Bibit Weekly – Gubernur BI Mundur & BI Rate Ditahan di 5,75%

Market Summary

  • Perry Warjiyo Mundur sebagai Gubernur Bank Indonesia: Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti mengisi sementara posisi Gubernur BI. → rupiah melemah ke atas Rp18.000/US$ dan konsistensi kebijakan menjadi fokus investor.

  • BI Rate Ditahan di 5,75%: Di luar ekspektasi konsensus yang memperkirakan kenaikan +25 bps. → BI memilih memperluas insentif nilai tukar untuk menarik modal asing dan menopang rupiah.

  • Harga Minyak Sempat >US$100/Barrel: Dipicu ancaman blokade Houthi terhadap Arab Saudi, sebelum turun signifikan seiring gencatan senjata akhir pekan. → meredakan tekanan terhadap beban subsidi energi APBN, meski volatilitas geopolitik tetap menjadi risiko.

What Happened in the Market

  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya efektif Sabtu (25/7), beberapa hari setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan menahan BI Rate. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, akan mengisi sementara posisi gubernur Bank Indonesia.

    • Bloomberg melaporkan bahwa Fitch Ratings menilai tekanan eksternal terhadap Indonesia dapat berlanjut menyusul mundurnya Gubernur BI. Director Sovereigns Fitch, George Xu, menyebut sentimen investor rapuh di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan persepsi atas independensi BI.

    • Menyusul kabar tersebut, rupiah melemah -0,35% ke Rp18.005/US$, IHSG turun -0,17%, dan yield obligasi 10 tahun naik tipis +2 bps meski harga minyak Brent telah turun sekitar -6% pada Senin (27/7).

  • Bank Indonesia mempertahankan suku bunga BI Rate di level 5,75%, di luar ekspektasi konsensus yang memperkirakan kenaikan 25 bps. Keputusan ini menghentikan sementara tren kenaikan suku bunga yang telah naik +100 bps selama periode Mei–Juni 2026, meski arah kebijakan ke depan masih akan bergantung pada perkembangan nilai tukar dan hasil FOMC.

    • Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya memilih memperluas sejumlah insentif nilai tukar (swap dan DNDF lindung nilai, serta insentif transaksi mata uang lokal/LCT) dibandingkan menaikkan suku bunga, dinilai lebih efektif menarik aliran modal asing dan menopang rupiah tanpa risiko negatif ke pertumbuhan ekonomi.

    • Bank Indonesia mencatat bahwa pertumbuhan kredit perbankan mencapai +12,67% YoY per Juni 2026 (vs. Mei 2026: +11,51% YoY, Juni 2025: +7,77% YoY), lebih tinggi dibandingkan target 2026 dari Bank Indonesia di kisaran +8–12% YoY.

  • Vice President Sovereign Risk Division Moody’s Ratings, Martin Petch, mengatakan bahwa pihaknya masih menyoroti ketidakpastian kebijakan dan risiko keberlanjutan fiskal di Indonesia, sembari memperingatkan bahwa risiko penurunan kemungkinan akan terus berlanjut.

    • Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, mengatakan pada Selasa (21/7) bahwa anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sementara ini kembali dipangkas dari Rp268 triliun menjadi Rp229 triliun, sembari menambahkan bahwa pihaknya terus meninjau ruang efisiensi lebih lanjut.

  • Harga minyak Brent turun sekitar -8,7% ke kisaran ~US$88/barrel pada Senin (27/7), melanjutkan penurunan sekitar -3,9% pada Jumat (24/7), seiring AS dan Iran menghentikan serangan selama akhir pekan.

    • Sebelumnya, harga minyak Brent sempat berada di atas US$100/barrel pada Kamis (23/07) untuk pertama kalinya sejak akhir Mei 2026, didorong sejumlah gangguan pasokan yang terjadi bersamaan.

    • Al Jazeera melaporkan Houthi menyerang dua tanker Saudi pada Kamis (23/07) di Bab el-Mandeb, selat yang menjadi satu-satunya pintu masuk Laut Merah dari Samudra Hindia dan dilintasi sekitar 12% perdagangan global harian.

What’s the Impact?

Secara Global: 

Ancaman blokade Houthi terhadap jalur pengiriman minyak Arab Saudi sempat memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan mendorong harga minyak menembus US$100/barrel. Namun gencatan senjata akhir pekan dengan cepat meredakan tekanan tersebut, menegaskan bahwa reli harga energi kali ini lebih didorong premi risiko geopolitik jangka pendek daripada perubahan fundamental dari pasokan minyak.

Tekanan ini turut menjadi sorotan menjelang pertemuan FOMC The Fed pada 29–30 Juli 2026, di mana pelaku pasar akan mencermati apakah risiko inflasi dari harga energi memengaruhi arah kebijakan suku bunga AS ke depan. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga setidaknya sekali hingga akhir 2026 naik ke ~89% per Senin (27/7), dari ~83% sepekan sebelumnya.

