Bibit Weekly – Rupiah Ditutup di Level Terlemah Sepanjang Sejarah

Bibit Weekly – Rupiah Ditutup di Level Terlemah

Market Summary

  • Meningkatnya Ketegangan Geopolitik: Presiden AS Trump mengancam kenaikan tarif terhadap delapan negara Eropa hingga AS diizinkan untuk membeli Greenland. Sebelumnya, Trump berencana mengenakan tarif pada negara yang berbisnis dengan Iran. → berpotensi meningkatkan harga komoditas akibat meningkatnya risiko geopolitik. 

  • Nilai Tukar Rupiah Sentuh Level Terlemah Dalam Sejarah: Pelemahan rupiah menyentuh level penutupan terendah didorong oleh kekhawatiran fiskal akibat pelebaran defisit APBN. → berpotensi membatasi ruang pemangkasan suku bunga BI.

  • Outlook Makro: World Bank revisi naik outlook pertumbuhan Indonesia ke +5% pada 2026 (vs. target APBN 2026: +5,4%) didukung stimulus fiskal dan investasi pemerintah. →  perbaikan pertumbuhan ekonomi berpotensi mendorong foreign inflow, tetapi investor perlu memperhatikan aspek daya beli ke depannya.

MARKET UPDATE
IHSG Ditutup di Atas 9.000
Latest Update (15/01/2026)
Latest Week on Week (WoW) Year to Date (YtD)
IHSG 9.075,4 ▲ +1,55% ▲ +4,96%
IDR 10Y Govt Bond Yield 6,25% ▲ +11 bps ▲ +18 bps
Rata-rata bunga deposito 12 bulan 3,65% ▲ +7 bps ▼ -5 bps
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
Foreign Flow 1W Foreign Flow 1M Foreign Flow YtD
Obligasi +3,39 +4,96 +4,96
Saham +4,22 +7,33 +7,33
Sumber: Bloomberg per 15 Januari 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 12 Januari 2026.

What Happened in the Market

  • Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data inflasi CPI AS Desember 2025 2,7% YoY (vs November 2025: 2,7%), sesuai konsensus. Inflasi inti juga naik menjadi 2,6% YoY, sedikit di bawah ekspektasi konsensus (2,7%). 

  • Harga emas di pasar spot naik ke level tertinggi di level ~US$4.690,6/oz pada Senin (19/1) pagi, sebelum ditutup di level US$4.665/oz. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan akan aset safe haven akibat peningkatan ketegangan geopolitik.

  • Presiden AS, Donald Trump, pada Senin (12/1) mengatakan tengah mempertimbangkan opsi intervensi militer di Iran serta rencana tarif 25% bagi negara yang berbisnis dengan Iran. Ketegangan kemudian mereda setelah pernyataannya pada Rabu (14/1) yang menenangkan kekhawatiran pasar terkait potensi aksi militer AS.

  • Presiden Trump pada Sabtu (17/1) melalui akun media sosialnya juga mengatakan akan menaikkan tarif terhadap delapan negara Eropa hingga AS diizinkan membeli Greenland. Tarif impor tambahan sebesar 10% akan berlaku mulai 1 Februari, naik menjadi 25% pada 1 Juni, dan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan pembelian Greenland.

  • Nilai tukar rupiah terhadap USD melemah ke level 16.942 pada Senin (19/1), menandai level penutupan terendah dalam sejarah. Bloomberg melaporkan bahwa pelemahan rupiah belakangan ini didorong oleh kekhawatiran fiskal, dengan APBN 2025 mencetak defisit 2,92% terhadap PDB atau hampir menyentuh batas legal di 3% terhadap PDB.

  • World Bank merevisi naik outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi +5% YoY pada 2025 dan 2026 serta +5,2% YoY pada 2027 (vs estimasi Juni 2025: +4,7% YoY pada 2025, +4,8% YoY pada 2026, dan +5% YoY pada 2027), di bawah target APBN 2026 (+5,4%). World Bank menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan ditopang oleh stimulus fiskal dan peningkatan investasi dari pemerintah.

  • Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan ritel pada Desember 2025 akan tumbuh +4,4% YoY dan +4% MoM, didorong oleh permintaan masyarakat pada Natal dan Tahun Baru. 

    • Pada November 2025 sendiri, penjualan ritel tercatat tumbuh +6,3% YoY dan +1,5% MoM (vs. Oktober 2025: +4,3% YoY, +0,6% MoM), lebih tinggi dibandingkan perkiraan BI di +5,9% YoY dan +1,1% MoM.

