Bibit Weekly – Sinyal Hawkish The Fed, BI Rate Naik +25 bps

Market Summary

  • Harga Minyak Turun ke Bawah US$80/Barrel: Seiring kabar disepakatinya roadmap kesepakatan perdamaian AS-Iran dalam 60 hari. → berpotensi menekan laju inflasi dan meringankan beban defisit APBN.

  • The Fed Pertahankan Suku Bunga di 3,50-3,75%: Menaikkan proyeksi inflasi 2026 dan memberi sinyal 1x kenaikan di 2026. → probabilitas rate hike pada pertemuan Desember 2026 naik signifikan ke ~90% per Senin (22/6).

  • BI Rate Naik +25 bps ke 5,75%: Sesuai ekspektasi konsensus, total +100 bps sejak Mei 2026. → BI memprioritaskan stabilitas nilai tukar di atas pelonggaran kebijakan.

What Happened in the Market

  • Harga minyak turun ke kisaran ~US$77/barrel pada Senin (22/6), seiring pernyataan dari Qatar dan Pakistan yang menyebut bahwa AS dan Iran telah menyepakati roadmap untuk mencapai kesepakatan perdamaian dalam 60 hari.

    • Penurunan ini membalikkan kenaikan sebelumnya yang mencapai +2,2% menyusul laporan bahwa Iran menutup kembali Selat Hormuz pada Minggu (21/6) akibat serangan Israel di Lebanon. 

    • Pekan lalu, harga minyak sempat turun -8% WoW ke ~US$80/barrel pada Jumat (19/6), setelah penandatanganan nota kesepahaman sementara untuk mengakhiri konflik dengan Iran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

  • Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus. 

    • Berdasarkan proyeksi terbaru, pejabat The Fed memperkirakan bahwa suku bunga acuan akan naik 1x sebesar +25 bps ke kisaran 3,75–4% hingga akhir 2026, dibandingkan proyeksi pada Maret 2026 yang memperkirakan adanya pemangkasan 1x sebesar -25 bps.

    • Warsh juga mengumumkan akan melakukan review terhadap cara kerja The Fed, yang mencakup manajemen neraca keuangan, kerangka kerja inflasi, pengumpulan data ekonomi, serta metode komunikasi publik.

  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI Rate sebesar +25 bps ke level 5,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus. Menandai kenaikan BI Rate sebesar +100 bps dalam sebulan terakhir, sebagai bagian dari upaya bank sentral untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah yang belakangan melemah terhadap dolar AS. 

  • MSCI merilis hasil Global Market Accessibility Review 2026 pada Kamis (18/6), dengan Indonesia mengalami penurunan pada kriteria information flow. Review ini belum menilai status pembekuan indeks maupun status klasifikasi pasar, yang baru akan dibahas dalam Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 (WIB).

Baca lebih lanjut terkait hasil Global Market Accessibility Review MSCI 2026.

  • Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan pada Jumat (19/6) bahwa pemerintah akan segera memberikan insentif bagi masyarakat untuk periode 3Q26, termasuk insentif fiskal, pangan, hingga transportasi.

  • Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, pada Kamis (18/6) meminta waktu selama 1 bulan kepada DPR untuk menyusun kebutuhan anggaran yang lebih realistis dan efisien. Revisi anggaran akan mencakup pertimbangan penataan ulang penerima manfaat serta evaluasi dan perbaikan skema insentif dapur MBG. 

  • Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR telah menyepakati asumsi makroekonomi 2027 sebagai berikut:

Asumsi & Target Makroekonomi
Komponen Asumsi Makroekonomi 2027 Target APBN 2026
Pertumbuhan ekonomi (YoY) +5,8–6,5% +5,4%
Inflasi (YoY) 1,5–3,5% 2,5%
Nilai tukar rupiah (USD/IDR) 16.800–17.500 16.500
Yield SBN tenor 10Y 6,5–7,3% 6,9%
Harga minyak mentah (US$/barrel) 70–95 70

What’s the Impact?

Secara Global: 

Melanjutkan tren pekan lalu, harga minyak kembali turun seiring kabar bahwa AS dan Iran telah menyepakati roadmap untuk mencapai kesepakatan perdamaian. Harga minyak yang lebih rendah seharusnya meringankan tekanan inflasi global.

Sementara itu, proyeksi inflasi 2026 terbaru di level 3,6% yang lebih tinggi (vs proyeksi Maret: 2,7%) menjadi salah satu faktor yang mendorong The Fed memberi sinyal akan menaikkan suku bunga (hawkish) setidaknya 1x hingga akhir 2026. Merespons hal ini, pasar mengekspektasikan probabilitas rate hike hingga akhir 2026 naik signifikan ke ~90% per Senin (22/6), dari ~60% sepekan sebelumnya (12/6), berdasarkan CME Fedwatch Tool. Sinyal ini menjaga dolar AS tetap kuat, dengan indeks dolar AS (DXY) naik ~1,4% WoW ke level 101 pada Senin (22/6). 

