Bibit Weekly – Yield AS Tertinggi sejak 2007, BI Rate Ditahan

Market Summary

  • Harga Minyak Bergerak Volatil: Sempat turun ke bawah US$100/barrel dan kembali di atas US$105/barrel seiring ketidakpastian negosiasi AS dan Iran. → Harga minyak berpotensi tetap volatil hingga ada kejelasan mengenai pembukaan Selat Hormuz.

  • Yield US Treasury 10 Tahun Sentuh ~5,2%, Tertinggi sejak 2007: Dipicu kenaikan harga minyak dan data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan. → Yield global yang tinggi cenderung menahan ruang penurunan yield obligasi domestik.

  • BI Rate Ditahan di 5,75%, Sesuai Konsensus: BI menilai suku bunga saat ini cukup untuk menjaga stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi. → Arah kebijakan BI ke depan akan bergantung pada pergerakan harga energi global dan arah kebijakan The Fed.

Market Update
Obligasi Pemerintah Tenor 10 Tahun Bertahan Tinggi Seiring Tingginya Yield Obligasi Global
Latest Update (25/09/2026)
Indikator Nilai Perubahan
IHSG 6.241,9
WoW ▼ -3,09%
YtD ▼ -27,81%
IDR 10Y Govt Bond Yield 7,10%
WoW ▼ -2 bps
YtD ▲ +103 bps
Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln 4,21%
WoW ▲ +10 bps
YtD ▲ +51 bps
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
Aset 1W 1M YtD
Obligasi -3,99 +0,86 +28,81
Saham -3,77 -7,55 -80,27
Sumber: Bloomberg, data all market per 25 September 2026.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent naik +1,6% ke level US$106/barrel pada Senin (28/9) pagi, setelah Presiden Donald Trump mengatakan pada Sabtu (26/9) bahwa dirinya telah menolak proposal yang diajukan Iran terkait gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. 

    • Sebelumnya, harga minyak sempat berada di level US$99,3/barrel pada Selasa (22/9), menyusul laporan Reuters yang menyebutkan peluang pembukaan Selat Hormuz oleh Iran.

  • Yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun menyentuh level 5,23% pada intraday Jumat (25/9), tertinggi sejak 2007. Menurut Bloomberg, kenaikan ini dipicu naiknya harga minyak, data aktivitas manufaktur dan jasa AS yang lebih kuat dari perkiraan.

  • Bank Indonesia mempertahankan suku bunga BI Rate di level 5,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus. Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas rupiah dan momentum pertumbuhan ekonomi.

    • Destry menilai tingkat BI Rate saat ini sudah memadai untuk menjaga stabilitas, mengingat BI telah menaikkan suku bunga secara pre-emptive sebesar 100 bps pada periode Mei–Juni 2026.

    • BI akan berfokus pada kebijakan yang lebih terarah untuk mendorong foreign inflow, yakni dengan meningkatkan insentif biaya untuk instrumen lindung nilai.

    • Pertumbuhan kredit perbankan mencapai +13,65% YoY per Agustus 2026 (vs Juli 2026: +13,58% YoY, Agustus 2025: +7,56% YoY), di atas target BI sebesar +8–12% untuk 2026.

    • Pada Senin (28/9), Destry mengatakan kepada DPR bahwa kenaikan suku bunga BI Rate sebesar +25 bps berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sebesar -0,1 percentage point.

  • Gubernur BI, Destry Damayanti, dan Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, pada Kamis (24/9) mengatakan bahwa sedang berkoordinasi terkait rencana pembiayaan negara untuk tahun depan, termasuk rencana penyelarasan penerbitan obligasi pemerintah dan SRBI tenor serupa agar tidak terjadi kesenjangan yield yang terlalu besar.

  • OECD dalam Economic Outlook Interim Report yang dirilis pada September 2026 merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi +5,2% YoY pada 2026 dan +5,1% YoY pada 2027, masing-masing naik +0,5 dan +0,1 percentage point dibandingkan outlook sebelumnya pada Juni 2026.

