Market Summary
Volatilitas Harga Minyak Berlanjut: Setelah sempat turun merespons sinyal de-eskalasi dari Presiden Trump, harga minyak Brent kembali naik seiring ancaman Iran bahwa harga minyak akan mencapai US$200/barrel dan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. → pelepasan cadangan minyak IEA dinilai belum cukup untuk menstabilkan harga minyak secara signifikan.
Potensi Pelebaran Defisit APBN di Tengah Tekanan Harga Minyak: Presiden Prabowo menegaskan komitmen disiplin fiskal, namun mengakui defisit melampaui limit 3% PDB dapat dipertimbangkan sementara dalam situasi darurat. → investor perlu mencermati pergerakan harga minyak dan eksekusi pemerintah dalam mengatur APBN.
Inflasi AS Sesuai Ekspektasi: Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data CPI Februari 2026 di level 2,4% YoY flat dibandingkan Januari 2026 (2,4% YoY). → namun dampak lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran belum sepenuhnya tercermin dan berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi ke depan.
| Latest | WoW | YtD | |
|---|---|---|---|
| IHSG | 7.137,2 | ▼ -5,91% | ▼ -17,46% |
| IDR 10Y Govt Bond Yield | 6,80% | ▲ +19 bps | ▲ +73 bps |
| Bunga Deposito 12M | 3,60% | ▼ -2 bps | ▼ -10 bps |
| 1W | 1M | YtD | |
|---|---|---|---|
| Obligasi | -12,45 | -19,63 | -16,47 |
| Saham | -1,59 | +7,54 | -9,00 |
What Happened in the Market
Harga minyak Brent naik +9,2% ke level US$100,5/barrel pada penutupan perdagangan hari Kamis (12/3) dan relatif stabil di kisaran US$100–101/barrel pada perdagangan intraday hari Jumat (13/3), seiring pernyataan pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, bahwa Iran akan menjaga Selat Hormuz tetap tertutup.
Sebelumnya, harga sempat turun -11,3% ke US$87,8/barrel pada Selasa (10/3) setelah Trump menyatakan perang melawan Iran hampir selesai.
Harga minyak kembali naik seiring eskalasi di Selat Hormuz — termasuk insiden penembakan 3 kapal oleh Garda Revolusi Iran dan pemangkasan produksi gabungan sebesar 6,7 juta barrel per hari oleh Arab Saudi, Irak, UEA, dan Kuwait. IEA merespons dengan melepas cadangan minyak sebesar 400 juta barrel, terbesar dalam sejarah organisasi tersebut, guna meredam lonjakan harga.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, mengatakan pada Rabu (11/3) bahwa pihaknya tidak akan mengizinkan pengiriman minyak bagi AS, Israel, dan mitranya, sembari memperingatkan bahwa dunia harus siap menghadapi harga minyak US$200/barel.
CNN melaporkan bahwa Iran sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan sejumlah kecil kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz, dengan syarat kargo minyak tersebut diperdagangkan dalam mata uang yuan China. Perdagangan minyak secara global sendiri hampir seluruhnya menggunakan mata uang dolar AS.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan kepada Bloomberg bahwa dirinya hanya akan mempertimbangkan defisit APBN melebihi limit 3% terhadap PDB untuk sementara jika dalam situasi darurat. Ia juga menambahkan akan tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data inflasi CPI (Consumer Price Index) AS Februari 2026 2,4% YoY (vs Januari 2026: 2,4% YoY), sesuai ekspektasi konsensus. Inflasi inti juga stabil di level 2,5% YoY, sesuai ekspektasi konsensus.
Bank Indonesia memperkirakan penjualan ritel pada Februari 2026 tumbuh +6,9% YoY dan +4,4% MoM, didorong permintaan masyarakat menjelang Ramadan dan Idulfitri. Pada Januari 2026, realisasi penjualan ritel tumbuh +5,7% YoY, di bawah perkiraan BI (+7,9% YoY).
Bank Indonesia mencatat bahwa indeks keyakinan konsumen Indonesia turun ke level 125,2 pada Februari 2026 (vs. Januari 2026: 127, Februari 2025: 126,4). Hasil ini ditekan oleh penurunan di seluruh sub–indeks ekspektasi konsumen.
What’s the Impact?
Secara Global: Volatilitas harga minyak menunjukkan bahwa pasar tampaknya belum meyakini bahwa intervensi IEA sebesar 400 juta barrel cukup untuk mengimbangi potensi gangguan jika Selat Hormuz tetap terganggu dalam jangka panjang. Selama harga minyak bertahan tinggi, tekanan inflasi global berpotensi mendorong The Fed untuk menunda pemangkasan suku bunga selanjutnya.
Untuk Indonesia: Semakin lama harga minyak bertahan di level tinggi, tekanan pada APBN berpotensi semakin besar, yang dapat berujung pada kenaikan harga BBM atau pemangkasan belanja pemerintah. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak berpotensi mendorong defisit fiskal melampaui batas regulasi.
