Market Summary
Harga Minyak Turun Seiring Kenaikan Supply: Turun sekitar -2% WoW seiring pemulihan ekspor minyak Timur Tengah mencapai 98% dari tingkat sebelum perang. → Tekanan harga energi mereda, meski harga minyak masih bertahan di kisaran US$100/barrel.
NFP AS September di Bawah Ekspektasi: NFP naik +29 ribu (vs. konsensus: +90 ribu). Tingkat pengangguran naik ke 4,2%. → Bersama rilis data PCE di bawah ekspektasi, menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC Oktober 2026.
Inflasi Indonesia Naik ke 3,28% YoY: Didorong kenaikan harga pangan meski masih sejalan ekspektasi konsensus dan target BI. → Konsensus Bloomberg memperkirakan kenaikan BI Rate +25 bps ke 6% hingga akhir 2026.
IHSG Melemah Sepekan Terakhir Seiring Berlanjutnya Foreign Outflow
Latest Update (2/10/2026)
|
What Happened in the Market
Harga minyak Brent turun sekitar -2% WoW ke level ~US$102/barrel pada Jumat (2/10) dan kembali turun -1,9% ke ~US$100/barrel pada Senin (5/10), seiring kabar pemulihan ekspor minyak Timur Tengah yang diperkirakan telah kembali mendekati level sebelum perang.
Bloomberg melaporkan bahwa Arab Saudi telah melanjutkan ekspor via Laut Merah, jalur alternatif selain Selat Hormuz, setelah kembali mengalirkan minyak melalui pipa utama East–West.
JPMorgan memperkirakan rata–rata ekspor minyak mentah selama 10 hari dari Timur Tengah telah kembali naik ke angka 17,5 juta barrel per hari atau 98% dari tingkat sebelum perang.
Pada Minggu (4/10), Reuters melaporkan bahwa OPEC+ sepakat untuk mempertahankan target produksi minyak pada November 2026, sejalan ekspektasi bahwa tidak akan ada perubahan lebih lanjut dalam kebijakan produksi hingga tahun depan.
Biro Analisis Ekonomi AS mencatat inflasi PCE inti AS di level 3% YoY pada Agustus 2026 (vs Juli: 3% YoY), di bawah ekspektasi (3,3% YoY), dan 0,2% MoM (vs Juli: 0,1% MoM, ekspektasi: 0,3% MoM). Meski secara bulanan dan tahunan lebih rendah dari ekspektasi, angka tersebut masih di atas target inflasi 2% yang ditetapkan The Fed.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat non–farm payroll (NFP) AS naik +29 ribu pada September 2026 (vs Agustus 2026: +133 ribu, revisi turun dari +162 ribu), di bawah ekspektasi konsensus (+90 ribu).
Tingkat pengangguran AS naik ke level 4,2% pada September 2026 (vs Agustus 2026: 4,1%), menandai kenaikan pertama sejak Februari 2026.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menyentuh level 5,69% sementara yield untuk tenor 10 tahun sempat menyentuh level 5,34% pada intraday Kamis (1/10), menandai level tertinggi sejak 2002. Menurut Bloomberg, kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran inflasi serta besarnya pasokan obligasi korporasi.
Indeks dolar AS (DXY) menguat +0,95% WoW ke level 101,9 per Jumat (2/10), menguat dua pekan berturut-turut.
Nilai tukar rupiah sempat melemah ke level Rp18.006/US$ pada Selasa (29/9), terendah sejak 4 Agustus 2026, meski ditutup relatif flat secara WoW pada Jumat (2/10).
BPS mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada September 2026 naik ke level 3,28% YoY (vs Agustus 2026: inflasi 3,19% YoY), relatif sejalan dibandingkan ekspektasi konsensus (3,3% YoY) dan target inflasi Bank Indonesia (2,5±1%).
Secara bulanan, inflasi IHK 0,3% MoM pada September 2026 (vs Agustus 2026: inflasi 0,21% MoM), relatif sejalan ekspektasi konsensus (inflasi 0,33% MoM), didorong kenaikan harga pangan.
BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026 (vs Juli 2026: surplus US$0,12 miliar), lebih tinggi dibanding ekspektasi konsensus (surplus US$735 juta).
S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat ke level 52,4 pada September 2026 (vs Agustus 2026: 49,8), menandai ekspansi aktivitas pabrik terkuat sejak Februari 2026.
Berikut rangkuman Konsensus Bloomberg September 2026 terhadap proyeksi ekonomi Indonesia pada 2026:
DPR pada Selasa (29/9) mengesahkan RUU APBN 2027. Sebelumnya, Badan Anggaran DPR telah menyepakati postur RAPBN 2027 dengan target defisit anggaran di 2,4% terhadap PDB, pertumbuhan ekonomi +6% YoY, dan rata–rata inflasi 2,5% YoY.
What’s the Impact?