    • OECD menilai pertumbuhan Indonesia ditopang permintaan domestik yang tangguh serta kebijakan pemerintah yang melindungi rumah tangga dan perusahaan dari dampak kenaikan harga energi.

    • OECD juga memproyeksikan inflasi Indonesia melandai dari 3,3% pada 2026 menjadi 3% pada 2027, serta memperkirakan suku bunga BI Rate akan turun seiring melandainya inflasi.

  • Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, pada Kamis (24/9) memproyeksikan ekonomi Indonesia selama 2H26 akan tumbuh di atas +5,5% YoY, sembari menambahkan bahwa pemerintah masih berharap pertumbuhan ekonomi dapat mencapai +6% YoY.

  • BEI umumkan perubahan klasifikasi batasan auto rejection dan batas harga minimum saham di pasar reguler dan tunai dari Rp50/saham menjadi Rp1/saham per 28 September 2026. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas price discovery, mendorong peningkatan likuiditas, serta memberikan fleksibilitas pelaku pasar dalam pengelolaan portofolio investasinya.

What’s the Impact?

Secara Global: 

Pergerakan harga minyak saat ini masih sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS dan Iran terkait Selat Hormuz. Setiap sinyal kemajuan cenderung menurunkan harga, sementara sinyal ketidakpastian konflik mendorong harga naik. Selama belum ada kesepakatan yang jelas, pasar akan terus bereaksi terhadap setiap pernyataan dari kedua pihak.

Masih tingginya harga minyak membuat tekanan inflasi global bertahan. Di saat yang sama, laporan S&P Global menunjukkan aktivitas sektor swasta AS pada September 2026 tumbuh dengan laju tercepat dalam lebih dari 5 tahun. Kedua faktor ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed. Per Jumat (25/9), CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026 sebesar ~71%, naik dari ~58% sepekan sebelumnya (18/9). Ekspektasi ini mendorong indeks dolar AS (DXY) menguat +0,8% WoW ke level 100,9 per Jumat (25/9). Dolar AS yang lebih kuat membuat aset negara berkembang, termasuk Indonesia, berada dalam tekanan.

Untuk Indonesia:

Kondisi ekonomi domestik dinilai masih solid. Pertumbuhan kredit yang masih kuat dan revisi naik proyeksi pertumbuhan dari OECD menunjukkan permintaan domestik tetap menjadi penopang utama ekonomi. Di tengah pelemahan rupiah sebesar -0,85% WoW ke level Rp17.893/US$ pekan ini, BI memilih menahan suku bunga dan mengandalkan insentif biaya hedging untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Namun, kenaikan yield US Treasury mempersempit selisih yield obligasi pemerintah Indonesia terhadap US Treasury hingga mencapai level terendah sejak Januari 2026 per Kamis (24/9). Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko aliran keluar modal yang dapat menambah tekanan terhadap rupiah. Jika harga energi tidak kunjung turun, tekanan tersebut berpotensi berlanjut, di samping menambah beban subsidi energi yang dapat memperlebar defisit APBN. Konsensus Bloomberg memperkirakan masih ada ruang kenaikan BI Rate hingga akhir tahun, seiring kuatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC Oktober 2026.

Why Should I Care?

Pekan ini investor menghadapi beberapa tekanan sekaligus: harga minyak yang bergerak volatil akibat ketidakpastian negosiasi AS dan Iran, ekspektasi inflasi yang masih tinggi hingga akhir tahun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang menguat, serta dolar AS yang ikut menguat dan menekan rupiah ke level Rp17.893/US$ per Jumat (25/9), melemah -0,85% WoW.

Bagi pasar obligasi, yield global yang tinggi dan selisih yield yang semakin sempit dengan US Treasury, ditambah peluang kenaikan BI Rate, cenderung menahan ruang penurunan yield dalam waktu dekat. Namun, insentif hedging dari BI serta koordinasi penerbitan obligasi pemerintah dan SRBI bersama Kementerian Keuangan dapat membantu menjaga minat investor terhadap obligasi pemerintah.

