Market Summary
Eskalasi Geopolitik Terkait Venezuela: Presiden Donald Trump mengonfirmasi serangan militer ke Venezuela serta penangkapan Presiden Nicolás Maduro. → dampak terbatas terhadap harga minyak dalam jangka pendek, namun emas naik karena meningkatnya risiko geopolitik.
Pengalihan Penempatan Dana SAL (Saldo Anggaran Lebih): Menkeu Purbaya mengatakan bahwa pemerintah akan mengalihkan dana penempatan di Himbara sebesar Rp75 triliun. → berpotensi menekan likuiditas jangka pendek.
PMI Manufaktur Indonesia Melandai namun Tetap Ekspansif: PMI manufaktur Desember 2025 turun ke 51,2 dari 53,3 pada November 2025. → menunjukkan perlambatan, namun ditopang permintaan baru yang masih berlanjut.
Market Update: Mengawali 2026, IHSG Menguat +1,17%
|
What Happened in the Market
Presiden AS, Donald Trump, pada Sabtu (3/1) mengonfirmasi serangan militer ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Hal ini memicu kecaman internasional serta kritik dari China dan Rusia atas pelanggaran kedaulatan.
Trump mengatakan AS akan mengelola Venezuela sementara waktu hingga tercapai transisi pemerintahan yang dinilai aman, tepat, dan terukur.
Hasil pertemuan OPEC+ pada Minggu (4/1) menunjukkan kemungkinan akan mempertahankan tingkat produksi minyak tetap stabil, meskipun terdapat ketegangan politik antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab serta perkembangan geopolitik terbaru yang melibatkan Venezuela.
Keputusan ini diambil di tengah penurunan harga minyak lebih dari 18% sepanjang 2025, yang merupakan penurunan tahunan terdalam sejak 2020, akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan global.
Venezuela saat ini memproduksi sekitar satu juta barel minyak per hari, atau sekitar 1% dari pasokan global meski memiliki ~17% cadangan minyak global akibat puluhan tahun mengalami kurangnya investasi, sanksi, serta campur tangan politik di perusahaan minyak negara.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Rabu (31/12) bahwa pemerintah akan mengalihkan dana penempatan di Himbara sebesar Rp75 triliun untuk transfer daerah dan pengeluaran pemerintah.
Purbaya menyebut bahwa pemerintah masih mempertahankan penempatan Rp201 triliun di Himbara.
Purbaya menjelaskan dampak suntikan cadangan kas pemerintah ke dalam sistem perbankan tidak seoptimal yang diharapkan karena kurangnya sinergi kebijakan dengan Bank Indonesia, sembari menambahkan bahwa persoalan tersebut sedang diperbaiki.
S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 51,2 pada Desember 2025 (vs. November 2025: 53,3), namun tetap berada di level ekspansi. Ekspansi ini terutama ditopang oleh kenaikan permintaan baru yang berlanjut di bulan kelima berturut-turut, meskipun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya.
What’s the Impact?
Secara Global: Reaksi pasar relatif tenang merespons ketegangan politik ini. Harga minyak Brent pada perdagangan Senin (5/1) pagi hanya naik +0,5% ke level US$61/b. Harga minyak relatif stabil karena Venezuela tidak memiliki dampak signifikan ke pasokan minyak global dalam jangka pendek, ditambah kemungkinan OPEC+ untuk mempertahankan rencana produksi. Sementara itu, harga emas kembali naik, merespons meningkatnya ketidakpastian global dengan menguat +2,4% ke level US$4.435/oz.
Untuk Indonesia: Pengalihan dana SAL untuk mendukung belanja pemerintah berpotensi mengetatkan likuiditas perbankan dalam jangka pendek. Namun, dampaknya dinilai terbatas karena rasio likuiditas perbankan masih relatif longgar. Dalam jangka menengah, langkah ini justru berpotensi menopang aktivitas ekonomi melalui stimulus fiskal yang mendorong perputaran dana dan peningkatan transaksi di sektor riil. Sementara itu, PMI manufaktur yang masih ekspansif meski melambat menunjukkan permintaan domestik relatif kuat, di tengah pelemahan pesanan ekspor baru dalam empat bulan terakhir.
Why Should I Care?
Secara global, eskalasi geopolitik terkait Venezuela menambah ketidakpastian geopolitik, walaupun reaksi pasar relatif terbatas.
Di Indonesia, perhatian pasar tertuju pada kemampuan kebijakan fiskal dalam menjaga keseimbangan antara likuiditas dan pertumbuhan ekonomi. Stimulus fiskal diharapkan dapat mendorong pertumbuhan riil tanpa menimbulkan tekanan berlebihan pada stabilitas pasar keuangan. Perkembangan ini perlu dicermati karena berpotensi mempengaruhi arah pergerakan obligasi dan saham ke depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
*Return reksa dana per 2 Januari 2026. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Obligasi di Bibit
*Return reksa dana per 2 Januari 2026. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Kinerja Saham Perbankan dalam 5 Tahun Terakhir
Data saham per 2 Januari 2026, memperhitungkan price return dan dividend.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
Other Articles
📜 2025 Macro Recap: Trade War II and New Government Transition – Tahun 2025 membawa ketidakpastian yang lebih tinggi dibandingkan 2024. Dari sisi eksternal, para pelaku pasar ‘kembali’ dikejutkan dengan keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang kembali melakukan perang dagang (trade war) jilid II melalui tarif resiprokal pada awal April 2025.
🦸 2025 Corporate Recap: Conglomerates Saved The Year Again – Tahun 2025 kembali menjadi momentum bagi saham–saham konglomerasi, melanjutkan tren pada 2023 dan 2024. Cek selengkapnya di sini!
📈 Harga Nikel Naik ke Level Tertinggi 9 Bulan – Harga nikel forward 3 bulan di London Metal Exchange naik +5,2% sejak awal pekan ke level US$16.646/ton per 31 Desember 2025 — menandai level mingguan tertinggi dalam 9 bulan terakhir.
