Year in Review 2025: Key Events and Learnings for 2026

2025 menjadi tahun yang menantang sekaligus rewarding bagi investor. Return setahun yang solid, dengan indeks obligasi dan saham membukukan performa terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Indeks obligasi mencapai +12% dan saham +22% sepanjang 2025. Reksa Dana Pasar Uang di Bibit juga mencapai rata-rata performa +4,6% di 2025 secara net (setelah pajak). Namun perjalanan menuju ke sana penuh dengan volatilitas, perubahan sentimen, dan ketidakpastian global.

2025: Dunia Beralih ke Penurunan Suku Bunga, Termasuk Indonesia 

2025 menandai pergeseran kebijakan moneter global menuju suku bunga yang lebih longgar, dengan Bank Indonesia (BI) berada di barisan terdepan dalam mengawali perubahan arah tersebut.

Emas sebagai Cerminan Sentimen Global

Sejak awal tahun, harga emas sudah naik sekitar 70%. Di puncaknya, emas mencetak rekor all–time high di atas USD4.500/oz, menjadikannya salah satu kenaikan tahunan tertinggi setelah lebih dari 4 dekade (1979: +126,6%). Pembelian berkelanjutan dari bank sentral secara global seiring diversifikasi dari USD menjadi faktor utama di balik kenaikan permintaan emas, sejalan dengan strategi mereka untuk mengalihkan sebagian aset dari instrumen berbasis USD ke emas.

Kenaikan harga emas juga dipengaruhi pemangkasan suku bunga, terutama oleh The Fed. Kinerja emas di 2025 menjadi salah satu indikator meningkatnya kehati-hatian investor global di tengah ketidakpastian kebijakan dan geopolitik. 

Selisih Suku Bunga AS vs BI Rate Menyempit, Berdampak ke Rupiah

Bagi investor domestik, dinamika suku bunga dan nilai tukar justru lebih banyak mempengaruhi kinerja obligasi dan saham sepanjang 2025.

  • Sepanjang 2025, Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga dari 6,00% ke 4,75% (-125 bps). Langkah agresif ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Didukung oleh inflasi yang relatif rendah, BI memangkas suku bunga melampaui ekspektasi pasar dan lebih awal dibandingkan The Fed, yang baru mulai menurunkan suku bunga pada September.

  • Sayangnya, kebijakan pemangkasan suku bunga tersebut oleh BI belum sepenuhnya terefleksi dalam percepatan pertumbuhan ekonomi. Padahal, selisih suku bunga antara AS dan Indonesia semakin menyempit, bahkan mencapai sekitar 0,5% pada September 2025. Kondisi ini membuat Rupiah rentan terhadap volatilitas nilai tukar. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, BI kemudian menahan suku bunga dalam beberapa bulan terakhir 2025.

Pelemahan USD Global Berlanjut, Namun USD/IDR Mencapai Level Rp16.870

Meskipun USD secara umum mengalami pelemahan ditunjukkan dengan melemahnya DXY (indeks yang mengukur nilai USD terhadap enam mata uang utama dunia), nilai tukar Rupiah tidak ikut menguat. Sepanjang 2025, Rupiah cenderung bergerak fluktuatif dan melemah -3,65% YoY. Pemangkasan suku bunga secara agresif oleh BI membuat Rupiah sempat menyentuh titik terendah Rp16.870 pada April 2025. Secara rata-rata, nilai tukar Rupiah sepanjang 2025 berada di kisaran Rp16.488 (vs. rata-rata 2024: Rp15.870).

Di tengah pelemahan rupiah, respons pasar terhadap pemangkasan suku bunga belum optimal karena lambatnya transmisi. Namun, outlook perekonomian seiring waktu membaik.

  • Paruh pertama 2025 ditandai oleh sikap wait-and-see dari pelaku ekonomi, dengan pertumbuhan PDB tetap di bawah 5% (1Q25: 4,78%, 1H25: 4,99%) akibat eskalasi perang dagang karena tarif AS dan efisiensi anggaran.

  • Namun pada paruh kedua 2025, khususnya kuartal keempat, tanda–tanda perbaikan ekonomi mulai terlihat melalui pertumbuhan kredit dan indeks keyakinan konsumen (IKK) yang mulai meningkat. Injeksi likuiditas ke sistem perbankan sebesar Rp276 triliun juga mendukung pemulihan ini dan stimulus fiskal lainnya.

Performa 2025: Return Tinggi, Tapi Perjalanannya Tidak Mudah 

Secara tahunan, saham unggul dengan IHSG mencatat kenaikan +22% dan mencetak all-time high baru, obligasi juga mencatat kinerja baik dan menunjukkan tren penguatan dengan return +12%, bahkan sempat mengungguli saham pada paruh pertama tahun.

