Market Summary
BI Rate Naik +25 bps ke 5,50%: Keputusan ini di luar ekspektasi, karena diumumkan di luar Rapat Dewan Gubernur bulanan. → BI memprioritaskan stabilisasi rupiah sekaligus langkah pre-emptive menjaga inflasi 2026–2027.
Nilai Tukar Rupiah Sentuh 18.190 pada Intraday Senin (8/6): Menandai level all time low dan melanjutkan melanjutkan tren penurunan sejak awal April 2026. → konsensus Bloomberg memperkirakan bahwa BI akan menaikkan suku bunga +25 bps hingga akhir 2026.
IHSG Ditutup di Level Terendah Sejak November 2020: Turun -4,5% ke level 5.342 pada Senin (8/6), turun sekitar -38% YTD. → mencerminkan tekanan makro domestik: rupiah all-time low, pelebaran defisit APBN, dan sentimen investor yang memburuk.
NFP AS +172 Ribu, Tingkat Pengangguran Tetap 4,3%: Melebihi ekspektasi konsensus (+85 ribu) untuk kedua bulan beruntun. → probabilitas Fed rate hike di Desember 2026 naik signifikan ke ~72% dari ~45% sepekan sebelumnya.
What Happened in the Market
Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI Rate sebesar +25 bps ke level 5,50% untuk memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah. Keputusan ini di luar ekspektasi, karena diumumkan di luar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan yang dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
Nilai tukar rupiah melemah ke level 18.190 pada intraday Senin (8/6), mencetak all time low baru secara intraday dan melanjutkan tren penurunan sejak awal April 2026.
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 turun ke level US$144,9 miliar (vs. April 2026: US$146,2 miliar), melanjutkan penurunan dalam 5 bulan beruntun dan menandai penurunan terpanjang sejak 2018, ditekan oleh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
BI dan Kementerian Keuangan pada Sabtu (6/6) sepakat untuk meningkatkan yield aset Indonesia guna menarik arus masuk portofolio dan mendukung rupiah, meski Reuters melaporkan keduanya tidak memberikan rincian terkait rencana tersebut. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik signifikan +40 bps ke level tertinggi dalam lebih dari setahun di level 7,28% pada Senin (8/6).
IHSG ditutup turun -4,2% ke level 5.594 seiring net foreign outflow sebesar -Rp8,43 T secara mingguan pada Jumat (5/6), menandai level penutupan terendah sejak November 2020. Level penutupan tersebut juga menandakan bahwa IHSG telah turun sekitar -35% YTD.
Pemerintah resmi merilis Peraturan Pemerintah No. 24/2026 terkait sentralisasi ekspor komoditas strategis yang berlaku mulai 1 Juni 2026, memuat beberapa informasi terkait mekanisme kebijakan dan PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Kementerian Keuangan mencatat bahwa defisit APBN 2026 per Mei 2026 mencapai Rp180,4 T atau setara 0,7% terhadap PDB (vs. April 2026: defisit 0,64% terhadap PDB), melebar dibandingkan defisit periode yang sama pada tahun sebelumnya di 0,09% terhadap PDB.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Jumat (5/6) bahwa dirinya memberi tahu perwakilan S&P dalam pertemuan baru–baru ini bahwa Indonesia akan mempertahankan batas defisit APBN di 3% terhadap PDB.
Menkeu Purbaya juga mengatakan pada Rabu (3/6) membantah rumor potensi penurunan peringkat kredit (downgrade) Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings.
Kepala baru BGN, Nanik S. Deyang, pada Kamis (4/6) mengeklaim akan melakukan sejumlah penyesuaian pelaksanaan Makan Bergizi Gratis, yang ditujukan untuk menekan pengeluaran dari program tersebut.
DPR mengesahkan revisi undang–undang terkait pengembangan dan penguatan sektor keuangan (P2SK) pada Kamis (4/6), yang mencakup 17 pokok perubahan termasuk menambah mandat Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta memberikan kewenangan bagi DPR untuk mengevaluasi regulator keuangan independen dan bank sentral.
Harga minyak Brent naik sekitar +2,4% ke kisaran ~US$95,3/barrel pada Senin (8/6) pagi setelah ditutup -2% pada Jumat (5/6). Hal ini didorong oleh Israel yang melancarkan kembali serangan ke Lebanon pada Minggu (7/6), meski kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat non–farm payroll (NFP) AS naik +172 ribu pada Mei 2026 (vs April 2026: +179 ribu), jauh di atas ekspektasi konsensus (+85 ribu).
Tingkat pengangguran AS pada Mei 2026 tercatat tetap di level 4,3% sejak Maret 2026, sesuai ekspektasi konsensus (4,3%).