What’s the Impact?

Secara Global: Rilis data inflasi CPI AS yang masih relatif tinggi seiring data unemployment rate yang menurun belum cukup kuat untuk mendorong pelonggaran kebijakan, mendukung sikap wait-and-see The Fed. Pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 27–28 Januari 2026, dengan probabilitas suku bunga AS ditahan meningkat menjadi ~97% per Rabu (13/1, vs. 6/1: ~82%) berdasarkan CME FedWatch Tool

Untuk Indonesia: Revisi naik outlook pertumbuhan Indonesia oleh World Bank lebih banyak didorong oleh penguatan belanja pemerintah, bukan oleh ekspektasi pemulihan konsumsi. Meski demikian, outlook yang membaik ini berpotensi menarik foreign inflow ke IHSG

Why Should I Care? 

Dalam sepekan terakhir, harga logam melanjutkan reli, sementara IHSG kembali mencetak rekor all-time high baru pada penutupan Senin (19/1). Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level all-time low. Seperti telah dibahas sebelumnya, pelebaran defisit anggaran yang hampir menyentuh batas legal menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah, meskipun pemerintah menegaskan komitmen untuk tetap berada di bawah batas tersebut.

Ke depan, investor perlu mencermati dinamika pergerakan nilai tukar rupiah sera implikasinya terhadap arah kebijakan moneter domestik dan potensi tekanan inflasi melalui kenaikan harga barang impor (imported inflation). Hal ini mengingat stabilitas rupiah merupakan salah satu mandat utama Bank Indonesia dan menjadi faktor penting dalam menentukan ruang penyesuaian suku bunga, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik. 

Investor juga dapat mencermati aspek daya beli, meskipun beberapa bulan terakhir menunjukkan perbaikan, mengingat revisi naik outlook pertumbuhan Indonesia oleh World Bank lebih banyak didorong oleh penguatan belanja pemerintah. Konsensus Bloomberg memproyeksikan BI masih akan memangkas suku bunga dua kali lagi ke 4,25% pada 2026.

Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit 

Return Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit per 15 Januari 2026

*Return reksa dana per 15 Januari 2026. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. 

Top Reksa Dana Obligasi di Bibit

Return Top Reksa Dana Obligasi di Bibit per 15 Januari 2026

*Return reksa dana per 15 Januari 2026. Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan. 

Kinerja Saham Perbankan dalam 5 Tahun Terakhir

Kinerja Saham BMRI, BBNI per 15 Januari 2026 dalam 5 Tahun Terakhir

Data saham per 15 Januari 2026, memperhitungkan price return dan dividend.

Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Investasi Sekarang

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.


In Case You Missed It

📆 Jadwal Lengkap SBN Terbaru 2026, Bisa Dibeli Mulai 26 Januari – Jadwal SBN Retail 2026 sudah dirilis. SBN pertama yang akan diterbitkan tahun ini adalah Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 pada 26 Januari-19 Februari 2026. 

📝Saat Ada Peristiwa Global Tidak Terduga, Investor Harus Apa? – Market bisa terkoreksi kapan saja. Aset rendah risiko seperti Reksa Dana Pasar Uang bisa menopang stabilitas portofolio dengan kinerjanya yang stabil naik. 

Other Articles 

🏦 Indo Banks: Capturing Momentum Reversal with ~8% Dividend Cushion – Titik terendah kinerja Big 4 Banks telah terlewati dan momentum mulai berbalik positif, membuka peluang pemulihan level valuasi di tengah potensi dividend yield hingga ~8%. Top picks: BBCA dan BMRI.

🌴 Implementasi B50 Ditunda, Bea Ekspor CPO Naik – Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan pada Rabu (14/1) bahwa pemerintah akan mempertahankan mandatori pencampuran biodiesel B40 hingga akhir 2026. Bagi sektor sawit sendiri, dipertahankannya tingkat pencampuran berpotensi mengurangi prospek pertambahan permintaan.
🚗 Melonjak di Desember, Penjualan Mobil 2025 Capai Target Asosiasi– Gaikindo mencatat bahwa wholesale mobil pada Desember 2025 mencapai ~94 ribu unit (+18% YoY, +27% MoM) dan ~804 ribu unit (-7% YoY) selama 2025, setara 103% target yang telah di–downgrade dari Gaikindo di level 780 ribu unit.