Market Summary
Foreign Inflow Kembali, Rupiah Menguat: Dana asing kembali masuk ke pasar saham dan obligasi domestik untuk pertama kalinya sejak Mei 2026. → membantu penguatan rupiah dan mengurangi tekanan bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga menjelang RDG 21–22 Juli.
Harga Minyak Sempat Sentuh ~US$90/barrel: Iran umumkan gencatan senjata dengan AS telah berakhir. → sebagai net importir minyak, kenaikan ini berpotensi menambah risiko beban subsidi energi dan menekan APBN.
Inflasi CPI AS Turun di Bawah Ekspektasi: Inflasi AS Juni 2026 turun ke +3,5% YoY (vs Mei 2026: +4,2% YoY). → menurunkan ekspektasi The Fed akan menaikan suku bunga dalam jangka pendek.
What Happened in the Market
Harga minyak Brent sempat menyentuh level US$90/barrel pada Senin (20/7) pagi, melanjutkan kenaikan 11,2% WoW per Jumat (17/7), seiring Iran umumkan gencatan senjata dengan AS telah berakhir.
Reuters melaporkan pada Senin (20/7) bahwa kelompok militan Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran mengumumkan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Reuters juga melaporkan bahwa Iran pada Kamis (16/7) meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup jalur pelayaran minyak Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb jika AS menyerang infrastruktur energi Iran.
Presiden Donald Trump pada Selasa (14/7) kembali mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada pekan depan jika Iran tidak melanjutkan negosiasi perdamaian perang dengan AS.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis sejumlah data inflasi yang tercatat di bawah ekspektasi pada bulan Juni 2026:
inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS Juni 2026: +3,5% YoY (vs Mei 2026: +4,2% YoY), di bawah ekspektasi konsensus (3,8% YoY).
inflasi inti: 2,6% YoY pada Juni 2026 (vs Mei 2026: inflasi 2,9% YoY), di bawah ekspektasi konsensus (2,8% YoY).
indeks harga produsen (PPI) AS inflasi 5,5% YoY pada Juni 2026 (vs Mei 2026: inflasi 6% YoY), di bawah ekspektasi konsensus (6,2% YoY), merupakan level terendah dalam 3 bulan terakhir.
IHSG naik +4,3% WoW dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 0,9% WoW ke level 17.895 pada Jumat (17/7), setelah sempat menyentuh level 18.105 pada Senin (13/7) seiring dipertahankannya peringkat kredit Indonesia oleh S&P.
Menyusul keputusan S&P untuk mempertahankan rating dan outlook kredit Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa pemerintah berjanji untuk terus memperkuat kualitas dan prediktabilitas implementasi kebijakan guna menjaga kepercayaan pasar.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan dalam rapat bersama DPR pada Selasa (14/7) bahwa pemerintah tidak akan menaikkan tarif pajak dalam jangka menengah. Purbaya menjelaskan bahwa strategi peningkatan penerimaan negara akan difokuskan melalui perluasan basis perpajakan di bidang ekonomi digital, shadow economy, serta sektor informal.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pada Jumat (17/7) bahwa pihaknya akan terus memantau distribusi likuiditas perbankan untuk memastikan tingkat likuiditas yang memadai guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
What’s the Impact?
Secara Global:
Data inflasi AS yang tercatat di bawah ekspektasi — baik CPI, inflasi inti, maupun PPI — menurunkan ekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga dalam jangka pendek. Namun, kenaikan kembali harga minyak akibat eskalasi konflik AS–Iran berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan jika berlanjut, maka akan menahan laju penurunan inflasi ke depan.
Untuk horizon yang lebih panjang, mayoritas pasar masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi hingga akhir 2026. Berdasarkan CME Fedwatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir 2026 berada di ~81% per Jumat (17/7), dari ~85% pada Jumat sebelumnya (10/7).
