Market Summary
Update Konflik AS-Iran: Untuk pertama kalinya sejak konflik AS–Iran dimulai, fasilitas minyak Iran menjadi target serangan pada Sabtu (7/3). → memicu lonjakan harga minyak global ke level tertinggi sejak pertengahan 2024.
Downgrade Outlook Indonesia oleh Fitch: Downgrade outlook Indonesia dari ‘stable’ menjadi ‘negative’, meski mempertahankan peringkat kredit BBB. → berpotensi memberikan sentimen negatif, yield obligasi 10Y naik +7,6 bps per 4 Maret 2026.
Tekanan Jual Pasar Saham Asia: IHSG sempat anjlok -4,6% pada Rabu (4/3) dan kembali terkoreksi -3,3% pada Senin (9/3), sejalan dengan pelemahan bursa regional Asia. → dalam waktu dekat, potensi de–eskalasi menjadi faktor kunci untuk membalikkan sentimen global.
Pelemahan Data Ketenagakerjaan AS: Data NFP AS turun -92 ribu di bulan Februari 2026 (vs Januari 2026: +126 ribu), tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%. → pasar tetap memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga AS tahun ini.
|
What Happened in the Market
Harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2026 naik +11,7% ke kisaran US$103,6/barrel pada Senin (9/3), setelah sempat menyentuh U$119,5/barrel. Hal ini terjadi seiring berlanjutnya konflik AS–Iran dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dan pengiriman minyak global.
Financial Times melaporkan bahwa para menteri keuangan dari negara G7 pada Senin (9/3) akan membahas tentang pelepasan bersama minyak dari cadangan darurat yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA). Tiga negara G7, termasuk AS, dikabarkan telah menyatakan dukungan terkait rencana tersebut.
Untuk pertama kalinya sejak konflik AS–Iran dimulai, fasilitas minyak Iran menjadi target serangan pada Sabtu (7/3), mencakup 4 depot penyimpanan minyak dan 1 pusat transfer produksi minyak.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan pada Jumat (6/3) bahwa simulasi stress test lonjakan harga minyak di kisaran US$92/barrel berpotensi memperlebar defisit APBN 2026 hingga 3,6% PDB, melampaui batas aman fiskal yang selama ini dijaga pemerintah (3% PDB).
Harga aluminium naik +9,7% sejak 28 Februari 2026 — bertepatan dengan eskalasi tajam konflik AS–Iran — sehingga penguatan YtD mencapai +15%. Kenaikan dipicu oleh gangguan produksi dari Aluminium Bahrain (Alba), pemilik smelter terbesar di luar China, dan Qatalum yang menghentikan operasi smelternya di Qatar.
Harga batu bara Newcastle di pasar berjangka untuk kontrak Maret 2026 naik +14,5% WoW per penutupan Jumat (6/3) ke level US$133/ton setelah menyentuh US$140/ton pada perdagangan intraday Selasa (3/3), menandai level tertinggi sejak Desember 2024.
IHSG sempat anjlok -4,6% pada Rabu (4/3) dan kembali terkoreksi -3,3% pada Senin (9/3), sejalan dengan pelemahan bursa regional Asia seiring berlanjutnya kekhawatiran terkait eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Lembaga pemeringkat kredit, Fitch, merevisi turun outlook sovereign credit Indonesia dari ‘stable’ menjadi ‘negative’, berdasarkan pengumuman resmi dalam websitenya, meski mempertahankan rating untuk Indonesia di level BBB. Langkah ini mengikuti Moody's yang melakukan revisi serupa pada Februari 2026. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pada Rabu (4/3) bahwa downgrade outlook tersebut tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia.
Nilai tukar rupiah terhadap USD sempat menembus level 17.000 secara intraday sebelum ditutup di level 16.945 (-0,23%) pada Senin (9/3).
Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat non–farm payroll (NFP) AS turun -92 ribu pada Februari 2026 (vs Januari 2026: +126 ribu), jauh di bawah ekspektasi konsensus (+59 ribu) sekaligus menandai penurunan tertinggi sejak Oktober 2025.
