Bibit Weekly – Inflasi RI Melandai ke 3,23% YoY, The Fed Tahan Suku Bunga

Market Summary

  • Inflasi Oktober Melandai ke 3,23% YoY: Di bawah ekspektasi konsensus, sementara neraca perdagangan surplus dan PMI manufaktur menguat. → Inflasi yang relatif terkendali memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk fokus menjaga stabilitas rupiah.

  • The Fed Tahan Suku Bunga: Fed Funds Rate ditahan di 3,75–4,00%, sementara ekonomi AS tumbuh +3,4% dan inflasi PCE inti naik ke 3,1% YoY. → Pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada FOMC Desember.

  • Harga Minyak Naik +13,6% Sepanjang Oktober 2026: Menguat sepanjang Oktober di tengah kekhawatiran eskalasi terhadap Iran, meski turun -7,6% pada Senin (2/11) seiring sinyal diplomasi. → Tekanan inflasi berpotensi tetap tinggi, termasuk bagi Indonesia sebagai importir minyak.

Market Update
Foreign Outflow IHSG Capai ~Rp102 Triliun Sejak Awal Tahun, Yield Obligasi Pemerintah Tenor 10 Tahun Tertinggi Sejak Mei 2020
Latest Update (30/10/2026)
Indikator Nilai Perubahan
IHSG 5.057,1
WoW ▼ -7,03%
YtD ▼ -41,52%
IDR 10Y Govt Bond Yield 7,72%
WoW ▲ +26 bps
YtD ▲ +165 bps
Rata-rata bunga deposito 12 bulan 4,02%
WoW ▼ -4 bps
YtD ▲ +31 bps
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
Aset 1W 1M YtD
Obligasi +0,55 +10,07 +38,08
Saham -3,35 -18,17 -101,70
Sumber: Bloomberg, data all market per 30 Oktober 2026.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent turun -7,6% ke level US$104,8/barrel pada Senin (2/11), seiring Iran memberikan sinyal keterbukaan untuk kembali berunding dengan AS. Sepanjang Oktober, harga minyak Brent naik +13,6%.

  • Ekonomi AS tumbuh +3,4% annualized pada 3Q26 (2Q26: +2,2%), di atas ekspektasi konsensus +3,2%, berdasarkan estimasi awal Biro Analisis Ekonomi AS. Pertumbuhan ditopang investasi dan belanja pemerintah, sementara ekspor melandai.

    • Biro Analisis Ekonomi AS mencatat inflasi PCE inti AS naik ke 3,1% YoY pada September (Agustus: 3,0%), sesuai konsensus. Secara bulanan, inflasi inti tercatat 0,3% MoM, stabil dibanding Agustus yang direvisi naik dari 0,2%.

    • Reuters melaporkan bahwa ekonom memperkirakan konsumsi rumah tangga AS akan melambat ke depan, seiring harga bensin yang masih tinggi dan tabungan rumah tangga yang makin terpakai untuk konsumsi.

  • Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75–4,00% pada Rabu (28/10), sesuai ekspektasi konsensus. The Fed menilai ekonomi AS tumbuh kuat meski inflasi masih tinggi, dan akan menunggu data tambahan sebelum menentukan langkah berikutnya guna mengembalikan inflasi ke target 2%.

    • Kepala The Fed Kevin Warsh menilai ekonomi AS tidak tumbuh terlalu cepat hingga memicu kenaikan inflasi, meski ada tekanan permintaan dari investasi AI. Ia juga menyebut produktivitas AS membaik dan menegaskan The Fed tidak berniat menahan laju ekonomi.

  • BPS mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Oktober 2026 melandai ke level 3,23% YoY (vs September 2026: inflasi 3,28% YoY), lebih rendah dibandingkan ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 3,3% YoY dan masih sejalan dengan target inflasi Bank Indonesia (2,5±1%).

    • Secara bulanan, inflasi 0,22% MoM pada Oktober 2026 (vs September 2026: inflasi 0,3% MoM), lebih rendah dibandingkan ekspektasi konsensus (inflasi 0,25% MoM).

    • BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus US$3,36 miliar pada September 2026 (vs Agustus 2026: surplus US$3,55 miliar), melampaui ekspektasi konsensus (surplus US$1,79 miliar).

    • S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat ke level 54 pada Oktober 2026 (vs. September 2026: 52,4), menandai ekspansi aktivitas pabrik yang terkuat sejak Maret 2024.

  • Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik sekitar +8 bps ke 7,7% pada Jumat (30/10), tertinggi sejak Mei 2020, salah satunya seiring kenaikan harga minyak. Rupiah relatif stabil di level Rp18.127/US$ setelah sempat menyentuh level terendah baru menurut Bloomberg di level Rp18.183/US$ pada Rabu (28/10).

  • IHSG turun -7,03% WoW ke level 5.057,05 pada Jumat (30/10), dan telah turun -16,7% sepanjang Oktober 2026. Investor asing mencatatkan foreign outflow sebesar Rp3,35 triliun dalam sepekan, di tengah proses konsultasi MSCI terkait status pasar Indonesia.

    • Chapman Taylor, anggota dewan penasihat Danantara dan mantan manajer portofolio Capital Group, memperkirakan peluang Indonesia mempertahankan status emerging market di MSCI lebih dari 50%, seiring menguatnya koordinasi pemerintah dan regulator serta komunikasi dengan penyedia indeks global.

What’s the Impact?

Secara Global: 

Harga minyak dan data AS pekan lalu sama-sama menunjukkan tekanan inflasi AS belum mereda. Meski sempat turun pada awal pekan ini seiring sinyal diplomasi, harga minyak masih berada di level tinggi. The Fed memang menahan suku bunga pekan lalu, namun kombinasi pertumbuhan ekonomi AS yang masih kuat dan inflasi inti yang kembali naik membuat pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Berdasarkan analisis CME FedWatch per Senin (2/11), probabilitas kenaikan suku bunga pada FOMC Desember 2026 berada di ~75%. Warsh sendiri menilai ekonomi AS tidak tumbuh terlalu cepat hingga memicu kenaikan inflasi.

Ke depan, arah harga minyak bergantung pada hasil upaya diplomasi dan keputusan AS terhadap Iran setelah midterm elections. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga AS berpotensi melambat akibat harga bensin yang tinggi, sehingga laju ekonomi AS belum tentu sekuat estimasi awal kuartal ketiga.

Untuk Indonesia:

Di dalam negeri, tekanan mulai terasa di pasar obligasi. Kenaikan yield obligasi pemerintah ke level tertingginya sejak 2020 mengindikasikan pasar saat ini lebih mencermati faktor seperti harga minyak dan tekanan pada rupiah, yang sempat menyentuh level terendah barunya menurut Bloomberg. Harga minyak yang tetap tinggi juga berpotensi menambah beban subsidi energi. Jika berlangsung lama, defisit anggaran dapat melebar.

Di sisi lain, surplus perdagangan dan menguatnya aktivitas manufaktur menjadi penopang ekonomi domestik, sementara inflasi yang rendah memberi BI ruang untuk fokus menjaga stabilitas rupiah. Isu MSCI memang lebih berdampak langsung ke pasar saham, namun jika foreign outflow berlanjut, tekanan pada rupiah bisa bertambah.

Why Should I Care?

Bagi investor, pekan ini memberi sinyal yang berlawanan. Data ekonomi domestik relatif solid, dengan inflasi yang terkendali dan aktivitas manufaktur yang menguat. Namun, pasar keuangan justru tertekan: IHSG turun -7,03% dalam sepekan, rupiah sempat menyentuh level terendah barunya, dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Mei 2020. Bagi investor obligasi, kondisi ini punya dua sisi. Dalam jangka pendek, harga obligasi yang sudah dimiliki berpotensi tertekan, sehingga nilai investasi bisa terasa menurun. Di sisi lain, investor yang masuk sekarang bisa mendapatkan imbal hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Kuncinya ada pada jangka waktu investasi. Selama harga minyak masih tinggi dan isu MSCI belum tuntas, yield berpotensi tetap bergerak naik turun dalam waktu dekat, terutama jika foreign outflow dari pasar saham terus menekan rupiah. Karena itu, yield tinggi saat ini lebih cocok dimanfaatkan untuk dana yang tidak akan dipakai dalam beberapa tahun ke depan.

Yang perlu dicermati ke depan: keputusan AS terhadap Iran setelah midterm elections pada 3 November, yang akan menentukan arah harga minyak, serta perkembangan evaluasi MSCI yang dapat mempengaruhi foreign flow dan nilai tukar rupiah.

Untuk dana jangka pendek, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas portofolio. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat dipertimbangkan bagi investor yang ingin mendiversifikasi eksposur dari risiko pelemahan rupiah.

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar di Bibit

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest Money Market USD

Return
+13,18%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,70%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
BRI Seruni Likuid Dolar

BRI Seruni Likuid Dolar

Return
+12,51%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
Return
+3,08%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 2 November 2026.[cite: 2]
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.[cite: 2]
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
Bahana Likuid Plus
Reksa Dana Pasar Uang
 
Return · Setahun Terakhir
+4,83%
 
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia
Reksa Dana Pasar Uang Syariah
 
Return · Setahun Terakhir
+4,56%
Return reksa dana per 2 November 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.


In Case You Missed It 

✅ Bibit Insights – Investasi Lebih Ringan dengan Satu Aplikasi di Bibit – Investasi Reksa Dana, SBN, Obligasi FR, daham Saham bisa lewat aplikasi Bibit. Tiap aset investasi memiliki risiko yang berbeda, kamu bisa pilih sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan. 

💰 ST017 Terbit 6 November, Jadi SBN Retail Terakhir Tahun Ini – Secara historis, Sukuk Tabungan (ST) menjadi favorit investor bahkan kuotanya sempat habis sebelum masa penawaran ditutup. imbal hasil ST017 floating with floor yang bisa naik saat BI Rate naik, tapi anti turun dari minimum imbal hasilnya jika BI Rate turun.

Other Articles 

🔧 ISSP: Double Profits in the Pipeline – Laba bersih berpotensi tumbuh +40% CAGR pada 2026-2028F didorong oleh kenaikan volume, margin serta operating leverage dari kehadiran pabrik baru. Potensi upside +44% dengan potensi dividend yield 10% mulai tahun buku 2027F.

⚡ POWR 9M26: Laba Bersih +24% YoY, Sesuai Ekspektasi, Demand Data Center Topang Ekspansi – POWR mencatat laba bersih US$34 juta pada 3Q26 (+72% QoQ, +91% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai US$71 juta (+24% YoY, setara 79% estimasi 2026F Stockbit).

📈 ASII: Laba Bersih 3Q26 Membaik seiring Pemulihan UNTR, 9M26 Lampaui Ekspektasi – ASII mencatat laba bersih mencapai Rp9,1 T pada 3Q26 (+36% QoQ, +1% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp21,6 T (-12% YoY, setara 74% estimasi 2026F konsensus).