Bagi pasar saham, penguatan dolar AS dapat membuat pergerakan jangka pendek lebih fluktuatif. Di sisi lain, penurunan batas harga minimum saham oleh BEI menjadi bagian dari kelanjutan reformasi pasar modal Indonesia. Langkah-langkah ini berpotensi mendukung perbaikan penilaian pasar Indonesia oleh penyedia indeks global, sehingga dapat mendorong aliran masuk modal asing kembali ke pasar saham.

Ke depan, investor perlu memantau rilis data inflasi PCE AS periode Agustus 2026, perkembangan negosiasi AS dan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz, hasil pertemuan FOMC The Fed pada Oktober 2026, serta pergerakan nilai tukar rupiah dan respons Bank Indonesia.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor dapat menyesuaikan alokasi aset dengan profil risiko dan jangka waktu investasi. Reksa Dana Pasar Uang tetap menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio. Sementara itu, SBN Retail SBR015 dengan skema imbal hasil floating with floor (imbal hasil akan naik jika suku bunga naik) dapat membantu menjaga stabilitas portofolio sekaligus memberikan passive income rutin bulanan. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat dipertimbangkan untuk mendiversifikasi eksposur terhadap rupiah.

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest Money Market USD

Return
+11,29%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,65%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+10,78%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,17%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 28 September 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,81%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,53%
Return reksa dana per 21 September 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

SBN SBR015: Minimum Return 6,75% p.a., Cair Setiap Bulan 

Modal

Imbal hasil Bulanan
SBR015-T2
(Tenor 2 Tahun)

Imbal hasil Bulanan
SBR015-T4
(Tenor 4 Tahun)

Rp10 Juta

Rp50.625

Rp51.372

Rp50 Juta

Rp253.125

Rp256.860

Rp100 Juta

Rp506.250

Rp513.720

Rp500 Juta

Rp2.531.250

Rp2.568.600

Rp1 Miliar

Rp5.062.500

Rp5.137.200

Rp5 Miliar

Rp25.312.500

Rp25.686.000

* Imbal hasil bulanan berdasarkan imbal hasil minimum (floating with floor). Minimum pembelian Rp1.000.000. Kupon dibayar setiap bulan, sudah net setelah dipotong pajak (10%).

In Case You Missed It

📆 Bibit Insights – What If: Subscribe untuk Investasi Setiap Bulan? –Dengan SIP (Systematic Investment Plan) di Bibit, kamu bisa membuat investasi seperti subscription bulanan. Tentukan jadwal dan produk reksa dana yang kamu pilih, lalu investasi akan berjalan secara otomatis.

🎭 Bibit Stockbit x Art Jakarta 2026: Lost at Sea – Bibit & Stockbit kembali hadir sebagai Lead Partner dalam Art Jakarta pada 2-4 Oktober 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Kami mempersembahkan "Lost at Sea" karya Endy Pragusta, sebuah instalasi yang merefleksikan perjalanan menuju tujuan finansial.

Other Articles 

⚡POWR: From Boring to Booming, Powered by Data Center – POWR memasuki fase growth, didorong oleh akselerasi pertumbuhan data center dan pemulihan volume penjualan listrik ke PLN dengan target dividend yield 9% sebagai basis valuasi.

🦅 Narasi Hawkish The Fed Semakin Menguat – Mendorong indeks dolar AS (DXY) naik sekitar +0,1% ke level ~101,2 pada Kamis (24/9) sore setelah naik sekitar +0,5% pada Rabu (23/9), menandai level tertinggi sejak akhir Juli 2026.

🌷 BI Tahan Suku Bunga Sejalan Ekspektasi, Andalkan Insentif untuk Jaga Rupiah – Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan bahwa keputusan ini diambil untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.