Bibit Weekly – Outlook BI Rate Lebih Stabil di Tengah Volatilitas Harga Minyak

Market Summary

  • Harga Minyak Brent Kembali di Atas US$90/Barrel: Naik sekitar +0,7% ke ~US$91,1/barrel pada Selasa (1/9) pagi seiring kembali meningkatnya ketegangan AS–Iran. → Risiko geopolitik masih berpotensi menjaga volatilitas harga energi dan tekanan inflasi global.

  • Warsh Tegaskan Inflasi Jadi Prioritas Utama The Fed di Jackson Hole: Menilai perbaikan inflasi masih moderat dan tren terbaru belum menunjukkan perbaikan berarti. → Mendorong pasar menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.

  • Konsensus Bloomberg Ekspektasikan BI Rate Bertahan di 5,75% hingga Akhir 2027: Berubah dari survei Juli yang memperkirakan kenaikan suku bunga ke 6% pada 3Q26. → Menunjukkan outlook kebijakan moneter Indonesia yang lebih stabil seiring ekspektasi inflasi yang melandai dan pertumbuhan yang tetap solid.

What Happened in the Market

  • Harga minyak mentah Brent naik sekitar +0,7% ke ~US$91,1/barrel pada Selasa (1/9) pagi, melanjutkan kenaikan sebesar +1,3% pada perdagangan Senin (31/8) didorong oleh ketegangan baru antara AS–Iran.

    • Sebelumnya, harga minyak sempat turun sekitar -5,7% WoW ke kisaran US$88,9/barrel pada Jumat (28/8) didorong berlanjutnya diskusi Iran dan Oman untuk memulihkan pelayaran melalui Selat Hormuz.

  • Gubernur The Fed, Kevin Warsh, mengatakan dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8) bahwa prioritas utama The Fed saat ini adalah mengendalikan inflasi, sembari menegaskan bahwa The Fed harus yakin inflasi bergerak menuju target 2%. 

    • Pernyataan ini menyusul rilis Biro Analisis Ekonomi AS yang mencatat indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) inti di AS mengalami inflasi 0,2% MoM dan 3,3% YoY pada Juli 2026 (vs Juni 2026: inflasi 0,1% MoM dan 3,3% YoY), sesuai ekspektasi konsensus meski masih di atas target 2% The Fed.

    • Warsh menilai perbaikan inflasi dalam dua tahun terakhir tergolong moderat dan data terbaru belum menunjukkan perbaikan tren yang berarti.

    • Di sisi lain, pasar tenaga kerja dinilai sudah konsisten dengan full employment, dengan tingkat pengangguran di 4,1%.

    • Pernyataan Warsh mendorong pasar menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September 2026.

  • Pemerintah Kanada pada Selasa (25/8) mengumumkan tarif balasan terhadap impor dari AS senilai ~US$20 miliar, menyamai tarif terbaru AS kepada Kanada. Tarif balasan tersebut akan mulai berlaku pada 8 September 2026.

  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat ~1,6% sepanjang Agustus 2026 ke level 17.720 pada Senin (31/8), atau menguat ~2,5% dari level terendahnya di 18.178 pada 6 Agustus 2026.

  • Konsensus Bloomberg Agustus 2026 mengekspektasikan BI Rate akan tetap di 5,75% hingga akhir 2027, berdasarkan estimasi median ekonom, berubah dari survei Juli 2026 yang memperkirakan kenaikan suku bunga ke 6% pada 3Q26. 

    • Konsensus ekonom juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi +5,11% YoY dari +5,1% YoY, sementara proyeksi 2027 tetap +5% YoY. 

    • Ekspektasi inflasi indeks harga konsumen (IHK) selama 2026 melandai dari 3,4% YoY menjadi 3,3% YoY. 

    • Ekspektasi defisit current account 2026 melebar menjadi 1,3% PDB, dari 1,17% PDB pada survei Juli. 

  • Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Jumat (28/8) bahwa Danantara akan membayar dividen Rp120 T kepada pemerintah untuk tahun anggaran 2026 dan akan diklasifikasikan sebagai penerimaan negara bukan pajak.

  • Rapat paripurna DPR pada Selasa (1/9) menyetujui Destry Damayanti sebagai gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman sebagai deputi gubernur senior Bank Indonesia, serta Solikin M. Juhro sebagai deputi gubernur Bank Indonesia, menyusul persetujuan dari Komisi XI DPR pada pekan lalu.

What’s the Impact?

Secara Global: 

Volatilitas harga minyak kembali meningkat setelah sempat turun ke kisaran US$89/barrel pada akhir pekan lalu. Kenaikan kembali harga minyak akibat ketegangan AS–Iran menunjukkan bahwa perkembangan geopolitik masih menjadi faktor utama bagi outlook harga energi. Jika kenaikan berlanjut, tekanan terhadap inflasi global dan biaya impor energi berpotensi kembali meningkat. 

Di AS, inflasi PCE inti Juli yang sesuai ekspektasi belum menunjukkan perbaikan tren inflasi yang berarti, sejalan dengan penilaian Kevin Warsh bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama The Fed. Pernyataan Warsh mendorong pasar menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September menjadi ~57% pada Jumat (28/8), dari ~40% sepekan sebelumnya, menurut CME FedWatch Tool. Di sisi lain, eskalasi tarif antara AS dan Kanada tetap menjadi risiko tambahan terhadap outlook inflasi dan perdagangan global.