What’s the Impact?
Secara Global:
Data NFP Mei 2026 yang kembali melampaui ekspektasi mengonfirmasi bahwa pasar tenaga kerja AS sedang menguat setelah sempat melambat pada Februari 2026. Rata-rata pertumbuhan ketenagakerjaan pada Maret–Mei 2026 mencapai +188 ribu per bulan, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Pasar tenaga kerja AS yang tetap tumbuh di tengah inflasi yang masih tinggi, sebagian didorong harga minyak yang bertahan tinggi, memberi The Fed ruang untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Pasar merespons dengan probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada Desember 2026 naik signifikan ke ~72% per Jumat (5/6) pasca rilis data, dari ~45% pada Jumat sebelumnya (29/5), berdasarkan CME Fedwatch Tool.
Untuk Indonesia:
Terus melemahnya nilai tukar rupiah serta meningkatnya probabilitas Fed rate hike pada Desember 2026 memberikan tekanan bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan BI Rate — yang pada Selasa (9/6) resmi dinaikkan ke 5,50%, di luar siklus Rapat Dewan Gubernur Bulanan.
Terkait revisi UU P2SK, Bloomberg mencatat bahwa pasar tengah mencermati kredibilitas kebijakan Indonesia di tengah tekanan rupiah ke rekor terendah dan arus keluar dana asing yang berlanjut, sementara Reuters menyoroti kekhawatiran atas independensi bank sentral seiring kewenangan baru DPR untuk mengevaluasi kinerja BI — meski pemerintah mengeklaim bahwa perluasan mandat BI justru akan memperkuat koordinasi antar-lembaga.
Why Should I Care?
Minggu ini bukan minggu yang mudah — rupiah menyentuh level terendah baru, IHSG di posisi terendah sejak November 2020, dan foreign outflow di pasar saham masih berlanjut. Di sisi lain, pasar obligasi mulai menunjukkan tanda awal arus masuk asing seiring kenaikan yield obligasi negara secara signifikan. Sementara itu, kenaikan BI Rate umumnya turut menekan Reksa Dana Obligasi dan SBN, meski kenaikan ini juga berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah ke depan.
Hal yang perlu diperhatikan: respons pemerintah dalam menjaga defisit APBN di bawah 3% PDB, arah BI Rate, hasil MSCI Market Accessibility Review Juni 2026, implementasi kebijakan sentralisasi ekspor komoditas, dan perkembangan negosiasi AS–Iran yang akan menentukan apakah tekanan pada rupiah dan pasar domestik akan mereda atau berlanjut.
Di tengah kondisi ini, Reksa Dana Pasar Uang tetap relevan sebagai instrumen yang relatif stabil di tengah volatilitas pasar. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga bisa jadi alternatif untuk investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
*Return reksa dana per 5 Juni 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
↗️ Bibit Insights – Aset dengan Kinerja Stabil Secara Historis – Di berbagai kondisi market seperti pandemi, trade war, hingga IHSG yang terkoreksi. Reksa Dana Pasar Uang menjadi kelas aset dengan kinerja historis naik stabil dan drawdown mendekati nol dalam 5 tahun terakhir.
🏛️ ORI030 Hadir di Bibit Mulai 6 Juli 2026– ST016 sudah berakhir, segera hadir SBN retail berikutnya ORI030 dengan imbal hasil fixed rate, tenor 3 dan 6 tahun. Modal investasi dan imbal hasil yang dijamin undang-undang.
Other Articles
✨AMMN: When Passive Selling Creates an Active Opportunity – AMMN telah terkoreksi -52% YTD akibat 2 faktor non-struktural (transisi tambang Fase 7→8 & forced selling MSCI) yang kini telah selesai. Laba diproyeksi melonjak ~4x di 2026F dengan valuasi 12,7x P/E, masih di bawah peers global.
🏦 Integrasi BDMN–MUFG: Asymmetric Risk–Reward dari Skenario Buyback POJK 41/2019 – Integrasi BDMN–MUFG menawarkan asymmetric risk–reward via buyback tanpa perlu menunggu delisting, dengan potensi upside +29–93% jika di–pricing 1–1,5x BV. Integrasi dapat hasilkan bank swasta terbesar ke–2 setelah BBCA.
⚖️ Aturan Sentralisasi Ekspor Rilis: Danantara Tentukan Harga Jual & Dapat Tentukan Margin – Pemerintah resmi merilis Peraturan Pemerintah No. 24/2026 terkait sentralisasi ekspor komoditas strategis, di mana regulasi tersebut memuat beberapa informasi yang lebih jelas terkait mekanisme kebijakan ini.
