Market Summary
Harga Minyak Turun ke ~US$72/Barrel: Seiring optimisme tercapainya kesepakatan perdamaian AS-Iran dan meningkatnya pasokan minyak. → berpotensi menekan laju inflasi dan meringankan beban defisit APBN.
Inflasi PCE Inti AS Mei 2026 Naik 3,4% YoY: Tertinggi sejak Oktober 2023, dipicu harga jasa yang masih sulit turun. → memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed tetap bertahan.
MSCI Mempertahankan Posisi Indonesia di Emerging Market: Mengakui arah reformasi pasar Indonesia sudah tepat. → Namun MSCI masih akan memantau implementasi yang konsisten dan dampak berkelanjutan dari reformasi ini.
What Happened in the Market
Harga minyak Brent turun sekitar -10,6% WoW ke kisaran ~US$72/barrel per Jumat (26/6), hampir sama dengan harga sebelum perang AS–Iran dimulai pada akhir Februari 2026.
Reuters melaporkan AS dan Iran sepakat menghentikan eskalasi terbaru dan membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal, dengan pembicaraan dijadwalkan berlanjut di Qatar pada Selasa (30/6).
Reuters juga melaporkan bahwa Irak tengah mempertimbangkan untuk keluar dari OPEC jika kelompok produsen minyak tersebut tidak mengizinkan Irak untuk meningkatkan produksi minyaknya secara signifikan.
Biro Analisis Ekonomi AS mencatat bahwa inflasi PCE inti AS naik 3,4% YoY pada Mei 2026 (vs April: 3,3% YoY), tertinggi sejak Oktober 2023. Secara bulanan, PCE inti naik 0,3% MoM, sama seperti dua bulan sebelumnya.
Harga emas sempat turun ke bawah US$4.000/oz pada Rabu (24/6), pertama kali sejak November 2025, sebelum kembali menguat ke ~US$4.088/oz pada penutupan Jumat (26/6), setelah data inflasi PCE inti AS bulanan yang sesuai ekspektasi meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga. Meski demikian, harga emas masih membukukan penurunan mingguan keempat berturut-turut.
Indeks dolar AS (DXY) menguat ke level ~101 per Jumat (26/6), salah satu level tertinggi selama setahun terakhir.
Konsensus Bloomberg Juni 2026 mengekspektasikan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga sebesar +25 bps ke level 6% pada 3Q26 dan mempertahankan ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2026 di +5,07% YoY.
Inflasi rata–rata tahun 2026 Indonesia diekspektasikan akan naik ke level 3,3% YoY (vs konsensus Mei 2026: 3,25% YoY), dengan ekspektasi inflasi indeks harga konsumen (IHK) selama 3Q26 direvisi naik dari 3,5% YoY menjadi 3,53% YoY.
MSCI telah merilis hasil Annual Market Classification Review 2026 pada Rabu (24/6) waktu Indonesia. Secara umum, status pasar Indonesia masih berada di emerging market, meski MSCI masih membuka kemungkinan reklasifikasi turun ke frontier market jika reformasi pasar Indonesia tidak menunjukkan kemajuan yang cukup.
Baca lebih lanjut terkait hasil Annual Market Classification Review 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Senin (22/6) mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai ~Rp26,34 triliun untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik pada periode 2H26 di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
LPS akan menaikkan tingkat bunga penjaminan (TBP) untuk simpanan rupiah di bank umum dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) sebesar +25 bps masing-masing menjadi 3,75% dan 6,25%, berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Jumat (26/6) bahwa pihaknya akan kembali menginjeksi dana saldo anggaran lebih (SAL) ke himpunan bank milik negara (Himbara), sehingga total penempatan dana pemerintah di Himbara menjadi Rp400 triliun.
Purbaya juga mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan secara nasional akan berkisar +14–15% YoY selama 2026.
What’s the Impact?
Secara Global:
Harga minyak melanjutkan penurunan selama 3 minggu berturut–turut seiring meredanya ketegangan AS–Iran yang membuat kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak ikut berkurang.
Namun tekanan inflasi di AS belum reda. Inflasi PCE inti, yang menjadi tolok ukur bagi The Fed dalam menilai perekonomian AS, naik ke level tertinggi sejak akhir 2023, didorong harga jasa yang masih sulit turun. Karena PCE inti mengecualikan harga energi, pasar masih mengekspektasi suku bunga tinggi The Fed tetap bertahan meski harga minyak telah turun.
Kombinasi ekspektasi suku bunga tinggi menyebabkan dolar AS menguat sehingga menekan harga emas, karena emas tidak memberi imbal hasil seperti aset berbasis dolar. Meski demikian, harga emas bertahan di atas US$4.000/oz setelah data PCE inti yang sesuai ekspektasi meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga jangka pendek. Ekspektasi pasar atas probabilitas Fed rate hike hingga akhir 2026 turun ke level ~80% per Senin (29/6), dari ~89% sepekan sebelumnya (22/6), berdasarkan CME Fedwatch Tool.
