Bibit Weekly – Ekonomi Indonesia 2Q26 Tumbuh di Atas Ekspektasi

Market Summary

  • Volatilitas Harga Minyak Seiring Ketidakpastian Selat Hormuz: Turun sekitar -7,3% WoW, meski kembali naik ke ~US$87/barrel per Senin (10/8). → Volatilitas geopolitik tetap menjadi risiko selama akses Selat Hormuz belum pasti.

  • Ekonomi Indonesia Tumbuh +5,29% YoY pada 2Q26: Melampaui ekspektasi konsensus Reuters dan Bloomberg (+5,1%). → Pertumbuhan domestik yang bertahan menjadi penopang sentimen pasar dari dalam negeri.

  • Data Tenaga Kerja AS di Bawah Ekspektasi: NFP AS Juli turun -23 Ribu vs konsensus +80 ribu, tingkat pengangguran turun ke 4,1% akibat penurunan angkatan kerja. → Ekspektasi suku bunga The Fed di September 2026 berbalik dari kenaikan menjadi ditahan, harga emas naik +7,2% WoW.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent Turun sekitar -7,3% WoW, meski kembali naik ke ~US$87/barrel per Senin (10/8).

    • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan pada Minggu (9/8) bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz sudah memasuki tahap akhir, tetapi Iran tidak akan membuka kembali selat tersebut sebelum AS memenuhi sejumlah tuntutan.

  • Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat non–farm payroll (NFP) AS turun -23 ribu pada Juli 2026 (vs Juni 2026: +20 ribu), jauh di bawah ekspektasi konsensus (+80 ribu) sekaligus menandai penurunan pertama dalam 5 bulan.

    • Data NFP Juni 2026 direvisi turun dari +57 ribu menjadi +20 ribu, sementara NFP Mei 2026 juga direvisi turun dari +129 ribu menjadi +63 ribu, mencatatkan total revisi turun -103 ribu untuk Mei–Juni 2026.

    • Tingkat pengangguran AS turun ke level 4,1% pada Juli 2026 (vs Juni 2026: 4,2%, Mei 2026: 4,3%), melanjutkan penurunan yang sebagian besar didorong oleh keluarnya sejumlah besar masyarakat dari angkatan kerja secara keseluruhan. 

    • Harga emas naik lebih dari 2% ke level ~US$4.340/oz per penutupan Jumat (7/8) dan +7,2% WoW. Indeks dolar AS turun ~0,4% ke level 99,5 per penutupan Jumat (7/8).

  • BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai +5,29% YoY pada 2Q26 (vs 1Q26: +5,61%, 2Q25: +5,12% YoY), melampaui ekspektasi konsensus Reuters (+5,1% YoY) dan Bloomberg (+5,14% YoY) dan membuat pertumbuhan ekonomi selama 1H26 mencapai +5,45% YoY (vs 1H25: +4,99% YoY).

    • Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh +3,73% QoQ pada 2Q26 (vs 2Q25: +4,04% QoQ).

    • Sebagai konteks, outlook APBN 2026 terbaru yang dirilis Kementerian Keuangan pada Juli 2026 menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar +5,6–6% YoY.

    • Defisit neraca perdagangan menyusut pada Juni 2026 menjadi US$450 juta (vs Mei 2026: defisit US$1,61 miliar) dan lebih baik dari ekspektasi konsensus yang memperkirakan defisit US$780 juta.

  • S&P Global Ratings mengatakan pada Kamis (6/8) bahwa tren sovereign credit Indonesia dalam 1–2 tahun ke depan akan bergantung pada kemampuan pemerintah untuk menstabilkan sentimen investor.

    • S&P mencatat bahwa persepsi mengenai menurunnya prediktabilitas kebijakan di kalangan investor telah mempengaruhi sentimen terkait profil sovereign credit Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, yang kemungkinan disebabkan oleh penerapan mendadak sejumlah kebijakan pemerintah yang berdampak besar, khususnya di sektor sumber daya alam.

    • S&P tidak mengekspektasikan pelemahan metrik kredit fiskal dan eksternal Indonesia akan memicu penurunan rating dalam 1–2 tahun ke depan.

  • Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menyampaikan sejumlah informasi dan rencana kebijakan pekan ini:

    • Bank Indonesia mencatat bahwa indeks keyakinan konsumen Indonesia turun ke level 116,8 pada Juli 2026 (vs Juni 2026: 117,8, Juli 2025: 118,1), menandai level terendah sejak September 2025 meski masih berada pada level optimis (indeks >100).

    • Bank Indonesia mencatat bahwa cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 turun tipis ke level US$145,3 miliar (vs Juni 2026: US$145,6 miliar), dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, meski masih ditopang penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah.

    • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pada Kamis (6/8) bahwa pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai ~Rp26,3 T pada 2H26 untuk menjaga momentum pertumbuhan dan daya beli masyarakat, di tengah risiko dampak El Nino yang sudah aktif sejak Juni 2026.

    • Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Rabu (5/8) bahwa pemerintah akan memperpanjang penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp200 T di himpunan bank milik negara (Himbara) hingga Juli 2027.

  • Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan pada Senin (10/8) bahwa Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti, gubernur sementara Bank Indonesia saat ini, sebagai kandidat tunggal gubernur definitif Bank Indonesia kepada DPR.

    • Menyusul kabar tersebut, rupiah menguat 0,7% ke Rp17.762/US$ dan yield obligasi 10 tahun turun -4 bps ke level 7,24% pada Senin (10/8).

What’s the Impact?

