Agustus 2026. Simak perhitungannya!

Other Articles 

AMMN: When Passive Selling Creates an Active Opportunity – AMMN telah terkoreksi -52% YTD akibat 2 faktor non-struktural (transisi tambang Fase 7→8 & forced selling MSCI) yang kini telah selesai. Laba diproyeksi melonjak ~4x di 2026F dengan valuasi 12,7x P/E, masih di bawah peers global.

🏦 Integrasi BDMN–MUFG: Asymmetric Risk–Reward dari Skenario Buyback POJK 41/2019 – Integrasi BDMN–MUFG menawarkan asymmetric risk–reward via buyback tanpa perlu menunggu delisting, dengan potensi upside +29–93% jika di–pricing 1–1,5x BV. Integrasi dapat hasilkan bank swasta terbesar ke–2 setelah BBCA.
🔍 ASII Umumkan Hasil Strategic Review: Komitmen Buyback, Payout, dan Target TSR–Manajemen Astra International mengumumkan hasil strategic review dengan tujuan utama mengoptimalkan total shareholder return (TSR), yakni gabungan dari apresiasi harga saham dan dividen bagi pemegang saham.