Namun, kenaikan harga minyak secara historis kerap diikuti oleh kenaikan harga batu bara dan CPO, yang merupakan 2 komoditas ekspor utama Indonesia. Dengan demikian, dampak keseluruhan bagi Indonesia akan bergantung kepada dinamika ketiganya. Di sisi lain, tekanan inflasi global juga berpotensi mendorong Bank Indonesia untuk mengikuti arah pengetatan suku bunga secara global.
Why Should I Care?
Meskipun data CPI AS terbaru mulai mereda, data tersebut dikumpulkan sebelum eskalasi geopolitik terbaru. Harga minyak yang masih tinggi dan data CPI yang berpotensi melonjak ke depan membuat The Fed sulit memangkas suku bunga karena memangkas suku bunga berisiko memperburuk inflasi akibat harga minyak yang tinggi, sementara menaikkannya dapat memperparah pelemahan pasar tenaga kerja AS.
Pergerakan harga minyak kini menjadi faktor penting yang dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga global. Per Jumat (13/3), konsensus Bloomberg masih mengekspektasikan pemangkasan suku bunga BI dan The Fed masing-masing sebesar -50 bps hingga akhir 2026. Namun jika harga minyak tetap tinggi, jalur menuju rate cut bisa menjadi lebih panjang dari yang diharapkan pasar.
Pergerakan harga minyak juga mempengaruhi pasar domestik. Kekhawatiran bahwa defisit fiskal dapat melewati batas 3% PDB dapat mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah dan menekan kinerja Reksa Dana Obligasi. Saat likuiditas pasar cenderung menipis menjelang libur lebaran, IHSG kembali turun -1,6% per Senin (16/3) dan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik +11 bps ke ~6,9%. Kenaikan yield obligasi tersebut menekan kinerja obligasi dan Reksa Dana Obligasi.
Perlu diingat bahwa situasi geopolitik dan sentimen pasar dapat berubah dengan cepat. Hal yang dapat dilakukan investor ketika banyak ketidakpastian dan volatilitas pasar adalah memastikan bahwa alokasi aset sudah sesuai profil risiko dan tidak panik. Instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi salah satu cara untuk membantu meningkatkan stabilitas portfolio. Selain itu, Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat membantu menjaga nilai aset ketika rupiah melemah.
Product Highlights
|
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
*Return reksa dana per 13 Maret 2026.
Reksa dana bertanda petir bisa dicairkan instan.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
SBN SR024: Return Stabil, Lebih Tinggi 78% dari Deposito Bank Umum
Buat portofolio lebih stabil dengan kepastian return (fixed-rate) dari SR024: 5,55% p.a. untuk tenor 3 tahun dan 5,90% p.a. untuk tenor 5 tahun. Return lebih tinggi dari bunga deposito bank umum yang dijamin LPS, dengan pajak lebih rendah. SR024 bisa dibeli di Bibit hingga 15 April 2026 pukul 12.00 WIB.
|
|
|
|
|---|---|---|
| Modal | Imbal Hasil per Bulan |
Imbal Hasil per Bulan |
| Rp10 Juta | Rp41.625 | Rp44.253 |
| Rp100 Juta | Rp416.250 | Rp442.530 |
| Rp1 Miliar | Rp4.162.500 | Rp4.425.300 |
| Rp5 Miliar | Rp20.812.500 | Rp22.126.500 |
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research
In Case You Missed It
📆Informasi Transaksi Bibit Selama Libur Bursa Perayaan Nyepi dan Idulfitri – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan libur bursa yang berlangsung pada 18-24 Maret 2026. Berikut ini rincian libur bursa dan informasi transaksi di Bibit selama libur berlangsung.
📈SBN SR024 Beri Return Lebih Tinggi dari 3 SBN Sebelumnya – Meskipun BI Rate ditahan sejak September 2025, return SBN mengalami kenaikan dalam tiga penawaran terakhir. Kesempatan untuk kunci kepastian return yang cair tiap bulan.
Other Articles
⚪ Unboxing Metals 101: Global Thematic & IDX Proxies – Simak unboxing ini untuk kamu yang ingin memahami dinamika komoditas logam lebih dalam (supply-demand, thematic global, serta proxy di IHSG).
💡 Puncak Harga Minyak & Bottom IHSG Mungkin Telah Terlewati – Kami menilai perang Rusia–Ukraina pada 2022 dapat dijadikan salah satu playbook untuk melihat potensi pergerakan IHSG beserta faktor–faktor yang perlu diperhatikan ke depan.
🛢️ Minyak Melandai seiring Sinyal De–eskalasi & Wacana Pelepasan Cadangan IEA – Normalisasi harga minyak dalam waktu dekat dibutuhkan agar tidak berujung pada kenaikan inflasi dan penyesuaian arah kebijakan suku bunga. Investor perlu memonitor perkembangan terkait pelepasan cadangan minyak maupun pernyataan terkait de–eskalasi.