Secara Global: 

Harga minyak turun dalam sepekan seiring prospek kesepakatan pembukaan Selat Hormuz yang makin terlihat. Meski demikian, pembukaannya kemungkinan bersifat bersyarat. Menurut Rystad Energy, kapal masih akan menghadapi syarat dan biaya transit. Artinya kelegaan harga energi bisa berhenti separuh jalan, dan harga yang kembali naik pada awal pekan ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen bisa berbalik.

Dari AS, data tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan mendorong pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Probabilitas suku bunga ditahan pada pertemuan September 2026 kini menjadi skenario mayoritas di level ~54% per Senin (10/8) menurut CME FedWatch Tool, naik dari ~33% sepekan sebelumnya (3/8).

Pergeseran ini turut mengangkat harga emas, karena prospek suku bunga yang tidak naik membuat emas relatif lebih menarik. Meski demikian, hal ini bisa berbalik jika harga energi kembali naik atau data inflasi AS pekan ini keluar lebih tinggi dari perkiraan.

Untuk Indonesia:

Sebagai net importer minyak, harga energi yang lebih rendah menurunkan beban subsidi energi Indonesia sekaligus meredakan tekanan inflasi dan nilai impor. Defisit neraca dagang baru menyusut pada Juni, dan pelemahan harga minyak membuka ruang perbaikan lanjutan, jika penurunannya bertahan. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga AS terus mereda, tekanan eksternal terhadap rupiah akan berkurang.

Di sisi fiskal, pemerintah menyiapkan stimulus 2H26 untuk menjaga daya beli dan mengantisipasi dampak El Nino, yang berisiko mengganggu produksi pangan dan mengangkat harga di dalam negeri. Bersamaan dengan itu, penempatan dana pemerintah di bank-bank negara diperpanjang, menjaga likuiditas perbankan tetap longgar dan menopang penyaluran kredit. Kombinasi belanja yang naik dan likuiditas yang tetap longgar berpotensi menambah tekanan pada rupiah.

Why Should I Care?

Pekan ini sebagian besar berita membawa sentimen positif: harga minyak turun, pertumbuhan ekonomi di atas ekspektasi, dan S&P menyatakan tidak mengekspektasikan penurunan rating. Meski begitu, kabar baik ini masih bersyarat: ketentuan transit Selat Hormuz belum disepakati. Jika negosiasi kembali belum membuahkan hasil, tekanan inflasi dari sisi energi bisa kembali, dan bersamaan dengan itu risiko inflasi pangan dari El Nino masih terbuka. 

Bagi pasar obligasi, hal ini berarti penurunan yield mungkin tidak secepat yang tersirat dari kabar baik pekan ini, terlebih karena kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap besar. Bagi pasar saham, kombinasi dolar yang melemah dan momentum pertumbuhan domestik menjadi penopang, meski keyakinan konsumen yang melemah menandakan momentumnya belum merata dan arahnya masih bergantung pada pergerakan suku bunga serta nilai tukar ke depan.

Yang masih perlu dipantau dalam beberapa pekan ke depan adalah bentuk akhir ketentuan transit Selat Hormuz, penunjukan gubernur definitif Bank Indonesia, dan keputusan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur berikutnya. Ketiganya akan lebih menentukan arah yield obligasi dan rupiah dibanding angka pertumbuhan kuartal ini.

Selama tiga hal itu belum jelas, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio, sesuai dengan profil risiko masing-masing investor. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat menjadi salah satu cara mendiversifikasi eksposur terhadap risiko pelemahan rupiah.

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest Money Market USD

Return
+13,05%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,58%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+12,80%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,35%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 10 Agustus 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,80%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,54%
Return reksa dana per 10 Agustus 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Obligasi FR Jangka Pendek di Bibit
PBS030 (5,875%)
FR Syariah
★ Top Short Term
 
Yield
6,83% p.a.
Jatuh Tempo
15 Jul 2028
Yield per 11 Agt 2026 pada jam market 10.30-14.00 WIB

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research. 


In Case You Missed It

🗓️SBN Syariah SR025 Segera Terbit 21 Agustus, Imbal Hasil Fixed Rate –  Aset yang aman dijamin undang-undang dan dikelola secara syariah. Imbal hasil stabil hingga jatuh tempo dan pasti ditransfer ke RDN Wallet tiap bulan, jadi sumber passive income rutin.

💰Bibit Insights: Investasi Aman & Tenang dengan Return di Atas Deposito – Deposito lebih dikenal sebagai aset rendah risiko dan aman. Tetapi bunga deposito bank umum yang dijamin LPS saat ini hanya 3,75% p.a. dengan pajak 20%. Di sisi lain, ada 2 aset lain yang rendah risiko dengan return lebih optimal: Obligasi FR dan Reksa Dana Pasar Uang.

Other Articles 

🍿 CNMA: Sustainable 9% Dividend Play with Limited Downside – CNMA menawarkan potensi dividen dengan yield ~9% dan prospek pertumbuhan laba +8%/tahun. Valuasi sudah turun ke level yang relatif murah (~11x P/E pada 2026F), membatasi risiko penurunan lanjutan.

🤑 Emas +5% dalam 2 Hari, Tembaga & Timah Dekati ATH – Harga logam kompak menguat dalam beberapa hari perdagangan terakhir, dipicu meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed seiring tanda–tanda kemajuan pembukaan kembali Selat Hormuz.

🚀 Ekonomi RI Tumbuh +5,29% YoY pada 2Q26, Lampaui Ekspektasi – BPS mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai +5,29% YoY pada 2Q26 (vs. 1Q26: +5,61%, 2Q25: +5,12% YoY), melampaui ekspektasi konsensus.