Bibit Weekly – The Fed Naikkan Suku Bunga Pertama Kali sejak 2023

Market Summary

  • The Fed Naikkan Suku Bunga Pertama Kali sejak 2023: Naik +25 bps ke kisaran 3,75–4%, sesuai konsensus. → Dengan proyeksi satu kenaikan tambahan +25 bps hingga akhir 2026, berpotensi menjaga suku bunga tetap tinggi lebih lama.

  • Harga Minyak Turun Ke Kisaran US$100/barrel: Turun ke US$100,3/barrel pada Senin (21/9), seiring berlanjutnya pemulihan ekspor minyak Arab Saudi. → Risiko gangguan pasokan mulai mereda, meski harga masih bertahan di level tinggi.

  • Defisit APBN Agustus 2026 Capai 0,93% PDB: Menkeu Suahasil menegaskan komitmen menjaga defisit di bawah 3% PDB. → Berpotensi mendukung persepsi terhadap kredibilitas fiskal, dengan implementasi kebijakan tetap menjadi perhatian pasar.

Market Update
Obligasi Jatuh Tempo Dorong Foreign Outflow Obligasi Mingguan Tertinggi Sepanjang 2026
Latest Update (18/09/2026)
Indikator Nilai Perubahan
IHSG 6.441,2
WoW ▼ -1,53%
YtD ▼ -25,51%
IDR 10Y Govt Bond Yield 7,12%
WoW ▼ -3 bps
YtD ▲ +105 bps
Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln 4,11%
WoW ▲ +4 bps
YtD ▲ +41 bps
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
Aset 1W 1M YtD
Obligasi -12,68 +9,53 +26,77
Saham -3,83 -0,92 -76,50
Sumber: Bloomberg, data all market per 18 September 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 17 September 2026.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent turun -3,4% ke level US$100,3/barrel pada Senin (21/9), setelah turun -0,7% WoW ke level US$103,9/barrel per Jumat (18/9).

    • Penurunan harga minyak disebabkan oleh berlanjutnya pemulihan ekspor minyak Arab Saudi di tengah serangan berkelanjutan oleh kelompok Houthi di Yaman.

    • Sementara itu, Presiden Donald Trump mengatakan dirinya terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan akan menghadiri Sidang Umum PBB di New York pada pekan ini.

  • Kementerian Keuangan mencatat bahwa defisit APBN hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp240,1 T atau setara 0,93% terhadap PDB (vs 7M26: defisit 0,91% terhadap PDB, 8M25: defisit 1,35% terhadap PDB). 

    • Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, pada Jumat (18/9) menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menjaga defisit APBN di bawah limit 3% terhadap PDB, sebagaimana regulasi yang berlaku saat ini.

  • Bank Sentral AS, The Fed, menaikkan suku bunga acuannya sebesar +25 bps ke kisaran 3,75–4%, sejalan dengan ekspektasi konsensus dan menandai kenaikan suku bunga AS yang pertama sejak 2023.

    • Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh seluruh anggota gubernur, seiring tekanan inflasi yang masih di atas target 2% The Fed dan ekonomi AS yang dinilai masih kuat.

    • Dalam konferensi pers pascapertemuan, Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga diperlukan untuk mempercepat penurunan inflasi menuju target 2%, seiring penguatan aktivitas ekonomi dan tekanan inflasi yang semakin meluas.

    • Selain itu, The Fed juga meng-update proyeksi suku bunga pada akhir 2026 ke kisaran 4–4,25%, yang mengindikasikan kenaikan suku bunga lanjutan sebesar +25 bps lagi, dibandingkan proyeksi Juni 2026 yang memperkirakan suku bunga AS pada akhir 2026 akan berada di level 3,75–4%.

  • Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) menaikkan suku bunga acuannya sebesar +25 bps ke level 1,25%, sesuai ekspektasi dan menandai level tertinggi sejak 1995.

    • Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, pada Jumat (18/9) menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar +50 bps maupun secara beruntun (back-to-back), jika Jepang menghadapi risiko inflasi yang sangat besar. 

    • Ueda menekankan BoJ ingin bertindak secara pre-emptive agar tidak terpaksa menaikkan suku bunga secara tajam di kemudian hari, seiring underlying inflation Jepang yang dinilai semakin mendekati target 2% sehingga fokus kebijakan bergeser dari mendorong inflasi menjadi menjaga stabilitasnya.

What’s the Impact?

Secara Global: 

The Fed memperkirakan inflasi membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke target 2%, di tengah outlook ekonomi AS yang lebih kuat. Proyeksi pertumbuhan PDB AS dinaikkan menjadi +2,3% pada 2026 dan +2,4% pada 2027, sementara proyeksi pengangguran diturunkan menjadi 4,1% hingga akhir 2027. Inflasi PCE kini diperkirakan baru kembali ke target 2% pada 2029, mundur dari proyeksi sebelumnya pada 2028.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan inflasi yang lebih persisten mendukung proyeksi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga hingga akhir 2026. Kondisi ini berpotensi menjaga yield obligasi AS tetap tinggi dan menahan penurunan yield global.