Untuk Indonesia:

Outlook suku bunga domestik terlihat lebih stabil dibandingkan bulan sebelumnya, dengan konsensus Bloomberg memperkirakan BI Rate bertahan di 5,75% hingga akhir 2027. Pergeseran ini didukung ekspektasi inflasi 2026 yang melandai menjadi 3,3% dan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid di kisaran +5,1% YoY.

Pergerakan harga minyak tetap menjadi salah satu risiko utama bagi Indonesia setelah tingginya biaya impor energi mendorong defisit current account melebar pada 2Q26. Jika harga minyak kembali bertahan tinggi, tekanan terhadap biaya impor, current account, dan rupiah berpotensi kembali meningkat, sehingga dapat membatasi ruang BI dalam mempertahankan kebijakan yang lebih suportif terhadap pertumbuhan. Sementara itu, terpilihnya Destry Damayanti memberikan sinyal keberlanjutan arah kebijakan BI, dengan stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas utama di tengah tingginya ketidakpastian global.

Why Should I Care?

Outlook BI Rate yang lebih stabil berpotensi mendukung perbaikan kondisi pasar domestik, tetapi volatilitas harga minyak kembali menjadi faktor yang perlu dicermati. Ekspektasi BI Rate bertahan di 5,75% hingga akhir 2027 memberikan outlook yang lebih konstruktif bagi pertumbuhan, sementara kenaikan kembali harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap inflasi, current account, dan rupiah. 

Namun, risiko dari suku bunga AS kembali meningkat setelah pernyataan The Fed di Jackson Hole. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga AS terus meningkat, yield Treasury dan dolar AS berpotensi kembali menguat, yang dapat menekan foreign flow dan rupiah. Karena itu, investor perlu mencermati apakah perbaikan kondisi domestik cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal tersebut. 

Bagi investor, perbaikan outlook bukan berarti risiko pasar telah hilang, sehingga alokasi aset tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu investasi. SBN seperti Sukuk Ritel seri SR025 dapat dipertimbangkan untuk mengunci imbal hasil di tengah suku bunga yang masih tinggi, sementara Reksa Dana Pasar Uang tetap menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat dipertimbangkan untuk mendiversifikasi eksposur terhadap rupiah.

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest Money Market USD

Return
+11,27%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,55%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+10,89%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,19%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 31 Agustus 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,76%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,49%
Return reksa dana per 31 Agustus 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

SBN Syariah SR025: Passive Income Bulanan dengan Return Pasti hingga 3 dan 5 Tahun

Masa penawaran: 21 Agustus-16 September 2026

Simulasi Passive Income Bulanan dari SBN SR025

Modal

Tenor 3 Tahun
Return 6,80% p.a.

Tenor 5 Tahun
Return 6,90% p.a.

Rp10 Juta

Rp51.003

Rp51.750

Rp50 Juta

Rp255.015

Rp258.750

Rp100 Juta

Rp510.030

Rp517.500

Rp500 Juta

Rp2.550.150

Rp2.587.500

Rp1 Miliar

Rp5.100.300

Rp5.175.000

Rp5 Miliar

Rp25.501.500

Rp25.875.000

Simulasikan modal kamu →

* Minimum pembelian Rp1.000.000. Kupon dibayar setiap bulan, sudah net setelah dipotong pajak (10%).

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research. 


In Case You Missed It

💭Bibit Insights: Aset Mana yang Cocok untuk Portofoliomu? – Sebelum memilih investasi, tentukan dulu berapa lama dana ini bisa kamu investasikan. Hal ini karena menentukan 2 hal:  Seberapa likuid & fleksibel dana yang kamu simpan dan seberapa rutin kamu ingin menerima passive income. 

💰 SBN Syariah SR025: Net Return Dua Kali Lipat dari Deposito Bank – Bukan hanya karena imbal hasilnya lebih tinggi, tapi pajak SBN SR025 juga lebih rendah dibandingkan deposito bank. SR025 bisa jadi alternatif rendah risiko untuk menyimpan idle money.

Other Articles 

🍿 CNMA: Sustainable 9% Dividend Play with Limited Downside – CNMA menawarkan potensi dividen dengan yield ~9% dan prospek pertumbuhan laba +8%/tahun. Valuasi sudah turun ke level yang relatif murah (~11x P/E pada 2026F), membatasi risiko penurunan lanjutan.

🌴 Gapki: Produksi CPO Terancam Turun 8–10% pada 2027 Akibat El Nino – Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, mengatakan pihaknya memperkirakan produksi CPO dan PKO Indonesia berisiko turun sekitar 4–5 juta ton pada 2027 akibat kekeringan yang dipicu oleh El Nino.

☀️ Pemerintah Mulai Bangun Program PLTS 100 GWp, Target Rampung dalam 3 Tahun – Pemerintah resmi memulai program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan Presiden Prabowo Subianto menargetkan pemerintah dapat membangun PLTS 100 GWp dalam waktu 3 tahun.