Bibit Weekly: Fenomena Trading Halt hingga Buyback oleh Para Pengendali

Volatilitas IHSG, Trading Halt, hingga Kelonggaran Buyback

  • BEI menerapkan trading halt selama 30 menit menjelang akhir sesi 1 hari Selasa (18/3), setelah IHSG anjlok lebih dari -5%, pertama kalinya sejak akhir 2020. 

  • Secara terpisah, OJK mengumumkan bahwa emiten dapat melakukan buyback tanpa memerlukan persetujuan RUPS pada Rabu (19/3) yang berlaku selama 6 bulan sejak 18 Maret 2025.

  • Menyusul adanya kelonggaran buyback, sejumlah petinggi perusahaan melakukan buyback dalam sepekan terakhir.

  • IHSG sendiri telah melemah -11,6% YtD ke level 6.258,2, seiring foreign outflow sebesar Rp7,43 triliun dalam seminggu terakhir. Nilai tersebut setara dengan 22% dari total foreign outflow YtD yang mencapai Rp33,5 triliun per Jumat (21/3).

The Fed dan BI Kompak Tahan Suku Bunga 

  • Pada Februari 2025, BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,09% YoY, deflasi tahunan pertama sejak Maret 2000. 

  • Bank Indonesia pada Rabu (19/3) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75%. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa meski masih ada ruang untuk penurunan suku bunga, kondisi global saat ini belum memungkinkannya. Konsensus Bloomberg sendiri memproyeksikan pemangkasan BI Rate sekitar dua kali pemangkasan hingga akhir 2025.

  • Sementara itu, The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di rentang 4,25%-4,5% pada Rabu (19/3) waktu setempat. Di sisi lain, The Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS lebih lambat, dari 2,1% menjadi 1,7% dan inflasi diproyeksikan lebih tinggi, dari 2,5% menjadi 2,7% selama 2025.

  • Gubernur The Fed, Jerome Powell, mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil di tengah ketidakpastian ekonomi, potensi kenaikan inflasi, dan tingkat pengangguran seiring kebijakan pemerintahan baru termasuk penerapan tarif impor

Key Takeaways

Penurunan IHSG yang cukup ekstrim hingga terjadi trading halt dapat dikaitkan dengan beberapa faktor, seperti kekhawatiran pasar terhadap defisit dan pertumbuhan ekonomi. Ke depannya, faktor yang perlu diperhatikan antara lain adalah ekspektasi pergerakan suku bunga BI dan eksekusi berbagai program pemerintah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kepercayaan (confidence) investor. 

Di tengah gejolak pasar saham, kami ingin menekankan kembali akan pentingnya pengelolaan risiko, salah satunya dengan diversifikasi kelas aset low risk. Salah satu aset yang dapat dipertimbangkan investor adalah SBN Retail floating with floor seri ST014 yang menawarkan risk-reward menarik. ST014 bisa dibeli di Bibit hingga 16 April 2025 pukul 10.00 WIB. 

  • Imbal hasil ST014 floating with floor: bisa naik jika suku bunga naik, namun tidak akan turun melebihi imbal hasil minimumnya (floor).

  • ST014 bisa jadi sumber passive income karena imbal hasilnya pasti cair tiap bulan tanggal 10. Berikut adalah simulasi passive income yang bisa diterima investor dari ST014: 

Market Update

Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu.