Market Summary
Negosiasi AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan: AS berencana untuk memblokade Selat Hormuz mulai Senin (13/4) pagi waktu AS setelah negosiasi dengan Iran gagal mencapai kesepakatan. → harga minyak Brent naik +8,3% pada Senin (13/4) pagi.
Rupiah Sentuh All-Time Low: Rupiah sempat menyentuh level all-time low di 17.138 pada Senin (13/4), ditekan kombinasi harga minyak tinggi, defisit APBN 3M26 yang melebar. → Bank Indonesia mengisyaratkan ruang pemangkasan BI Rate semakin terbatas.
FTSE Pertahankan Status Indonesia: FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai secondary emerging market dalam interim review April 2026, mengapresiasi reformasi transparansi pasar modal. → risk premium Indonesia di mata investor asing berkurang, berpotensi mendorong foreign inflow.
|
What Happened in the Market
Update Konflik AS-Iran:
Harga minyak mentah Brent naik signifikan ke level ~US$103/barrel (+8,3%) pada Senin (13/4) pagi, didorong oleh rencana AS untuk memblokade Selat Hormuz mulai Senin (13/4) pagi waktu AS. Iran memperingatkan bahwa kapal militer AS yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak dengan tegas.
Negosiasi AS–Iran di Islamabad pada akhir pekan lalu (11–12 April 2026) berakhir tanpa kesepakatan setelah pembicaraan berlangsung selama 21 jam. Poin utama yang gagal disepakati mencakup status Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump pada Selasa (7/4) malam waktu AS mengumumkan penghentian serangan ke Iran selama 2 pekan, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz. Iran menyetujui gencatan senjata dan mengatakan bahwa Selat Hormuz akan aman dilewati selama 2 pekan dengan koordinasi militer Iran.
IHSG sempat naik signifikan +4,4% ke level 7.279,21 pada Rabu (8/4), seiring diumumkannya gencatan senjata AS-Iran dan FTSE Russell, dalam interim review April 2026, mengonfirmasi bahwa Indonesia tetap berstatus secondary emerging market.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah ke level 17.103 pada penutupan Senin (13/4), setelah sempat menyentuh level all–time low di 17.138 pada perdagangan intraday di hari yang sama.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan dalam rapat bersama DPR pada Rabu (8/4) bahwa pihaknya melihat ruang untuk penurunan suku bunga ke depan semakin tertutup untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Kekhawatiran seputar tekanan APBN berlanjut, mengingat komitmen pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi, sementara defisit APBN melebar selama 3M26.
Upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu kontributor penurunan cadangan devisa Maret 2026 ke level US$148,2 miliar (vs Februari 2026: US$151,9 miliar), terendah sejak Juli 2024 dan melanjutkan penurunan dalam 3 bulan beruntun.
Bank Dunia memangkas outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi +4,7% YoY pada 2026 (vs outlook Januari 2026: +5% YoY).
Pemangkasan outlook Indonesia tersebut sejalan dengan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia Timur dan Pasifik yang mencapai +4,2% YoY pada 2026 (vs outlook Januari 2026: +4,4% YoY), seiring guncangan harga energi akibat konflik di Timur Tengah yang memperparah dampak negatif dari meningkatnya hambatan perdagangan dan ketidakpastian kebijakan internasional.
Bank Indonesia (BI) mencatat indeks keyakinan konsumen (IKK) Indonesia turun ke level 122,9 pada Maret 2026 (vs Februari 2026: 125,2, Maret 2025: 121,1). Hasil ini menandai level terendah dalam 5 bulan terakhir didorong oleh penurunan di hampir seluruh sub–indeks, kecuali indeks penghasilan saat ini.
What’s the Impact?
Secara Global: Harga minyak kembali naik >US$100/barrel menyusul negosiasi AS-Iran yang berakhir tanpa kesepakatan dan rencana blokade AS, setelah sempat turun ke level ~US$96/barrel per Jumat (10/4) usai pengumuman gencatan senjata selama 2 minggu. Blokade Selat Hormuz oleh AS sendiri dikhawatirkan membatasi pasokan minyak sekaligus memicu kembali eskalasi perang.
Untuk Indonesia: Kembali meningkatnya ketegangan AS-Iran berpotensi menjaga harga minyak kembali tinggi dan tetap menekan defisit fiskal. Harga minyak yang kini kembali berada di kisaran US$100/barrel masih lebih tinggi dibanding asumsi APBN 2026 di US$70/barrel. Tekanan terhadap APBN juga berkaitan dengan pelemahan rupiah yang turut didorong oleh ruang pemangkasan suku bunga BI yang semakin tertutup.
Why Should I Care?
Sentimen pasar membaik pasca–gencatan senjata AS–Iran dan dipertahankannya status Indonesia sebagai secondary emerging market oleh FTSE. Namun, sentimen ini sempat terganggu oleh rencana AS memblokade Selat Hormuz yang berpotensi membatasi pasokan minyak sekaligus memicu risiko eskalasi konflik. Meski demikian, IHSG masih mampu mencatatkan kenaikan +0,56% pada Senin (13/4).
Ke depan, beberapa faktor yang perlu dicermati investor adalah: 1) perkembangan konflik AS-Iran dan blokade Selat Hormuz, yang dapat menekan keadaan fiskal Indonesia dan mempersulit pemangkasan suku bunga BI; 2) update soal status Indonesia menjelang review MSCI di bulan Mei (sebelum 12 Mei 2026) dan FTSE di bulan Juni (sebelum 19 Juni 2026).
Walaupun gencatan senjata sempat memunculkan sentimen risk–on, keadaan masih dapat berubah dengan cepat mengikuti dinamika konflik AS-Iran. Tetap penting bagi investor untuk memastikan bahwa alokasi aset sudah sesuai profil risiko dan tidak panik. Instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi salah satu cara untuk membantu meningkatkan stabilitas portofolio. Selain itu, Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat membantu menjaga nilai aset ketika rupiah melemah.
Product Highlights
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
*Return reksa dana per 10 April 2026.
Reksa dana bertanda petir bisa dicairkan instan.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
SR024 Berakhir 15 April 2026, Kesempatan Kunci Kepastian Return
Investasikan dana idle ke SR024 yang bisa dibeli hingga 15 April 2026 pukul 12.00 WIB. Dapatkan fixed rate return hingga jatuh tempo dengan 2 tipe tenor: SR024-T3 (3 tahun) return 5,55% p.a. dan SR024-T5 (5 tahun) return 5,90% p.a. Return cair setiap bulan, jadi sumber passive income yang pasti.
Update kuota per 14 April 2026 pukul 10.45 WIB
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
💭 Reksa Dana Obligasi Turun: Kenapa Tidak Perlu Panik? – Saat ini, yang menekan NAV Reksa Dana Obligasi adalah komponen harga pasar obligasi yang sedang turun. Ini disebabkan respons pasar terhadap persepsi risiko saat ini yang meningkat.
Other Articles
😢 Rupiah All–Time Low Ditekan Tingginya Lonjakan Harga Minyak – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,33% ke level 17.095 pada Selasa (7/4), setelah sempat menyentuh level all–time low di 17.100 pada perdagangan intraday di hari yang sama.
💪 IHSG +4,4% seiring Gencatan Senjata AS–Iran & Status RI Dipertahankan FTSE – IHSG naik signifikan ke level 7.279,21 pada hari ini, Rabu (8/4), menyusul 2 perkembangan positif terkait gencatan senjata AS–Iran dan dipertahankannya status Indonesia sebagai secondary emerging market oleh FTSE.
🥇 ANTM Earnings Call: Momentum Positif Berlanjut, Didorong Proyeksi Volume Emas ATH – ANTM mencatat laba bersih Rp1,2T pada 4Q25 (-3% QoQ, -15% YoY), sehingga laba bersih selama 2025 mencapai Rp7,2T (+98% YoY) dan di bawah ekspektasi (94% estimasi 2025F konsensus, vs. 9M25: 81% estimasi 2025F konsensus).