Untuk Indonesia:

Menguatnya indeks dolar AS (DXY) dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah. BI pun kembali menegaskan bahwa stabilitas rupiah merupakan prioritas saat ini dengan menaikkan BI Rate. Selain itu, kekhawatiran posisi APBN yang juga menjadi faktor pelemahan rupiah diharapkan dapat melunak seiring rencana pemangkasan anggaran program MBG — meski hal tersebut juga akan dipengaruhi oleh dinamika harga minyak ke depan.

Di sisi lain, stimulus ekonomi yang akan segera diumumkan pemerintah berpotensi menjaga daya beli masyarakat di tengah harga minyak yang kembali tidak pasti.

Why Should I Care?

Kebijakan BI untuk kembali menaikkan BI Rate pekan ini, total +100 bps sejak Mei 2026, menunjukkan komitmen BI untuk menarik inflow dan menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, nilai tukar rupiah juga akan dipengaruhi oleh volatilitas harga minyak, yang pergerakannya mudah dipengaruhi oleh sentimen geopolitik yang berubah dengan cepat.

Di pasar saham, meski Global Market Accessibility Review MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada 1 kriteria (information flow), Indonesia masih dinilai sebagai salah satu pasar dengan aksesibilitas terbaik di Emerging Market Asia berdasarkan penilaian tersebut. Penilaian ini terpisah dari kinerja IHSG, yang secara year-to-date masih mengalami tekanan.

Di pasar obligasi, kenaikan BI Rate yang agresif diharapkan dapat menstabilkan rupiah dan meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah Indonesia bagi investor asing. Faktor ini sudah mulai terlihat: yield obligasi 10Y turun -34 bps WoW ke 7,08%, sementara foreign flow ke obligasi kembali positif (+Rp4,20 T dalam sepekan). Bagi pemegang Reksa Dana Obligasi, dinamika ini dapat menjadi katalis pendukung NAV jangka pendek, meski volatilitas yield ke depan masih mungkin terjadi seiring sentimen global yang belum stabil.

Tetap ada beberapa faktor ke depan yang berpotensi menambah dinamika pasar, mulai dari arah kebijakan The Fed, kelanjutan pembicaraan AS–Iran, hingga review MSCI dan S&P untuk Indonesia. Konsekuensinya bagi investor sederhana: volatilitas dapat masih tinggi dalam jangka pendek, sehingga menjaga alokasi aset sesuai profil risiko menjadi semakin penting. Reksa Dana Pasar Uang tetap relevan sebagai instrumen yang relatif stabil di tengah volatilitas pasar. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga bisa menjadi alternatif bagi investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko.

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+13,22%
dalam Rupiah
Sejak Peluncuran
Return
+3,23%
dalam US Dollar
Sejak Peluncuran

Batavia USD Money Market

Return
+11,33%
dalam Rupiah
Sejak Peluncuran
Return
+1,45%
dalam US Dollar
Sejak Peluncuran
*Return reksa dana sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 19 Juni 2026.
**Return reksa dana sejak peluncuran 7 November 2025 hingga 19 Juni 2026.
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 19 Juni 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit

Return Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit per 19 Juni 2026

*Return reksa dana per 19 Juni 2026. 

Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. 

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.


In Case You Missed It

💰Unboxing Reksa Dana Pasar Uang USD: Bagaimana Cara Kerjanya? –   Reksa Dana Pasar Uang USD adalah Reksa Dana Pasar Uang yang berisi 100% instrumen pasar uang jangka pendek dalam denominasi Dolar AS (USD). Produk Reksa Dana ini rendah risiko karena sejalan dengan karakter instrumen pasar uang pada umumnya, hanya saja berbasis USD bukan Rupiah.

🗓️ SBN ORI030 Terbit 6 Juli 2026: Dapatkan Passive Income Tiap Bulan –  Imbal hasil ORI030 adalah kupon fixed rate yang akan dikirim rutin bulanan. Imbal hasil tetap stabil sampai jatuh tempo, meskipun kondisi market tidak pasti.

Other Articles 

AMMN: When Passive Selling Creates an Active Opportunity – AMMN telah terkoreksi -52% YTD akibat 2 faktor non-struktural (transisi tambang Fase 7→8 & forced selling MSCI) yang kini telah selesai. Laba diproyeksi melonjak ~4x di 2026F dengan valuasi 12,7x P/E, masih di bawah peers global.

🏦 Integrasi BDMN–MUFG: Asymmetric Risk–Reward dari Skenario Buyback POJK 41/2019 – Integrasi BDMN–MUFG menawarkan asymmetric risk–reward via buyback tanpa perlu menunggu delisting, dengan potensi upside +29–93% jika di–pricing 1–1,5x BV. Integrasi dapat hasilkan bank swasta terbesar ke–2 setelah BBCA.

👀 Review Aksesibilitas MSCI: Indonesia Turun di Satu Kriteria, Masih Salah Satu Terbaik di EM Asia MSCI telah merilis hasil Global Market Accessibility Review 2026 pada Kamis (18/6) waktu setempat. Mencakup penurunan hanya pada kriteria information flow, namun belum ada komentar terkait pembekuan (freeze).