Untuk Indonesia:
Bagi Indonesia, pelemahan inflasi AS dan turunnya probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat secara umum berpotensi berdampak positif. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang rupiah untuk menguat kembali ke bawah level 18.000 per dolar AS, melalui foreign inflow ke pasar obligasi maupun saham domestik.
Jika penguatan rupiah dan foreign inflow berlanjut, tekanan bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga pun cenderung mereda, karena stabilitas nilai tukar relatif terjaga. Namun kenaikan harga minyak tetap menjadi risiko bagi APBN yang perlu dicermati kedepannya sebagai negara net importir minyak.
Why Should I Care?
Sebagai investor, pekan ini terasa seperti menerima dua kabar yang saling bertolak belakang secara bersamaan. Di satu sisi, penurunan inflasi AS memberikan harapan bagi Indonesia karena tekanan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga mulai mereda. Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik yang meluas membayangi prospek ke depan. Kedua faktor tersebut berpotensi menentukan arah pasar dalam beberapa pekan mendatang.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga kondisi fiskal melalui efisiensi anggaran sejumlah program, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tahun ini diperkirakan masih dapat dipangkas sekitar Rp68–80 triliun.
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21–22 Juli menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan pasar. Sepanjang tahun ini, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar +100 bps untuk menopang rupiah. Sejumlah faktor juga mulai mendukung stabilisasi rupiah, seperti dipertahankannya peringkat kredit Indonesia oleh S&P pada 13 Juli dan imbal hasil obligasi pemerintah yang kembali menarik minat investor asing.
Di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi volatilitas, instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan stabilitas portofolio. Selain itu, meski rupiah menunjukkan tanda-tanda pemulihan pekan ini, kenaikan harga minyak tetap menjadi risiko bagi APBN dan nilai tukar ke depan. Reksa Dana Pasar Uang USD dapat menjadi salah satu cara untuk mendiversifikasi risiko tersebut.
| Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit | |||||||||||||||
|
|||||||||||||||
|
Return reksa dana per 17 Juli 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
| Top Obligasi FR Jangka Pendek di Bibit | ||||||||
|
||||||||
|
||||||||
|
Yield per 20 Juli 2026 pada jam market 10.30-14.00 WIB
|
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
🗒️ Bibit Update - Market Recap Semester I-2026 – Semester ini dimulai optimis dengan IHSG yang sempat cetak all-time high. Namun, sejumlah katalis negatif membalikkan arah pasar dan menekan hampir semua kelas aset di Indonesia.
💭Bibit Insights: Perbandingan Obligasi FR, Deposito USD, dan Deposito Rupiah – Tiga pilihan aset rendah risiko yang sering menjadi pertimbangan adalah Obligasi FR tenor pendek, Deposito Rupiah, dan Deposito USD. Tapi mana yang lebih sesuai untuk portofolio?
Other Articles
🆕 BEI Tambah 37 Emiten ke Daftar HSC, Total Jadi 51 Emiten – BEI pada Rabu (15/7) pagi menambahkan 37 emiten ke dalam daftar high shareholding concentration (HSC). Dengan penambahan ini, sudah ada total 51 emiten yang masuk daftar HSC per Rabu (15/7) pagi.
🎯 S&P Pertahankan Rating & Outlook Kredit Indonesia – Lembaga pemeringkat sovereign credit, S&P Global Ratings (S&P), pada Senin (13/7) mengumumkan mempertahankan rating Indonesia di level 'BBB' untuk kredit jangka panjang dan 'A-2' untuk kredit jangka pendek dengan outlook 'stable’.
🏦 BBTN 1H26: Laba Bersih +41% YoY, Jauh Lampaui Ekspektasi – BBTN mencatat laba bersih Rp1,3 T pada 2Q26 (+61% YoY, +17% QoQ), tertinggi secara kuartalan sejak 1Q19, membuat laba bersih selama 1H26 mencapai Rp2,4 T (+41% YoY), didukung oleh penurunan beban provisi yang signifikan (-61% YoY) seiring kualitas aset yang membaik.