Kenaikan suku bunga BoJ turut menunjukkan bahwa pengetatan moneter tidak hanya terjadi di AS. Gubernur Ueda membuka kemungkinan kenaikan lebih agresif jika risiko inflasi meningkat, seiring pergeseran fokus BoJ dari mendorong inflasi menjadi menjaga stabilitasnya. Kondisi ini berpotensi menambah volatilitas pasar keuangan global.

Untuk Indonesia:

Komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3% PDB berpotensi mendukung persepsi terhadap kredibilitas fiskal. Realisasi defisit yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu memberikan gambaran posisi fiskal hingga Agustus, tetapi pencapaian target akhir tahun tetap bergantung pada perkembangan penerimaan dan belanja negara.

Harga minyak yang masih bertahan di level tinggi membuat beban subsidi energi dan outlook inflasi domestik tetap perlu dicermati, sehingga dibutuhkan penurunan harga lebih lanjut agar dapat menjadi katalis positif yang mengurangi tekanan terhadap keduanya. Di sisi lain, kenaikan suku bunga The Fed dapat menahan penurunan yield obligasi domestik dan membuat BI tetap berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga.

Why Should I Care?

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026 masih menguat. Goldman Sachs memperkirakan kenaikan berikutnya pada Oktober 2026, sejalan dengan analisis CME FedWatch Tool di mana probabilitas kenaikan tambahan setidaknya 1x hingga akhir 2026 meningkat menjadi ~88% pada Senin (21/9), dari ~79% sepekan sebelumnya (14/9). BI juga berpotensi menaikkan suku bunga, dengan besaran kenaikan bergantung pada stabilitas rupiah. Konsensus Bloomberg memproyeksikan BI Rate naik +25 bps ke 6% hingga akhir 2026.

Bagi investor, suku bunga acuan yang bertahan tinggi berpotensi menjaga yield obligasi tetap tinggi sekaligus meningkatkan ketidakpastian pasar saham. Beberapa hal yang perlu dicermati ke depan adalah keputusan RDG BI pada Rabu (23/9), rilis inflasi PCE AS pada 30 September 2026, serta pergerakan harga minyak yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed.

Dari dalam negeri, komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3% PDB dapat menjadi faktor positif di tengah tekanan global. Namun, investor tetap perlu mencermati implementasi kebijakan fiskal serta dampak harga minyak terhadap subsidi energi dan inflasi.

Di tengah ketidakpastian arah suku bunga global, investor perlu menyesuaikan alokasi aset dengan profil risiko dan jangka waktu investasi. Reksa Dana Pasar Uang tetap menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio, sementara Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat dipertimbangkan untuk mendiversifikasi eksposur terhadap rupiah.

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest Money Market USD

Return
+11,27%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,58%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+10,85%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,18%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 21 September 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,81%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,53%
Return reksa dana per 21 September 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research. 

In Case You Missed It

💰 Bibit Insights - What If: Investasimu Perlu Dicairkan Lebih Cepat Saat Tabungan di Reksa Dana? – Kebutuhan finansial bisa berubah kapan saja. Pilih reksa dana yang tidak hanya membantu tabunganmu bertumbuh, tapi juga tetap fleksibel saat kamu membutuhkannya.

📆 SBN seri SBR015 Segera Terbit 28 September 2026 – SBN ritel terbaru seri Savings Bond Ritel SBR015 bisa dibeli di Bibit mulai 28 September 2026 hingga 22 Oktober 2026. SBR015 memiliki floating with floor return dengan imbal hasil yang bisa naik jika BI rate naik, tapi anti turun dari batas minimumnya (floor).

Other Articles 

POWR: From Boring to Booming, Powered by Data Center – POWR memasuki fase growth, didorong oleh akselerasi pertumbuhan data center dan pemulihan volume penjualan listrik ke PLN dengan target dividend yield 9% sebagai basis valuasi.

🐄 FrieslandCampina akan Jadi Pengendali Baru ULTJ via Inbreng Frisian Flag Senilai Rp14,6 T – FrieslandCampina dan Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company ($ULTJ) mengumumkan kerja sama strategis, di mana FrieslandCampina akan menjadi pengendali baru ULTJ dan PT Frisian Flag Indonesia (FFI) akan menjadi bagian dari grup ULTJ.

🌷 The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Proyeksikan 1x Kenaikan Lagi Tahun Ini – Bank sentral AS, The Fed, menaikkan suku bunga acuannya sebesar +25 bps ke kisaran 3,75–4%, sejalan ekspektasi konsensus dan menandai kenaikan suku bunga AS yang pertama sejak 2023.