Secara Global:
Pulihnya ekspor minyak dari Timur Tengah meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Selat Hormuz. Data PCE inti yang lebih rendah dari ekspektasi mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC Oktober, dan penambahan lapangan kerja AS yang di bawah ekspektasi memperkuat pandangan tersebut. Berdasarkan CME FedWatch Tool per Jumat (2/10), probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada FOMC Oktober 2026 turun signifikan menjadi ~22%, dari ~64% sepekan sebelumnya (25/9). Menurut Reuters, ekonom menilai data ini memperkecil peluang kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC Oktober, namun masih memperkirakan kenaikan pada Desember 2026.
Di sisi lain, pasar obligasi AS sempat bergerak berlawanan. Yield AS justru menyentuh level tertinggi sejak 2002 setelah rilis data PCE, menandakan kenaikannya lebih didorong kekhawatiran inflasi dan besarnya pasokan obligasi korporasi dibanding ekspektasi suku bunga The Fed.
Untuk Indonesia:
Yield AS yang sempat mencetak level tertinggi baru memperpanjang tekanan terhadap pasar Indonesia. Kenaikan ini ikut mendorong yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik dan sempat menekan rupiah ke level terendah sejak awal Agustus. Kebutuhan pembiayaan defisit APBN 2027 juga membuat pasar obligasi domestik tetap sensitif terhadap pergerakan yield global.
Dari dalam negeri, inflasi yang naik namun masih dalam rentang target BI sejalan dengan survei ekonom Bloomberg yang merevisi naik proyeksi inflasi 2026. Survei yang sama kini memperkirakan BI menaikkan suku bunga hingga akhir tahun, berubah dari perkiraan sebelumnya bahwa BI Rate akan ditahan. Ekonom juga memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar, yang berpotensi ikut menekan nilai tukar rupiah.
Why Should I Care?
Turunnya harga minyak, inflasi PCE inti AS yang lebih rendah dari ekspektasi, dan penambahan lapangan kerja AS yang di bawah ekspektasi meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Namun, tekanan suku bunga belum sepenuhnya hilang. Ekonom masih memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada Desember, yield AS sempat mencetak level tertinggi baru, dan rupiah sempat menyentuh level terendah sejak awal Agustus sebelum kembali stabil. Di dalam negeri, ekonom juga kini memperkirakan BI ikut menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.
Bagi pasar obligasi, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed belum otomatis menurunkan yield, terlebih dengan ekspektasi kenaikan BI Rate. Karena itu, harga obligasi masih berpotensi bergerak volatil dalam waktu dekat. Bagi pasar saham, berkurangnya probabilitas kenaikan suku bunga The Fed dapat memperbaiki sentimen. Meski demikian, selama yield AS bertahan tinggi, tekanan terhadap aset emerging markets, termasuk saham dan obligasi Indonesia, masih terasa. Hal ini tercermin dari yield obligasi pemerintah Indonesia yang tetap naik sepekan terakhir, meski investor asing masih mencatatkan foreign inflow di pasar obligasi.
Dengan ekspektasi kenaikan BI Rate, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio. Sementara itu, SBN Retail SBR015 dengan skema imbal hasil floating with floor (imbal hasil akan naik jika suku bunga naik) dapat membantu menjaga stabilitas nilai investasi sekaligus memberikan passive income rutin bulanan. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat dipertimbangkan untuk mendiversifikasi eksposur terhadap rupiah.
| Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit | |||||||||||||||
|
|||||||||||||||
|
Return reksa dana per 5 Oktober 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
SBN SBR015: Minimum Return 6,75% p.a., Passive Income Bulanan hingga Jatuh Tempo
Masa penawaran SBN SBR015 hingga 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB
|
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
👫Bibit Insights – What If: Tujuan Finansial Bisa Dicapai Bersama? – Punya tujuan finansial bersama keluarga atau teman bisa dicapai lebih cepat dengan nabung atau investasi bersama secara rutin. Hal ini bisa dilakukan di Aplikasi Bibit menggunakan fitur Bibit Bareng dan System Investment Plan (SIP).
💰Net Return SBN SBR015 Lebih Tinggi 2x dari Deposito – Setelah pajak, net imbal hasil SBR015-T2 lebih tinggi dari dua kali lipat net bunga deposito bank umum yang dijamin LPS. Selisih tersebut bukan hanya dari imbal hasil yang lebih tinggi, tapi juga dari pajak yang lebih rendah.
Other Articles
⚡POWR: From Boring to Booming, Powered by Data Center POWR memasuki fase growth, didorong oleh akselerasi pertumbuhan data center dan pemulihan volume penjualan listrik ke PLN dengan target dividend yield 9% sebagai basis valuasi.
🤑 Pemerintah Lanjutkan Stimulus Ekonomi, Kaji Kenaikan Batas Penghasilan Bebas Pajak – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Rabu (30/9) mengumumkan sejumlah stimulus dan insentif yang akan diberikan oleh pemerintah ke depan
🛢️Harga Minyak Terkoreksi seiring Kenaikan Supply, Rupiah Menguat – Harga minyak Brent turun sekitar -2,6% dan stabil di level ~US$103/barrel per Rabu (30/9) sore seiring kabar pemulihan ekspor minyak yang diperkirakan kembali mendekati level sebelum perang
