Market Summary
PDB RI Tumbuh Di Atas Ekspektasi: BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai +5,61% YoY pada 1Q26 (vs. 4Q25: +5,39% YoY, 1Q25: +4,87% YoY), melampaui ekspektasi konsensus (+5,4%). → perlu dicermati keberlanjutannya, mengingat pertumbuhan masih ditopang belanja pemerintah yang ekspansif dan low-base effect 1Q25.
Nilai Tukar Rupiah Sempat Tembus 17.500: Rupiah sempat menyentuh level all-time low di 17.505 pada Selasa (12/5) pagi, ditekan tensi di Timur Tengah, ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi, serta arus keluar investor global dari pasar negara berkembang. → ini kembali mempersempit ruang kebijakan BI untuk memangkas suku bunga, di tengah cadangan devisa yang juga turun.
Harga Minyak Bertahan Tinggi: Harga minyak Brent sempat turun -7,8% pada hari Rabu (6/5) sebelum kembali naik +4,4% pada Senin (11/5) pagi seiring AS–Iran gagal capai kesepakatan perdamaian. → menjaga tekanan inflasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum akan terburu-buru memangkas suku bunga.
What Happened in the Market
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai +5,61% YoY pada 1Q26 (vs. 4Q25: +5,39% YoY, 1Q25: +4,87% YoY), melampaui ekspektasi konsensus di level +5,4% YoY dan menandai pertumbuhan tertinggi sejak 3Q22. Sebagai konteks, APBN 2026 menargetkan pertumbuhan ekonomi +5,4% YoY.
Sebagai bagian dari stimulus untuk kuartal–kuartal berikutnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan insentif pembelian kendaraan listrik mulai Juni 2026 serta mendorong pembiayaan ekspor melalui LPEI dengan bunga kredit berpotensi ditekan hingga ~6% guna menjaga laju pertumbuhan ekonomi.
Harga minyak Brent naik sekitar +4,4% ke level ~US$105,8/barrel pada Senin (11/5) pagi didorong oleh gagal tercapainya kesepakatan proposal perdamaian AS-Iran, membuat Selat Hormuz masih tertutup.
Sebelumnya, harga minyak sempat di US$114,4/barrel sebelum turun signifikan seiring pernyataan pemerintah Iran yang sedang meninjau proposal perdamaian dari AS.
Nilai tukar rupiah sempat menyentuh rekor terendah ke level 17.505 pada Selasa (12/5) pagi, dipicu oleh meningkatnya tensi di Timur Tengah, ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi, serta arus keluar investor global dari pasar negara berkembang. Di sisi lain, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun -25 bps WoW seiring inflow selama seminggu terakhir.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pada Kamis (7/5) bahwa Bank Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup untuk melakukan intervensi besar guna menstabilkan rupiah.
Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia per akhir April 2026 turun ke level US$146,2 miliar (vs Maret 2026: US$148,2 miliar), terendah sejak Juli 2024 dan melanjutkan penurunan dalam 4 bulan beruntun, ditekan oleh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Kamis (7/5) bahwa pemerintah merencanakan dana stabilisasi obligasi sebagai instrumen mitigasi untuk menstabilkan pasar obligasi setiap kali terjadi tekanan capital outflow, yang menurutnya berkontribusi pada ketidakstabilan rupiah tahun ini. Namun pada Senin (11/5), Purbaya menegaskan bahwa dana tersebut belum diaktifkan karena kondisi saat ini belum dianggap krisis.
IHSG turun -2,9% ke level 6.969,4 pada Jumat (8/5), ditekan oleh penurunan saham komoditas menyusul public hearing yang digelar Kementerian ESDM terkait rencana perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, hingga perak. Perubahan tarif royalti tersebut umumnya terkait perubahan interval harga mineral acuan dan kenaikan tarif.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat non–farm payroll (NFP) AS naik +115 ribu pada April 2026 (vs Maret 2026: +185 ribu), jauh di atas ekspektasi konsensus (+62 ribu).
Tingkat pengangguran AS tercatat tetap di level 4,3% pada April 2026 (vs Maret 2026: 4,3%), sesuai ekspektasi konsensus (4,3%).
What’s the Impact?
Secara Global: Ketegangan geopolitik AS-Iran tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi sentimen pasar global. Sinyal de-eskalasi dari Iran memberikan harapan perdamaian, namun insiden militer di Selat Hormuz menunjukkan risiko gangguan suplai energi belum sepenuhnya mereda. Harga minyak yang bertahan di level tinggi, ditambah data tenaga kerja AS yang masih solid, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum akan terburu-buru memangkas suku bunga. Berdasarkan data CME Fedwatch Tool per Jumat (8/5), pasar masih memproyeksikan probabilitas ~97% suku bunga akan tetap ditahan di level 3,50-3,75% pada pertemuan Juni 2026.
Untuk Indonesia: Meski pertumbuhan ekonomi 1Q26 relatif tinggi, hal ini juga ditopang oleh belanja pemerintah yang ekspansif dan low-base effect pada 1Q25 (+4,87% YoY). Pertumbuhan berpotensi lebih menantang ke depan seiring mengecilnya efek low-base dan terbatasnya ruang stimulus fiskal akibat meningkatnya kebutuhan subsidi energi. Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus baru yang diharapkan dapat menopang momentum pertumbuhan.
Di sisi lain, tekanan pada rupiah yang menyentuh level all-time low baru juga mempersulit posisi Bank Indonesia. Cadangan devisa yang terus menurun selama 3 bulan beruntun membatasi ruang intervensi, sementara kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar mempersempit opsi BI untuk melonggarkan kebijakan moneter guna menopang pertumbuhan. Pemerintah juga tengah merancang dana stabilisasi obligasi untuk meredam tekanan capital outflow di pasar obligasi yang hanya akan diaktifkan saat terjadi krisis.
Why Should I Care?
Pekan ini terasa cukup berat bagi investor: di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia 1Q26 yang melampaui ekspektasi seharusnya menjadi kabar baik; namun di sisi lain, rupiah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah dan IHSG sempat tertekan signifikan menjelang akhir pekan. Pasar tampaknya masih lebih menyorot tekanan eksternal, seperti harga minyak yang bertahan tinggi dan ekspektasi The Fed yang sulit memangkas suku bunga, daripada katalis domestik yang positif.
Kondisi ini menempatkan Bank Indonesia dalam posisi yang sulit: kebutuhan untuk mempertahankan — atau bahkan menaikkan — suku bunga guna menjaga stabilitas rupiah berpotensi mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi yang baru saja tercatat positif. Investor perlu memantau apakah tekanan pada rupiah mereda dalam waktu dekat, karena ini akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah kebijakan moneter BI dan pada akhirnya pergerakan pasar obligasi domestik.
Ke depan, perkembangan negosiasi lanjutan AS-Iran dan arah pergerakan rupiah menjadi dua katalis utama yang perlu dicermati. De-eskalasi yang berkelanjutan berpotensi meredakan tekanan pada harga minyak dan memberi ruang bagi pemulihan sentimen terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebaliknya, eskalasi ulang atau berlanjutnya tekanan terhadap rupiah dapat mempersempit ruang kebijakan BI.
Dengan kondisi pasar yang masih volatil dan diliputi ketidakpastian, memastikan alokasi aset portofolio sesuai profil risiko dan tujuan investasi dapat membantu investor tetap tenang meskipun pergerakan rupiah dan harga minyak masih cepat berubah. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat menjadi alternatif untuk investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah. Sementara itu, SBN Retail ST016 dapat menjadi opsi aset defensif untuk menjaga portofolio tetap stabil.
Product Highlights
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
*Return reksa dana per 8 Mei 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
🛡️Bibit Insights: Meredam Guncangan Portofolio – Di tengah pergerakan pasar yang tidak menentu, memiliki aset yang lebih stabil dapat membantu menjaga portofolio tetap terkendali dan membuat kamu lebih tenang berinvestasi.
Other Articles
🛢️ Harga Minyak Turun ke Bawah US$100/Barrel seiring Iran Tinjau Proposal AS – Harga minyak Brent turun ke level US$99,15/barrel pada Kamis (7/5), melanjutkan penurunan -7,8% pada Rabu (6/5), seiring pernyataan pemerintah Iran sedang meninjau proposal perdamaian dari AS.
🤑 Recap Dividen Tahun Buku 2025 — Part 2 – Sejumlah emiten telah menggelar RUPST dan menetapkan pembagian dividen tahun buku 2025. Stockbit telah merangkum daftar emiten dengan tanggal cum date dividen–nya akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.
📈 PDB RI Tumbuh +5,61% YoY pada 1Q26, Lampaui Ekspektasi – BPS mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai +5,61% YoY pada 1Q26 (vs. 4Q25: +5,39% YoY, 1Q25: +4,87% YoY), melampaui ekspektasi konsensus dan menandai pertumbuhan tertinggi sejak 3Q22.