Shifting Foreign Flow (YTD Cummulative)

per 15 Desember 2025 (Rp triliun)

Meski demikian, perjalanan menuju kinerja tersebut tidak berlangsung mulus dan diiringi dengan volatilitas serta perubahan sentimen pasar. IHSG sempat terkoreksi hingga sekitar -15% dari awal tahun dan menutup semester I 2025 dengan return -2,2%, mencerminkan tingginya volatilitas dan lemahnya sentimen pada paruh pertama tahun, seiring meningkatnya foreign outflow pasar saham yang mencapai puncaknya pada Juli 2025.

Di saat bersamaan, pasar obligasi menunjukkan tren penguatan, didorong oleh siklus pemangkasan suku bunga BI Rate dan peningkatan foreign inflow hingga puncaknya pada Agustus 2025. Obligasi menutup paruh pertama dengan return +5,3%, mengungguli IHSG.

Memasuki semester II-2025, saham mulai kembali unggul sejak September seiring membaiknya sentimen global. Pembalikan tren ini didorong oleh membaiknya sentimen global seiring pemangkasan suku bunga The Fed, serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang menunjukkan arah perbaikan. Pada periode yang sama, yield obligasi pemerintah menyentuh titik terendahnya di Oktober 2025 pada level 5,96%, terendah sejak akhir Desember 2020 dan menjadi kali kedua dalam 10 tahun terakhir yield obligasi Indonesia berada di bawah 6%.

Penurunan yield tersebut mendorong investor asing melakukan profit taking, di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia, khususnya terkait batasan defisit anggaran, otonomi bank sentral, serta potensi pelemahan rupiah. Kondisi ini diiringi dengan pergeseran foreign flow dari pasar obligasi menuju pasar saham yang terus membaik sejak September 2025.

Bonds & Mutual Funds Performance

Performa Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit

Return reksa dana per 30 Desember 2025. Berdasarkan data historis, tidak menjamin

kinerja di masa depan.

Performa Top Reksa Dana Obligasi di Bibit

Return reksa dana per 30 Desember 2025. Berdasarkan data historis, tidak menjamin

kinerja di masa depan.

Performa Top Reksa Dana Saham di Bibit

Return reksa dana per 30 Desember 2025. Berdasarkan data historis, tidak menjamin

kinerja di masa depan.

Performa Obligasi FR dan SBN Retail di Bibit

Pemerintah juga menawarkan obligasi (Obligasi FR dan SBN Retail) dengan yield yang dapat dikunci dengan skema fixed rate dan floating with floor. Beberapa yield produk SBN jangka pendek dan menengah selama 2025 adalah sebagai berikut

*Penawaran SR022 dilakukan pada 16 Mei 2025 sementara BI rate cut 21 Mei 2025

**Penawaran SBR014 dilakukan pada 14 Juli 2025 sementara BI rate cut 18 Juli 2025

Sumber: Bibit, per 30 Desember 2025

Investasi Sekarang

Dari 2025 ke 2026: Apa yang Perlu Dicermati Selanjutnya?

Tahun 2025 merupakan tahun yang baik bagi para investor, meskipun perjalanan diwarnai oleh volatilitas yang cukup tinggi. Pasar obligasi sempat mengalami penurunan dari +2,4% menjadi +0,9% pada bulan April, sementara pasar ekuitas mengalami trading halt sebanyak dua kali (pertama kalinya sejak periode Covid). Meski demikian, keduanya akhirnya menutup tahun dengan mencatatkan salah satu return tahunan terbaik sejak periode Covid.

Memasuki 2026, ketidakpastian pasar masih berpotensi berlanjut. Investor dapat mencermati beberapa faktor utama berikut:

  • Arah kebijakan suku bunga AS, termasuk seberapa besar dan seberapa cepat The Fed menurunkan suku bunga, yang sangat bergantung pada data inflasi dan tenaga kerja.

  • Tren pelemahan nilai USD dan implikasinya terhadap arus dana global.

  • Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

  • Potensi pembalikan kinerja pasar negara berkembang (Emerging Markets) dibandingkan negara maju (Developed Markets).

Proyeksi Makroekonomi dan Market di 2026

Sumber: RAPBN 2026 dan proyeksi berbagai Manajer Investasi (Eastspring Investments, Manulife Aset Manajemen Indonesia, Trimegah AM)

Disclaimer: Data di atas merupakan proyeksi. Tidak menjamin hasil di masa depan dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar.

What To Do in 2026?

Pengalaman 2025 menunjukkan bahwa memiliki strategi saja tidak cukup. Faktor psikologis seperti disiplin, diversifikasi, dan konsistensi menjadi semakin penting, terutama di tengah pasar yang penuh ketidakpastian. Kuncinya adalah untuk menyusun portofolio yang sesuai dengan profil risiko dan tingkat kenyamanan masing-masing, agar tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi pasar yang memicu panic selling ataupun ikut-ikutan tanpa memiliki conviction yang mendasar. 

Investasi Sekarang

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.