Tingkat pengangguran AS tercatat naik ke level 4,4% pada Februari 2026 (vs Januari 2025: 4,3%), di atas ekspektasi konsensus (4,3%).
What’s the Impact?
Secara Global: Penutupan Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia dan sebagian produksi aluminium global — meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan komoditas industri. Gangguan produksi di kawasan tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga komoditas yang tajam dan volatil.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang pada akhirnya berpotensi berdampak terhadap arah kebijakan suku bunga. Per Senin (9/3), analisa CME FedWatch Tool kini mengekspektasikan The Fed akan menahan suku bunga pada Juni 2026 (vs ekspektasi sebelum konflik AS-Iran: -25 bps). Di sisi lain, data non-farm payrolls AS yang turun kembali memunculkan kekhawatiran atas pelemahan ekonomi AS, di tengah eskalasi konflik dengan Iran, menurut Reuters.
Untuk Indonesia: Indonesia berada dalam posisi yang kompleks sebagai net importir minyak. Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong defisit fiskal melampaui batas regulasi.
Walaupun Fitch mendowngrade outlook Indonesia, namun tetap mempertahankan peringkat kredit di Indonesia di kategori investment grade. Sebagai informasi, peringkat kredit Indonesia saat ini berada di BBB — dua level di atas ambang non-investment grade BB+.
Why Should I Care?
Dalam waktu dekat, potensi de–eskalasi menjadi faktor kunci untuk membalikkan sentimen global, sehingga perlu dimonitor secara ketat oleh investor.
Dalam jangka yang lebih panjang, konflik yang berkelanjutan dapat membuat harga minyak bertahan di level yang tinggi dan berisiko menekan kondisi fiskal Indonesia — jika tidak diimbangi dengan kenaikan harga batu bara dan CPO sebagai komoditas ekspor utama Indonesia — mengingat status Indonesia sebagai net importir minyak.
Tekanan terhadap kondisi fiskal dapat mempengaruhi persepsi risiko investor asing terhadap aset Indonesia. Per Jumat (6/3), IHSG turun -7,89% WoW dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik +18 bps WoW ke 6,61%. Meski demikian, data all market pasar saham (IHSG) masih mencatatkan +Rp2,13 triliun net foreign inflow.
Maka, penting bagi investor untuk disiplin dalam menjaga alokasi aset portofolio sesuai dengan profil risiko masing-masing. Investor juga dapat mempertimbangkan diversifikasi ke instrumen berdenominasi dolar seperti Reksa Dana Pasar Uang USD, sebagai salah satu cara melindungi nilai aset di tengah pelemahan rupiah.
Product Highlight
SBN SR024: Return Pasti Stabil, Cair Tiap Bulan
Aset yang cocok untuk bantu stabilkan portofolio di tengah ketidakpastian global. SR024 sudah bisa dibeli di Bibit hingga 16 April 2026 pukul 12.00 WIB. SR024 menawarkan fixed rate return yang pasti stabil hingga jatuh tempo: 5,55% p.a. untuk tenor 3 tahun dan 5,90% p.a. untuk tenor 5 tahun.
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
Other Articles
⚪ Unboxing Metals 101: Global Thematic & IDX Proxies – Simak unboxing ini untuk kamu yang ingin memahami dinamika komoditas logam lebih dalam (supply-demand, thematic global, serta proxy di IHSG).
🤑 ELSA 2025: Core Profit +12% YoY, Didorong Segmen Downstream – ELSA mencatatkan laba bersih Rp192 M pada 4Q25 (+18% YoY, +1% QoQ), membuat laba bersih selama 2025 menjadi Rp719 M (+1% YoY), dengan level margin laba bersih yang relatif stabil di ~5%.
🗑️ Danantara Mulai Umumkan Pemenang Tender Proyek Waste–to–Energy – Danantara mengumumkan telah memilih Wangneng Environment dan Zhejiang Weiming Environment Protection sebagai mitra operasional untuk proyek waste–to–energy.