Untuk Indonesia:

Turunnya harga minyak meredakan tekanan terhadap beban subsidi energi domestik untuk saat ini. Namun perhatian investor beralih ke faktor domestik, terutama konsistensi kebijakan BI setelah mundurnya Gubernur Perry Warjiyo. Reaksi awal yang terkonsentrasi pada pelemahan rupiah menunjukkan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian akibat pergantian pimpinan Bank Indonesia.

Risiko fiskal turut menjadi sorotan: peringatan Moody's terkait ketidakpastian kebijakan dan keberlanjutan fiskal, di tengah pemangkasan anggaran MBG yang berulang, mencerminkan kekhawatiran pasar atas kredibilitas konsolidasi defisit anggaran pemerintah. Jika sentimen risk-off global kembali meningkat, kerentanan fiskal ini dapat menambah tekanan pada rupiah dan yield obligasi domestik. Meski demikian, aliran dana asing ke pasar obligasi domestik masih tercatat masuk sebesar +Rp4,31 triliun dalam sepekan dan +Rp19,38 triliun dalam sebulan terakhir, meski arah aliran dana ini tetap perlu dicermati, terutama menjelang hasil FOMC.

Why Should I Care?

Bagi investor yang mencermati pergerakan rupiah, awal pekan ini membawa tekanan baru. Rupiah kembali melemah ke atas Rp18.000/US$ pada Senin (27/7) menyusul mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo. Pergerakan ini berbalik dari pekan sebelumnya, ketika rupiah sempat menguat ke ~Rp17.880/US$ setelah BI menahan suku bunga dan mengumumkan insentif untuk mendukung stabilitas nilai tukar.

Meski tekanan eksternal dari harga minyak mereda, perhatian kini tertuju pada kesinambungan kebijakan BI di masa transisi. Pemerintah menegaskan tidak ada perubahan arah kebijakan maupun kekosongan di bank sentral, namun Fitch menilai ketidakpastian ini berpotensi menekan rupiah dan menaikkan biaya utang pemerintah.

Di sisi pasar saham, IHSG masih mencatatkan penguatan yang cukup besar (+9,44% MTD per Senin, 27/7) sepanjang Juli, meski aliran dana asing masih keluar sebesar -Rp3,34 triliun dalam sepekan dan -Rp8,04 triliun dalam sebulan terakhir. Kontras ini menjadi pengingat bahwa pergerakan jangka pendek dapat berbalik cepat ke dua arah, sehingga alokasi yang sesuai profil risiko tetap menjadi pegangan utama.

Ke depan, sejumlah katalis perlu diperhatikan: hasil FOMC The Fed pada 29–30 Juli dan sejauh mana BI menjaga kesinambungan kebijakan stabilisasi rupiah di bawah kepemimpinan sementara. Di tengah masa transisi ini, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio, sesuai dengan profil risiko masing-masing investor.

Selain itu, karena risiko terhadap rupiah masih membayangi, baik dari sisi sentimen seputar kepemimpinan baru Bank Indonesia maupun volatilitas harga minyak, Reksa Dana Pasar Uang USD dapat menjadi salah satu cara mendiversifikasi eksposur terhadap risiko pelemahan rupiah.

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest

Sucorinvest Money Market USD

Return
+14,07%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,54%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
BRI Seruni

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+14,39%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,40%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 24 Juli 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,77%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,53%
Return reksa dana per 24 Juli 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Obligasi FR Jangka Pendek di Bibit
PBS030
PBS030 (5,875%)
FR Syariah
★ Top Short Term
 
Yield
6,98% p.a.
Jatuh Tempo
15 Jul 2028
FR0101
FR0101 (6,875%)
Obligasi FR
 
Yield
6,93% p.a.
Jatuh Tempo
15 Apr 2029
Yield per 27 Juli 2026 pada jam market 10.30-14.00 WIB

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research. 


In Case You Missed It

Bibit Insights: Yield Obligasi FR Mulai Menarik, Kenapa? – Saat yield sedang tinggi seperti sekarang, kamu bisa mengunci yield menarik 6,80% p.a. per tahun untuk tenor pendek 2 tahun maupun tenor yang lebih panjang dengan yield hingga 7% p.a.

Other Articles 

🏦 Laba Bersih BMRI 1H26 (+24% YoY) Lampaui Ekspektasi, Didorong Fee Income & Efisiensi Opex – BMRI mencatat laba bersih Rp15 T pada 2Q26 (+33% YoY, -2% QoQ), membuat laba bersih selama 1H26 mencapai Rp30,4 T (+24% YoY), melampaui ekspektasi karena setara 53% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 3 tahun terakhir: 46% realisasi tahunan).

🌷 BI Rate Dipertahankan di 5,75%, BI Andalkan Insentif untuk Stabilisasi Rupiah – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa memperluas insentif dinilai lebih efektif dalam menarik aliran modal asing dan mendukung nilai tukar rupiah. 

📈 IHSG Menguat +12% MTD saat Reli Saham AI Mereda – IHSG telah menguat +12% MTD per Selasa (21/7), kontras dengan pelemahan indeks saham Korea Selatan (-20% MTD), Taiwan (-4% MTD), dan Jepang (-5% MTD).