Bibit Weekly 9 Desember 2022: Market Fluktuatif Sepanjang 2022, Gimana Pergerakan Aset Investasimu?

Di Bibit Weekly pekan lalu, kita sudah flashback peristiwa ekonomi apa saja yang terjadi selama setahun terakhir. Mulai dari konflik geopolitik Rusia-Ukraina, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok pasca Bank Sentral AS The Fed menaikkan suku bunga, hingga inflasi yang tinggi, dan juga isu resesi. 

Nah, dari semua peristiwa tersebut, bagaimana dampaknya dengan aset investasimu? Yuk kita bahas pengaruhnya terhadap performa berbagai jenis reksa dana dan juga Surat Berharga Negara (SBN) di tahun 2022 ini! 

Reksa Dana Pasar Uang 

Performa 3 Produk RDPU di Bibit Selama di 2022 (year to date)

Data per 8 Desember 2022

*Disclaimer: Pilihan reksa dana hanya untuk tujuan edukasi, bukan rekomendasi jual beli. Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Dari grafik pergerakan RDPU di atas dengan menggunakan fitur “Bandingkan” di aplikasi Bibit, kita bisa melihat bahwa meskipun keadaan market seperti ‘roller coaster’ pada tahun ini, kinerja Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) tetap stabil meningkat. Ini karena RDPU menempatkan asetnya pada produk instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun. 

Nah, aset dalam RDPU seperti deposito memiliki bunga yang sudah ditetapkan di awal dan tidak akan berubah hingga masa jatuh tempo. Itulah sebabnya pergerakan RDPU tidak terlalu dipengaruhi oleh fluktuasi pasar. Jadi RDPU ini cocok untuk kamu yang mau berinvestasi jangka pendek (kurang dari 1 tahun) ataupun investor yang memiliki profil risiko konservatif.

Reksa Dana Obligasi

Performa 2 Produk RDO di Bibit dan Benchmark ICBI Selama di 2022 (year to date)

Data per 8 Desember 2022

*Disclaimer: Pilihan reksa dana hanya untuk tujuan edukasi, bukan rekomendasi jual beli. Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Berdasarkan performa produk Reksa Dana Obligasi (RDO) pada gambar di atas, terlihat bahwa pergerakannya fluktuatif. Ini karena RDO berisikan minimal 80% instrumen obligasi yang bisa diperjualbelikan, sehingga harganya bisa naik atau turun. Oleh karena itu, pergerakan harga reksa dananya juga terefleksikan dari pergerakan harga obligasi.

Kita bisa melihat pergerakan harga obligasi dari grafik Indeks Obligasi Komposit (ICBI) alias indeks Obligasi Indonesia dalam 1 tahun terakhir (garis ungu), di mana harganya sempat mengalami penurunan yang cukup dalam di sekitar bulan April-Mei 2022. 

Harga obligasi ini salah satunya dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga Bank Indonesia (BI). Seperti yang dijelaskan dalam Bibit Weekly pekan lalu, saat Bank Sentral AS The Fed memutuskan untuk mengerek suku bunga secara agresif sebesar 50 bps menjadi 0,75-1% pada Mei 2022 akibat inflasi yang tinggi. Hal ini menyebabkan ekspektasi terhadap suku bunga BI naik.

Sehingga ketika ekspektasi suku bunga BI naik, maka harga obligasi akan turun. Inilah yang tercermin di grafik ICBI maupun grafik performa RDO pada bulan April-Mei 2022.
Namun pada beberapa bulan terakhir menjelang akhir tahun (Oktober-November 2022), harga obligasi kembali menunjukkan kenaikan.

Hal ini karena ekspektasi terhadap suku bunga mulai menurun seiring dengan melandainya inflasi. Dengan demikian harga obligasi naik, sehingga performa RDO pun juga ikut terdorong naik. 

Nah karena pergerakannya cenderung naik-turun, maka RDO bisa menjadi pilihan bagi investor dengan profil risiko moderat ataupun untuk tujuan keuangan jangka menengah (1-5 tahun).

Reksa Dana Saham

Performa 2 Produk RDS di Bibit dan Benchmark IHSG Selama di 2022 (year to date)

Data per 8 Desember 2022

*Disclaimer: Pilihan reksa dana hanya untuk tujuan edukasi, bukan rekomendasi jual beli. Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Dari grafik di atas, ditunjukkan pergerakan Reksa Dana Saham (RDS) yang sangat fluktuatif. Ini karena RDS menempatkan asetnya minimal 80% di saham, sehingga pergerakannya sangat terpengaruh oleh naik-turunnya harga saham yang diperdagangkan setiap hari bursa. Pergerakan harga saham-saham di dalam RDS juga tercermin dari Indeks Harga Gabungan (IHSG) pada grafik di atas dengan garis berwarna ungu.

