Market Summary
Iran Mengumumkan Selat Hormuz Kembali Ditutup: Selat Hormuz ditutup kembali seiring Iran mengatakan bahwa blokade AS telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. → harga minyak mentah Brent naik +6,8% ke US$96,6/barrel pada Senin (20/4) pagi.
Rilis Data Ekonomi AS: Inflasi CPI AS Maret 2026 +3,3% YoY, sesuai konsensus. → memperkuat posisi Fed untuk menahan suku bunga lebih lama.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 1Q26 oleh BI: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pada Senin (13/4) bahwa pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 1Q26 di kisaran +5–5,2% YoY. → perkiraan ini lebih tinggi dibandingkan realisasi 1Q25 (+4,87% YoY), yang berpotensi disebabkan oleh pergeseran libur Lebaran yang mendukung konsumsi masyarakat.
What Happened in the Market
Menyusul kabar penutupan kembali Selat Hormuz, harga minyak mentah Brent naik +6,8% ke US$96,6/barrel pada Senin (20/4) pagi, setelah ditutup turun -9% ke US$90,4/barrel pada Jumat (17/4).
Iran mengumumkan pada Sabtu (18/4) bahwa Selat Hormuz ditutup kembali, hanya berselang sehari setelah selat tersebut dibuka untuk kapal komersial.
Presiden Donald Trump menjanjikan negosiasi lanjutan antara AS–Iran di Islamabad, sembari mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negosiasi gagal.
Islamic Republic of Iran Broadcasting melaporkan bahwa Iran tidak melihat prospek yang jelas untuk pembicaraan produktif dengan AS, sementara agensi berita IRNA membantah laporan bahwa Iran mengikuti negosiasi lanjutan di Islamabad karena tuntutan AS yang berlebihan dan berlanjutnya blokade militer AS di Teluk Persia.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM mengumumkan kenaikan harga BBM non–subsidi per 18 April 2026 untuk jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex seiring kenaikan harga minyak global akibat gangguan pasokan di Timur Tengah.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data inflasi CPI (Consumer Price Index) AS Maret 2026 sebesar +3,3% YoY (vs Februari 2026: +2,4% YoY), tertinggi sejak Mei 2024, sesuai ekspektasi konsensus.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pada Senin (13/4) bahwa pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 1Q26 di kisaran +5–5,2% YoY.
Destry menambahkan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS belakangan ini bukanlah kasus yang terisolasi, mengingat memburuknya kondisi global dan meningkatnya premi risiko.
Dalam rilis terpisah, Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan ritel pada Maret 2026 akan tumbuh +2,4% YoY dan +9,3% MoM, didorong oleh permintaan masyarakat saat Ramadan dan Idulfitri. Pada Februari 2026, realisasi penjualan ritel tumbuh +6,5% YoY (vs Januari 2026: +5,7% YoY), di bawah perkiraan BI (+6,9% YoY).
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, pada Kamis (16/4) mengeklaim bahwa S&P akan mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di BBB dengan outlook ‘stable’, namun S&P belum mengomentari pernyataan Purbaya tersebut.
Sejumlah emiten telah menggelar RUPST dan menetapkan pembagian dividen final tahun buku 2025. Berikut rinciannya:
*Berdasarkan harga penutupan Jumat, 17 April 2026
Sumber: Stockbit, Informasi Perusahaan.
What’s the Impact?
Secara Global: Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran menyebabkan harga minyak yang sempat turun signifikan pada Jumat (17/4) kembali berbalik naik pada Senin (20/4) pagi, mencerminkan narasi yang dapat berubah setiap saat.
Selain itu, rilis data CPI AS Maret berpotensi memperkuat posisi The Fed untuk menahan suku bunga lebih lama. Berdasarkan data CME Fedwatch Tool per Jumat (17/4), pasar masih memproyeksikan probabilitas ~69% suku bunga akan tetap ditahan di level 3,50-3,75% pada pertemuan Desember 2026.
Untuk Indonesia: Harga minyak yang kini berada di kisaran US$95/barrel masih berpotensi menekan APBN 2026, menimbang level saat ini masih relatif tinggi dibandingkan asumsi APBN 2026 di US$70/barrel.
Tekanan ini juga turut melemahkan rupiah yang ditutup di level 17.190 per Jumat (17/4) atau sekitar -2,9% YtD, menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang terlemah dibanding beberapa negara Asia setelah won Korea Selatan (-2,5%), peso Filipina (-1,8% YtD), dan yen Jepang (-1,5% YtD). Sementara itu, ringgit Malaysia (+2,6%) dan dolar Singapura (+1,0%) menguat dibandingkan dolar AS.
Why Should I Care?
Selama penutupan lalu lintas Selat Hormuz belum terselesaikan dan harga energi tetap tinggi, ruang Fed untuk memangkas suku bunga akan terus terbatas. Hal ini juga membatasi kemampuan Bank Indonesia untuk menurunkan BI Rate lebih lanjut guna menjaga stabilitas rupiah.
Kombinasi harga minyak tinggi dan suku bunga yang belum bisa turun ini berpotensi menekan APBN 2026 serta memunculkan risiko terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi ke depan, yang pada akhirnya dapat menekan performa obligasi, maupun pasar saham. Tekanan ini juga turut menjadi faktor pelemahan Rupiah.
Pekan kemarin menunjukkan cepatnya perkembangan geopolitik dan pasar dapat berubah. Daripada mengikuti narasi yang terus berubah, yang bisa dilakukan investor adalah memastikan alokasi aset portofolio sudah sesuai profil risiko dan tujuan investasi, sehingga tetap bisa tidur tenang meski pasar bergerak cepat. Selain Reksa dana pasar uang Rupiah, Reksa dana pasar uang USD juga dapat menjadi alternatif untuk investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
*Return reksa dana per 17 April 2026.
Reksa dana bertanda petir bisa dicairkan instan.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
🤔 Kenapa Penting Punya Reksa Dana Pasar Uang di Portofolio? – Salah satu solusi sederhana bagi investor yang tidak ingin terus menerus memantau volatilitas market adalah memastikan cash tetap bekerja bahkan saat tidak sedang aktif berinvestasi. Reksa Dana Pasar Uang bisa menjadi pilihan untuk ‘parkir’ cash agar dana bisa tetap tumbuh optimal.
🗓️ SR024 Berakhir, Nantikan SBN Selanjutnya: ST016 Mulai 8 Mei 2026 – Penawaran Sukuk Ritel SR024 sudah berakhir pada 15 April 2026. Pemerintah akan menerbitkan SBN selanjutnya yaitu Sukuk Tabungan seri ST016 bisa dibeli di Bibit pada 8 Mei 2026 mendatang. ST memberikan floating with floor return yang bisa naik tapi anti turun.
Other Articles
🤝 SINI Akan Rights Issue untuk Akuisisi Entitas PTRO – SINI berencana menggelar rights issue hingga 721,5 juta saham baru, dengan harga pelaksanaan dan rasio yang belum diumumkan. Berikut penilaian kami bagi masing–masing emiten yang terlibat.
🤑 AADI Akan Divestasi Aset Coking Coal US$1,2 Miliar; Potensi Dividen Spesial dengan Yield 18% – AADI melalui anak usahanya, Adaro Capital Limited, menandatangani perjanjian untuk mendivestasikan seluruh kepemilikan atas 47,99% saham dan waran di Kestrel Coal Group Pty.
🔍 Pemerintah Revisi Formula HPM Bijih Nikel – Direktur Jenderal di Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan pada Selasa (14/4) bahwa pemerintah telah merevisi formula harga patokan mineral (HPM) untuk bijih nikel dan bauksit.