Untuk Indonesia:
Harga minyak yang lebih rendah meringankan beban impor dan subsidi energi, sekaligus membantu menahan laju inflasi. Tapi tekanan dari dolar yang menguat dan suku bunga global yang berpotensi tetap tinggi menjaga tekanan terhadap rupiah yang kembali naik ke level 17.918 per dolar AS dan menjaga yield obligasi pemerintah tetap tinggi di level ~7,1% per Jumat (26/6).
Di sisi fiskal, pemerintah menambah belanja lewat stimulus 2H26 untuk menjaga daya beli masyarakat, dan menambah penempatan dana di bank-bank negara untuk menjaga likuiditas sekaligus mendorong penyaluran kredit. Namun, penambahan likuiditas ini juga berpotensi menambah tekanan pada rupiah saat dolar sedang kuat.
Why Should I Care?
Penurunan harga minyak yang kembali mendekati level sebelum konflik AS–Iran berpotensi meredam laju inflasi global sekaligus meringankan beban subsidi dan impor energi. Tapi karena penurunan ini lebih didorong meredanya tensi geopolitik, arah harga ke depan masih mudah berbalik jika sentimen kembali memanas.
Di pasar obligasi, dolar AS yang kuat dan ekspektasi pasar atas probabilitas Fed rate hike hingga akhir 2026 membuat yield obligasi pemerintah Indonesia sulit turun dalam waktu dekat. Meski demikian, salah satu titik terang adalah foreign flow obligasi mulai positif +Rp12,5 triliun di 1 minggu terakhir, sehingga secara year-to-date tercatat positif sebesar +Rp4,7 triliun per Jumat (26/6) - sinyal yang dapat menjadi penyangga NAV Reksa Dana Obligasi dalam jangka pendek, meski volatilitas masih mungkin terjadi mengikuti sentimen global.
Di pasar saham, hasil review MSCI pekan ini tidak mengubah posisi Indonesia. Indonesia tetap berada di emerging market dan MSCI mengakui arah reformasi sudah tepat, meski status pembekuan belum dicabut dan peluang penurunan ke frontier market masih terbuka hingga review lanjutan pada November 2026. Secara mingguan, IHSG turun -4,6% dengan foreign outflow sebesar -Rp3,6 triliun.
Ke depan, beberapa hal akan menentukan arah pasar: kebijakan The Fed dan data inflasi AS, kepastian perdamaian AS–Iran, arah suku bunga Bank Indonesia, serta review MSCI berikutnya untuk Indonesia. Intinya, volatilitas mungkin tetap tinggi dalam jangka pendek. Instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan stabilitas portofolio. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga bisa menjadi alternatif bagi investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Return per 26 Juni 2026. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja masa depan.
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
🔍 Bibit Insights: Menjaga Uang Tetap Kerja di Semua Kondisi Market – Di kondisi market yang berubah, Reksa Dana Pasar Uang secara historis memiliki kinerja naik stabil sehingga menjadi instrumen investasi yang membantu menjaga kestabilan portofolio dan membuat uang kamu tetap bekerja.
📆 Minggu Depan ORI030 Terbit, Dapatkan Imbal Hasil Pasti Stabil hingga Jatuh Tempo – SBN terbaru seri Obligasi Negara Ritel ORI030 bisa dibeli di Bibit mulai minggu depan pada 6 Juli 2026 hingga 30 Juli 2026. Imbal hasil SBN ORI030 bersifat fixed rate yang berarti nilainya akan tetap stabil dan anti turun meskipun kondisi market tak pasti ataupun.
Other Articles
✨AMMN: When Passive Selling Creates an Active Opportunity – AMMN telah terkoreksi -52% YTD akibat 2 faktor non-struktural (transisi tambang Fase 7→8 & forced selling MSCI) yang kini telah selesai. Laba diproyeksi melonjak ~4x di 2026F dengan valuasi 12,7x P/E, masih di bawah peers global.
🏦 Integrasi BDMN–MUFG: Asymmetric Risk–Reward dari Skenario Buyback POJK 41/2019 – Integrasi BDMN–MUFG menawarkan asymmetric risk–reward via buyback tanpa perlu menunggu delisting, dengan potensi upside +29–93% jika di–pricing 1–1,5x BV. Integrasi dapat hasilkan bank swasta terbesar ke–2 setelah BBCA.
💉 Pemerintah Kembali Injeksi Dana ke Himbara hingga Menjadi Rp400 T – Menkeu Purbaya mengatakan bahwa pemerintah akan kembali menginjeksi dana saldo anggaran lebih (SAL) ke himpunan bank milik negara (Himbara) guna menjaga likuiditas perbankan.