Di sekitar bulan Mei 2022 pasca Hari Raya Idul Fitri, lagi-lagi dengan adanya kenaikan suku bunga oleh The Fed dan tingginya inflasi menjadi sentimen negatif pasar yang membuat  IHSG anjlok ke level 6.819 pada 10 Mei 2022. Lalu setelah itu, di sekitar Juli 2022 sempat turun karena ada sentimen inflasi tinggi yang terjadi di Indonesia. Selain itu di Oktober 2022, isu resesi global membuat kepanikan di market dan IHSG kembali turun. Namun meskipun IHSG mengalami beberapa kali penurunan, pada akhirnya IHSG akan berangsur naik lagi. 

Jadi tidak mengherankan bahwa pergerakan RDS begitu fluktuatif sepanjang 2022 ini. Sebab ada berbagai rangkaian peristiwa makro ekonomi yang juga berdampak pada pergerakan market. Karena pergerakannya yang sangat fluktuatif inilah yang membuat RDS lebih cocok menjadi pilihan investasi untuk investor dengan profil risiko agresif atau tujuan keuangan jangka panjang (lebih dari 5 tahun). 

Surat Berharga Negara (SBN)

Secara historis, nilai kupon SBN saat pertama kali ditawarkan biasanya lebih tinggi dibandingkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Terlebih untuk tahun ini, BI sudah menaikkan suku bunga sebanyak empat kali dengan total kenaikan sebesar 1,75%, yaitu dari 3,5% menjadi 5,25%. Sebagai gambaran, berikut ini adalah tabel penerbitan SBN sepanjang 2022 beserta nilai kupon dan perbandingannya dengan suku bunga BI saat peluncuran SBN terkait.

SBN yang Diterbitkan Sepanjang 2022

Bagi investor yang berinvestasi pada SBN dengan jenis kupon tetap (fixed rate), tentunya akan memperoleh imbal hasil yang tetap setiap bulannya hingga jatuh tempo meskipun suku bunga acuan naik atau turun. 

Di sisi lain, kenaikan suku bunga akan lebih berpengaruh pada SBN yang memiliki jenis kupon floating with floor atau mengambang dengan batas minimal, seperti Savings Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Tabungan (ST). Sebab dengan skema kupon floating with floor, artinya kupon akan disesuaikan berdasarkan perubahan suku bunga BI setiap 3 bulan sekali dengan batas minimal. Jadi, nilai kupon ini akan naik jika suku bunga BI mengalami kenaikan. Tapi investor tidak perlu khawatir jika suku bunga BI turun, karena nilai kupon tidak akan turun dari batas bawah minimal yang sudah ditentukan. 

Contohnya, SBR011 yang memiliki kupon 5,5% yang diperoleh dari suku bunga BI 3,5% ditambah spread 2%. Lalu pada 11 September 2022 - 10 Desember 2022, nilai kupon SBR011 naik karena suku bunga BI naik dari 3,5% menjadi 3,75%. Sehingga kupon SBR011 menjadi 5,75% yang diperoleh dari 3,75% ditambah spread 2%. 

Kemudian pada periode selanjutnya yaitu 11 Desember 2022 - 10 Maret 2022, nilai kupon SBR011 akan naik lagi karena suku bunga BI per November 2022 berada di 5,25%. Sehingga kupon SBR011 akan menjadi 7,25% (suku bunga BI 5,25% ditambah spread 2%).  

Kesimpulan

Sepanjang 2022 ini, ada banyak peristiwa atau sentimen dari makro ekonomi baik di dalam ataupun luar negeri yang mempengaruhi pergerakan aset investasi. Yang paling terpengaruh antara lain adalah Reksa Dana Obligasi dan Reksa Dana Saham, karena asetnya (obligasi dan saham) yang berfluktuasi. 

Sedangkan pergerakan Reksa Dana Pasar Uang cenderung stabil meningkat, karena asetnya ditempatkan pada produk instrumen pasar uang yang jatuh tempo kurang dari 1 tahun. Di sisi lain, sepanjang 2022 ini, nilai kupon SBN juga terus mengalami kenaikan setiap penerbitannya, mulai dari peluncuran ORI021 hingga ST009. 

Jadi bagaimana dengan perjalanan investasimu tahun ini? Semoga tetap semangat untuk berinvestasi di tahun yang akan datang! Yang paling penting adalah terus konsisten investasi untuk mencapai tujuan keuangan dan sesuaikan pilihan instrumen investasi dengan profil risiko kamu ya! 

Berbicara tentang tahun yang akan datang, gimana nih resolusi buat 2023? Udah set up goal investasi baru atau masih lanjutin dari yang tahun ini? Yuk kita bahas di Bibit Weekly minggu depan ya! Stay tuned!